Pernah ada momen ketika seorang pejabat berdiri di depan publik, menyampaikan penjelasan dengan tenang dan terstruktur.
Ia menjelaskan situasi dengan data, menyusun kalimat dengan rapi, dan menutupnya dengan keyakinan bahwa semuanya sudah disampaikan dengan benar. Namun alih-alih meredakan suasana, pernyataan itu justru memicu reaksi tak terduga.
Bukan karena informasinya keliru, tapi karena cara menyampaikannya terasa jauh. Ada nada yang terdengar dingin, ada jarak yang tidak terjembatani, dan ada perasaan yang tidak tersentuh. Di situlah kita mulai menyadari, bahwa komunikasi bukan hanya soal benar atau salah, tapi juga soal bagaimana ia sampai dan dirasakan.
Dalam beberapa situasi publik, kita sering mendengar kalimat yang sebenarnya masuk akal. Penjelasan disampaikan dengan struktur yang baik, data disebutkan, dan prosedur dijelaskan. Namun reaksi yang muncul justru sebaliknya: geram, kecewa, bahkan marah.
Fenomena ini bukan kebetulan. Ia muncul dari jarak antara apa yang disampaikan dan apa yang dirasakan. Dan jarak itu sering terbentuk dari bahasa yang digunakan.
Baca Juga: ‘Lagi Nggak Kenapa-Kenapa’, Kalimat yang Paling Sering Berdusta?
Ketika Bahasa [Terasa] Jauh dari Realita
Bayangkan sebuah situasi ketika harga kebutuhan pokok naik, dan banyak orang mulai kesulitan. Lalu muncul pernyataan yang mengatakan bahwa kondisi ini masih dalam batas wajar dan masyarakat diharapkan bisa menyesuaikan diri. Secara logika, kalimat itu mungkin benar.
Namun, bagi seseorang yang setiap hari harus menghitung pengeluaran, kalimat itu terasa berbeda. Bukan lagi sebagai penjelasan, tapi sebagai sesuatu yang terasa jauh dari apa yang mereka alami. Di titik itu, bahasa tidak lagi menjembatani, tapi justru menciptakan jarak.
Contoh lain muncul ketika terjadi gangguan layanan publik. Penjelasan teknis disampaikan dengan lengkap, mulai dari penyebab hingga langkah perbaikan. Tapi tidak ada satu kalimat pun yang mengakui ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna.
Yang tersisa bukan pemahaman, tapi rasa diabaikan. Seolah-olah masalah sudah dijelaskan, tapi pengalaman manusia di dalamnya tidak dianggap penting.
Baca Juga: Seni Small Talk yang Tidak Canggung
Kalimat yang Benar, Tapi Tak Enak Didengar
Dalam banyak kasus, masalahnya bukan pada isi pesan. Informasi yang disampaikan bisa saja akurat, bahkan diperlukan. Tapi cara menyampaikannya sering tidak memperhitungkan posisi orang yang mendengar.
Ketika sebuah pernyataan langsung masuk ke penjelasan tanpa membuka ruang empati, ia terasa dingin. Ketika fokusnya hanya pada prosedur, ia terasa kaku. Dan ketika tak ada pengakuan atas apa yang dirasakan publik, ia terasa tidak memahami yang sedang terjadi.
Di sinilah komunikasi mulai kehilangan fungsinya. Bukan karena datanya salah, tapi karena tidak menyentuh sisi yang seharusnya disentuh. Publik tidak hanya membutuhkan penjelasan, tapi juga pengakuan bahwa apa yang mereka rasakan itu nyata.
Dalam komunikasi publik, urutan menjadi penting. Rasa lebih dulu, baru logika. Tanpa itu, pesan yang benar pun bisa terasa menyakitkan.
Baca Juga: Komunikasi Intrapersonal, Dialog Sunyi yang Menentukan Kualitas Diri
Bahasa Membentuk Cara Kita Merasa Diposisikan
Setiap kata yang dipilih membawa makna yang lebih luas dari sekadar arti harfiahnya. Ia menunjukkan posisi, sikap, dan arah komunikasi. Kalimat yang terasa netral di atas kertas bisa terasa berbeda ketika didengar oleh orang yang sedang terdampak.
Ketika bahasa yang digunakan terlalu formal atau terlalu teknis, publik bisa merasa dijauhkan. Ketika kalimat terasa defensif, publik bisa merasa disalahkan. Dan ketika tidak ada ruang untuk empati, publik bisa merasa sendirian dalam situasinya.
Ini bukan soal mempermanis kata, tapi soal memahami bagaimana bahasa bekerja. Komunikasi publik bukan hanya menyampaikan informasi, tapi juga membangun kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dibangun dari data saja.
Mungkin yang perlu dipelajari bukan hanya bagaimana berbicara dengan benar. Tapi bagaimana membuat orang merasa dipahami, bahkan sebelum mereka diminta memahami.
Karena dalam banyak situasi, yang membuat sebuah kalimat terasa menyakitkan bukan isinya. Tapi perasaan bahwa kita tidak ada di dalamnya. [][Eva Evilia/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]