Beberapa tahun terakhir, manusia membaca lebih banyak teks daripada sebelumnya. Caption, thread, artikel, chat, notifikasi, sampai jawaban AI terus memenuhi layar hampir tanpa jeda setiap hari.

Namun anehnya, di tengah banjir tulisan itu, semakin banyak orang merasa cepat lelah membaca. Artikel panjang ditinggalkan di tengah jalan. Tulisan terasa mudah dilupakan. Bahkan kadang seseorang selesai membaca sesuatu tanpa benar-benar merasa mendapatkan apa pun selain informasi yang lewat begitu saja.

Padahal kalau diperhatikan lebih jauh, manusia sebenarnya belum berhenti atau menghilangkan minatnya membaca.

Orang masih membaca chat panjang dari seseorang yang mereka sukai. Orang masih bertahan membaca cerita absurd di Reddit sampai selesai. Bahkan banyak yang rela membaca ribuan kata fanfiction, curhat anonim, atau utas media sosial yang terasa hidup dan personal.

Artinya, mungkin masalahnya bukan karena manusia kehilangan perhatian. Bisa jadi manusia hanya semakin cepat merasakan ketika sebuah tulisan terasa tidak benar-benar dihuni oleh siapa pun.

Profesor komunikasi Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation [2015] menjelaskan bahwa manusia modern tetap memiliki kebutuhan besar terhadap koneksi emosional di tengah kehidupan digital. Ketika komunikasi terasa terlalu otomatis atau terlalu dangkal, manusia perlahan mengalami rasa hampa meski informasi terus mengalir tanpa henti. Fenomena itu terasa sangat dekat dengan cara manusia membaca internet hari ini.

Baca Juga: Benarkah Balas Chat Pakai Emoji Saja Sekarang Bisa Dianggap Judes?

AI Bisa Menulis Sangat Rapi, Tapi Manusia Tidak Membaca Hanya untuk Mencari Kalimat yang Sesuai Logika

Kemunculan AI generatif membuat produksi tulisan berubah sangat cepat. Sekarang orang bisa membuat caption, artikel, email, bahkan opini panjang hanya dalam hitungan detik. Struktur tulisan menjadi lebih rapi, tata bahasa lebih aman, dan ritme informasi terasa semakin efisien.

Namun di saat yang sama, muncul rasa asing yang mulai sering dirasakan banyak orang ketika membaca teks digital modern. Kalimatnya benar, susunannya bagus, bahkan kadang terdengar cerdas. Tetapi setelah selesai dibaca, tulisan itu terasa seperti tidak meninggalkan siapa-siapa.

Mungkin karena manusia sebenarnya membaca lebih dari sekadar kata.

Ketika membaca sesuatu, manusia sering mencari jejak kecil yang sulit dijelaskan secara teknis. Ada keraguan, pengalaman, emosi, ketidaksempurnaan, atau rasa hadir yang membuat sebuah tulisan terasa hidup meski tidak selalu paling rapi.

Profesor linguistik Emily M. Bender pernah menjelaskan bahwa model bahasa AI bekerja dengan mengenali pola statistik bahasa, bukan mengalami dunia seperti manusia mengalaminya. Karena itu, AI bisa menghasilkan teks yang sangat meyakinkan tanpa benar-benar memiliki pengalaman emosional di balik kalimat tersebut. Dan mungkin tubuh manusia diam-diam bisa merasakan perbedaan itu lebih cepat daripada yang disadari.

Baca Juga: Voice Note 7 Menit Mulai Dianggap Normal, Memangnya Orang yang Dikirimi Sudah Siap Dengerin?

Manusia Modern Tidak Kekurangan Tulisan, Tapi Mulai Kekurangan Rasa Hadir

Internet sekarang dipenuhi teks yang terus diproduksi tanpa henti. Website mengejar SEO, media sosial mengejar engagement, dan AI membantu manusia menghasilkan tulisan jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Akibatnya, banyak tulisan mulai terasa terlalu aman dan terlalu optimal. Judulnya efektif, kalimatnya mudah dipindai, tetapi ritmenya sering terdengar seperti dibuat untuk semua orang sekaligus tidak benar-benar dekat dengan siapa pun.

Fenomena itu membuat manusia perlahan menjadi lebih selektif secara emosional saat membaca. Orang mungkin tetap membuka banyak artikel, tetapi hanya sedikit yang benar-benar tinggal di kepala setelah layar ditutup.

Di buku The Shallows [2010], Penulis dan pengamat budaya digital Nicholas Carr menyebutkan bahwa kehidupan digital modern membuat manusia semakin terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat dan dangkal. Dalam situasi seperti itu, tulisan yang terasa terlalu generik akan semakin mudah lewat tanpa benar-benar meninggalkan hubungan emosional dengan pembacanya.

Mungkin itu sebabnya sekarang banyak orang lebih betah membaca komentar panjang yang jujur dibanding artikel yang terlalu sempurna. Ada rasa manusia yang kadang muncul justru dari ketidakteraturan kecil, dari pengalaman personal, atau dari cara seseorang bercerita tanpa terdengar seperti sedang mencoba mengoptimalkan apa pun.

Baca Juga: Kerja Tidak Lagi Berhenti di Kantor, Karena Chat Bisa Datang Kapan Saja

Bisa Jadi yang Dicari Manusia Saat Membaca Bukan Informasi, Tapi Kehadiran

Manusia sejak dulu membaca bukan hanya untuk mengetahui sesuatu. Orang membaca surat, novel, catatan harian, atau pesan panjang karena ingin merasa terhubung dengan pikiran manusia lain. Dan mungkin kebutuhan itu sebenarnya belum berubah sampai sekarang.

Di tengah era AI yang semakin mampu menulis dengan cepat dan rapi, manusia mungkin justru menjadi semakin sensitif terhadap rasa hadir di dalam sebuah teks. Bukan sekadar apakah tulisannya informatif, tetapi apakah ada sesuatu yang terasa hidup di balik susunan katanya.

Psikolog dan penulis Esther Perel juga pernah mengelaborasi bahwa manusia tidak hanya mencari komunikasi yang efisien, tetapi juga koneksi emosional yang membuat mereka merasa dilihat dan dipahami. Ketika komunikasi terasa terlalu otomatis, hubungan emosional perlahan ikut menipis meski kata-kata terus diproduksi dalam jumlah besar.

Karena itu, mungkin manusia tak benar-benar lelah membaca. Bisa jadi kita hanya mulai sulit bertahan membaca sesuatu yang terasa terlalu kosong, terlalu aman, dan terlalu jauh dari rasa manusia yang selama ini diam-diam masih kita cari di dalam setiap tulisan. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.