Percakapan tiba-tiba berhenti beberapa detik. Tidak ada yang berbicara. Namun ternyata, diam pun dapat membawa sesuatu yang sedang ingin disampaikan.

Dua orang sedang mengobrol, lalu salah satunya menceritakan sesuatu yang cukup berat. Orang di depannya tidak segera menjawab, tidak memberi nasihat, bahkan tidak buru-buru mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya diam beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan percakapan.

Kita sering merasa perlu mengisi ruang seperti itu. Ketika beberapa detik berlalu tanpa suara, kepala mulai mencari kalimat berikutnya atau bertanya-tanya apakah percakapan sedang bermasalah. Keheningan mudah diterjemahkan sebagai tanda bahwa bahan pembicaraan sudah habis.

Padahal penelitian komunikasi memperlakukan diam sebagai bagian dari interaksi manusia. Maknanya sangat bergantung pada apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya, siapa yang sedang berbicara, serta hubungan di antara mereka. Diam bahkan dapat menandai pergantian topik, keinginan melanjutkan pembicaraan, ataupun ketidaksetujuan.

Baca Juga: Mengapa Komunikasi Lebih Sering Dianggap Keterampilan daripada Ilmu?

Beberapa Detik Diam Bisa Sedang Mengerjakan Sesuatu

Percakapan mempunyai ritme. Kita berbicara, berhenti, memberi kesempatan orang lain merespons, lalu mengambil giliran kembali. Dalam kajian komunikasi, jeda bahkan dibedakan berdasarkan letaknya: ada yang terjadi ketika seseorang masih memegang giliran bicara dan ada yang muncul di antara giliran dua pembicara.

Perbedaan kecil tersebut dapat menghasilkan arti yang berbeda. Seseorang yang berhenti sebentar di tengah kalimat mungkin sedang mencari kata yang tepat, mempertimbangkan bagaimana sesuatu sebaiknya disampaikan, atau memberi kesempatan lawan bicara mengikuti pikirannya. Jadi jeda tidak otomatis menunjukkan seseorang tidak tahu harus berkata apa.

Penelitian Alex B. Van Zant dan koleganya yang terbit pada 2025 bahkan menemukan manfaat dari jeda singkat dalam percakapan kolaboratif. Jeda pendek ketika seseorang berbicara dapat mendorong lawan bicara memberikan respons kecil seperti persetujuan atau tanda bahwa ia mengikuti pembicaraan. Melalui mekanisme tersebut, pembicara dapat dipersepsikan lebih membantu.

Coba bayangkan seseorang sedang menjelaskan persoalan kepada rekannya. Jika ia berbicara terus tanpa memberi celah, lawan bicara hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk menunjukkan bahwa pesan sudah dipahami. Jeda kecil memberi ruang bagi anggukan, "iya", "hmm", atau respons singkat lain yang membuat percakapan benar-benar terasa berlangsung dua arah.

Diam juga dapat menjadi bentuk perhatian ketika seseorang sedang mendengarkan cerita yang membutuhkan waktu. Tidak semua pengalaman membutuhkan tanggapan secepat mungkin. Ada saat ketika menunggu beberapa detik justru memberi kesempatan kepada orang lain menyelesaikan pikirannya tanpa merasa harus segera menyerahkan giliran bicara.

Itu berbeda dengan mendiamkan seseorang untuk menghukum atau mengendalikan hubungan. Diam sebagai ruang mendengarkan dan diam sebagai cara menolak berkomunikasi mempunyai konteks serta konsekuensi yang berbeda. Menyamakan keduanya hanya karena sama-sama tidak menghasilkan suara justru menghilangkan banyak informasi dari sebuah interaksi.

Baca Juga: Tidak Selalu Gagal Berkomunikasi, Kadang Kita Hanya Terlalu Cepat Merasa Sudah Dipahami

Mengapa Diam Bisa Terasa Begitu Canggung?

Masalahnya, kita tidak pernah mendengar arti sebuah keheningan secara langsung. Ketika orang lain diam, kita harus menafsirkannya. Apakah ia sedang berpikir, tersinggung, bosan, tidak setuju, atau sebenarnya hanya tidak merasa perlu menambahkan apa pun?

Ketidakpastian itulah yang membuat keheningan tertentu terasa panjang. Penelitian klasik Margaret McLaughlin dan Michael Cody mengkaji conversational lapse sebagai keheningan selama tiga detik atau lebih yang muncul ketika pergantian giliran bicara sebenarnya memungkinkan. Jeda semacam itu dapat mengganggu aliran percakapan dan mendorong orang mencari cara untuk menghidupkannya kembali.

Riset yang lebih baru menunjukkan perbedaan antara jeda singkat dan keheningan panjang memang penting. Van Zant dan koleganya menemukan bahwa jeda singkat dalam giliran bicara dapat memberikan manfaat dalam percakapan kolaboratif, sedangkan keheningan sekitar tiga detik atau lebih cenderung menghasilkan persepsi yang lebih negatif. Lokasi dan durasi diam ternyata ikut menentukan bagaimana kita membacanya.

Hubungan antara dua orang juga mengubah pengalaman tersebut. Kita mungkin mampu duduk cukup lama tanpa berbicara bersama sahabat atau pasangan tanpa merasa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Sebaliknya, beberapa detik keheningan bersama orang yang baru dikenal dapat membuat kita segera mencari topik tentang cuaca, pekerjaan, atau apa pun agar percakapan kembali bergerak.

Penelitian Helen M. Newman mengenai keheningan dalam interaksi menunjukkan konteks aktivitas ikut memengaruhi bagaimana diam dinilai. Ketika keheningan mempunyai alasan yang terasa wajar dalam kegiatan bersama, percakapan dapat dinilai lebih positif dibandingkan keheningan yang tidak memiliki konteks semacam itu. Artinya, rasa canggung bukan sekadar persoalan berapa detik tidak ada suara.

Karena itu, mungkin kita terlalu cepat memperlakukan diam sebagai lubang yang harus segera ditutup. Dalam percakapan tertentu, diam bisa memberi waktu untuk berpikir, kesempatan untuk mendengar, tanda ketidaksetujuan, ruang bagi emosi, atau sekadar bukti bahwa dua orang tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk mempertahankan hubungan.

Tentu ada keheningan yang memang menandakan masalah. Jika seseorang mendadak diam setelah pertanyaan tertentu, terus menghindari respons, atau menggunakan keheningan untuk menjauhkan diri, konteks tersebut layak diperhatikan. Namun artinya tidak bisa ditentukan hanya dari ketiadaan kata-kata.

Percakapan yang baik barangkali bukan percakapan yang setiap detiknya dipenuhi suara. Ada saat untuk menjawab dan ada saat untuk menunggu beberapa detik sebelum melakukannya. Sebab ketika kata-kata berhenti, komunikasi belum tentu ikut berhenti; terkadang justru di sanalah kita sedang mencoba memahami apa yang sebaiknya dikatakan berikutnya. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi