Ada orang yang mampu memahami persoalan dengan sangat baik, tetapi kesulitan menjelaskannya kepada orang lain. Sebaliknya, ada pula yang mampu menyampaikan sesuatu dengan sangat jelas meski pemahamannya tidak selalu sedalam yang dibayangkan. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang terlihat sangat menguasai pekerjaannya, tetapi ketika diminta menjelaskan, penjelasannya justru membuat orang lain semakin bingung?

Sebaliknya, ada pula orang yang mampu menerangkan hal rumit dengan bahasa yang sederhana sehingga siapa pun merasa mudah memahaminya. Padahal, belum tentu ia memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada orang pertama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa memahami dan menjelaskan ternyata merupakan dua kemampuan yang berbeda. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak selalu tumbuh dalam kadar yang sama.

Baca Juga: Diam Tidak Selalu Berarti Setuju, Tidak Juga Selalu Berarti Menolak. Lalu Apa?

Memahami Terjadi di Dalam Pikiran, Menjelaskan Terjadi dalam Proses Berkomunikasi

Memahami berarti membangun hubungan antargagasan di dalam pikiran. Seseorang mampu melihat pola, menemukan hubungan sebab-akibat, dan menyusun konsep menjadi sebuah pemahaman yang utuh. Namun, ketika pemahaman itu harus disampaikan kepada orang lain, otak menjalankan tugas yang berbeda.

Seseorang perlu memilih kata yang tepat, menyusun urutan penjelasan, memperkirakan apa yang sudah diketahui lawan bicara, hingga menyesuaikan bahasa agar mudah dipahami. Semua itu merupakan keterampilan komunikasi yang memerlukan latihan tersendiri.

Psikolog kognitif Steven Pinker, dalam bukunya The Sense of Style [2014], menyebut adanya fenomena yang dikenal sebagai curse of knowledge. Ketika seseorang sudah sangat memahami suatu topik, ia justru dapat kesulitan membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang belum mengetahui hal tersebut. Akibatnya, penjelasan yang diberikan sering kali melompat terlalu jauh atau dipenuhi istilah yang asing bagi pendengarnya.

Karena itulah, orang yang sangat ahli belum tentu otomatis menjadi pengajar atau komunikator yang baik. Mereka memahami persoalannya, tetapi belum tentu terbiasa menerjemahkan pemahaman itu ke dalam bahasa yang sederhana.

Baca Juga: Tidak Selalu Gagal Berkomunikasi, Kadang Kita Hanya Terlalu Cepat Merasa Sudah Dipahami

Menjelaskan dengan Baik Berarti Mampu Masuk ke Cara Berpikir Orang Lain

Kemampuan menjelaskan bukan hanya bergantung pada seberapa banyak informasi yang dimiliki. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan melihat dari sudut pandang pendengar.

Fisikawan peraih Nobel Richard P. Feynman dikenal memiliki cara menjelaskan konsep-konsep ilmiah yang rumit dengan bahasa yang sederhana. Pendekatan yang kemudian populer sebagai Feynman Technique berangkat dari gagasan bahwa seseorang baru benar-benar memahami sebuah konsep ketika ia mampu menjelaskannya dengan kata-kata yang mudah dimengerti.

Bukan berarti semua hal harus disederhanakan hingga kehilangan makna. Justru tantangannya adalah mempertahankan akurasi sambil tetap membuat orang lain mampu mengikuti alur penjelasan.

Dalam komunikasi sehari-hari, kemampuan ini sangat berharga. Seorang dokter perlu menjelaskan diagnosis kepada pasien dengan bahasa yang mudah dipahami. Seorang guru perlu menyesuaikan penjelasannya dengan usia murid. Seorang pemimpin juga perlu menyampaikan arah dan tujuan kepada tim tanpa membuat mereka tenggelam dalam istilah yang rumit.

Memahami dan menjelaskan adalah dua keterampilan yang saling melengkapi. Memahami membuat seseorang memiliki kedalaman berpikir, sedangkan menjelaskan memungkinkan pemahaman itu memberi manfaat bagi orang lain. Sebab, pengetahuan yang hanya tersimpan di dalam kepala akan berhenti sebagai milik pribadi. Baru ketika mampu disampaikan dengan jelas, pengetahuan itu dapat menjadi jembatan yang menghubungkan satu pikiran dengan pikiran yang lain. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.