Dulu emoji dibuat untuk membantu percakapan terasa lebih hangat. Sekarang, salah pilih emoji atau cuma membalas satu simbol saja kadang sudah cukup bikin orang kepikiran seharian.
Fenomena ini semakin sering muncul dalam komunikasi digital sehari-hari. Ada yang merasa diabaikan karena hanya dibalas βπβ, ada yang menganggap balasan βπβ terdengar dingin, dan ada juga yang langsung merasa suasana berubah hanya karena lawan bicara berhenti memakai emoji seperti biasanya.
Padahal kalau dipikir-pikir, itu semua hanya simbol kecil di layar. Namun anehnya, manusia sekarang bisa membaca banyak emosi dari sesuatu yang bahkan tidak memiliki suara. Komunikasi digital memang perlahan mengubah cara manusia memahami ekspresi. Ketika nada bicara, gestur wajah, dan kontak mata hilang dari percakapan, emoji akhirnya dipakai sebagai pengganti rasa.
Profesor komunikasi digital Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation [2015] menjelaskan bahwa komunikasi lewat layar membuat manusia semakin bergantung pada tanda-tanda kecil untuk membaca emosi lawan bicara. Karena itu, detail sederhana seperti titik, jeda balasan, atau emoji bisa terasa memiliki makna lebih besar dibanding sebelumnya.
Mungkin itu sebabnya balasan chat sekarang terasa jauh lebih sensitif.
Baca Juga: Voice Note 7 Menit Mulai Dianggap Normal, Memangnya Orang yang Dikirimi Sudah Siap Dengerin?
Emoji Kecil Sekarang Bisa Membawa Banyak Arti yang Tidak Selalu Sama
Menariknya, makna emoji sering tidak benar-benar stabil. Emoji yang terasa ramah bagi satu orang bisa dianggap dingin oleh orang lain.
Contohnya emoji βπβ. Sebagian orang melihatnya sebagai tanda setuju yang praktis dan sopan. Namun di media sosial, tidak sedikit yang mulai menganggap emoji itu terasa pasif-agresif, terlalu singkat, atau seperti balasan malas yang ingin cepat mengakhiri percakapan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital sekarang bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga soal interpretasi.
Linguist Gretchen McCulloch dalam Because Internet [2019] menjelaskan bahwa bahasa internet berkembang sangat cepat dan dipengaruhi budaya digital generasi penggunanya. Emoji akhirnya tidak lagi sekadar gambar lucu, tetapi menjadi bagian dari cara manusia menunjukkan nada bicara dan emosi dalam percakapan online.
Akibatnya, banyak orang mulai membaca emoji seperti membaca ekspresi wajah.
Hal itu juga membuat hubungan sosial digital terasa semakin rumit. Kadang seseorang tidak sedang marah, tetapi lawan bicaranya sudah lebih dulu merasa dijauhkan hanya karena balasan chat terlihat terlalu pendek.
Baca Juga: Kerja Tidak Lagi Berhenti di Kantor, Karena Chat Bisa Datang Kapan Saja
Manusia Modern Semakin Terbiasa Membaca Perasaan Lewat Layar
Percakapan digital membuat manusia menghabiskan lebih banyak waktu berkomunikasi tanpa benar-benar bertemu langsung. Dari obrolan kerja sampai hubungan personal, semuanya semakin sering berjalan lewat aplikasi chat.
Karena itu, simbol kecil seperti emoji akhirnya punya peran yang jauh lebih besar dibanding dulu.
Psikolog Dr. Albert Mehrabian pernah menjelaskan bahwa manusia memahami emosi bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari nada dan ekspresi nonverbal. Dalam komunikasi digital, sebagian unsur itu hilang. Akibatnya, emoji dipakai untuk mengisi ruang emosional yang tidak bisa hadir lewat teks biasa.
Masalahnya, tidak semua orang menerjemahkan simbol dengan cara yang sama.
Ada orang yang sengaja memakai banyak emoji agar percakapan terasa hangat. Ada juga yang memang terbiasa singkat tanpa bermaksud dingin. Namun di tengah komunikasi digital yang semakin cepat, manusia sering keburu menafsirkan sesuatu sebelum benar-benar memahaminya.
Mungkin itu sebabnya balasan emoji sekarang bisa terasa lebih sensitif dibanding dulu. Sebab di tengah percakapan yang makin sering terjadi lewat layar, manusia modern perlahan belajar membaca perhatian, kedekatan, dan rasa peduli hanya dari simbol-simbol kecil yang muncul di kolom chat.
Dan mungkin benar juga, masih mending dibalas emoji, daripada cuma di-read doang. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.