Dulu kita ingin terlihat lebih muda. Kini kita bicara tentang menua dengan sehat. Keinginannya mungkin tidak banyak berubah, tetapi bahasanya terus berganti.
Ada masa ketika iklan kosmetik tanpa ragu menjanjikan wajah yang terlihat lebih muda. Kerutan adalah sesuatu yang harus dikurangi, kulit kendur perlu dikencangkan, dan tanda usia diposisikan sebagai masalah yang harus dilawan. Kata anti-aging terasa tepat untuk semangat zaman tersebut.
Hari ini, bahasa kecantikan terdengar berbeda. Kita semakin sering bertemu dengan istilah healthy aging, well-aging, pro-aging, hingga skin longevity. Alih-alih berjanji menghentikan usia, produk dan percakapan kecantikan mulai berbicara tentang menjaga fungsi kulit, mempertahankan kualitasnya, dan membantu kulit menua dengan lebih baik.
Tetapi, ada pertanyaan yang menarik di balik pergantian kosakata tersebut. Apakah manusia memang sudah mengubah hubungannya dengan penuaan, atau kita sebenarnya masih menginginkan hal serupa dengan cara mengatakannya yang lebih sesuai dengan zaman?
Baca Juga: Ketika Cantik Tak Lagi Hanya tentang Apa yang Terlihat di Cermin
Keinginan Lama dengan Bahasa yang Terus Berubah
Keinginan mempertahankan penampilan muda jelas bukan fenomena yang lahir bersama media sosial. Bahkan dalam literatur dermatologi modern, pembicaraan mengenai anti-aging telah berlangsung selama puluhan tahun. Pada 2007, dermatolog Dr. Zoe Diana Draelos sudah mempertanyakan makna anti-aging melalui sebuah editorial ilmiah yang secara khusus berjudul What is anti-aging?
Dalam tulisan ilmiah berikutnya, Draelos membahas bagaimana produk cosmeceutical menawarkan manfaat seperti warna kulit yang lebih merata, tekstur lebih baik, peningkatan kilau kulit, serta berkurangnya tampilan kerutan. Ia juga mengingatkan bahwa kategori cosmeceutical sendiri tidak mempunyai definisi yang benar-benar tegas, meskipun produk-produknya banyak menjanjikan perbaikan penampilan.
Di sinilah perubahan bahasa menjadi menarik. Kerutan, kekeringan, elastisitas, pigmentasi, dan tekstur masih menjadi perhatian, tetapi cara membicarakannya semakin bergeser dari perang melawan usia menuju upaya mempertahankan kondisi kulit. Penuaan tidak lagi selalu ditempatkan sebagai musuh, meskipun banyak tanda yang menyertainya tetap ingin diperlambat atau dikurangi.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. juga pernah terlibat dalam kajian ilmiah mengenai efektivitas bahan anti-aging dalam kosmetik. Bersama tim peneliti Universitas Padjadjaran, ia mengulas perubahan kulit akibat penuaan melalui sejumlah parameter, mulai dari elastisitas, kolagen dan ketebalan epidermis hingga kerutan dan kekeringan.
Kajian lain yang melibatkan Cahya menekankan bahwa pembuktian efektivitas sediaan kosmetik anti-aging membutuhkan pengujian yang komprehensif. Ini penting karena apa pun istilah yang digunakan industri, perubahan nama tidak dengan sendirinya mengubah standar pembuktian yang seharusnya menyertai sebuah klaim.
Baca Juga: Apakah Kulit Kita Benar-Benar Membutuhkan Semua Bahan Aktif yang Sedang Populer?
Jika Namanya Berubah, Apakah Janjinya Juga Berubah?
Pergantian dari anti-aging menuju healthy aging atau skin longevity memang dapat mencerminkan perubahan yang lebih substantif. Perhatian terhadap kulit kini tidak harus berhenti pada kerutan yang terlihat. Kesehatan skin barrier, hidrasi, perlindungan terhadap paparan lingkungan, tolerabilitas produk, serta perawatan yang dapat digunakan secara konsisten semakin relevan dalam pembicaraan mengenai kulit yang menua.
Dr. Draelos, misalnya, menunjukkan bahwa produk perawatan kulit yang dipilih dengan tepat dapat mendukung perbaikan skin barrier, sedangkan produk yang terlalu agresif dan menimbulkan iritasi justru perlu dihindari pada kondisi tertentu. Perspektif seperti ini memperlihatkan bahwa merawat kulit tidak identik dengan membuat sebanyak mungkin perubahan visual dalam waktu singkat.
Apt. Cahya membawa persoalan tersebut ke wilayah pengembangan produk. Dalam perspektifnya mengenai metodologi uji klinik kosmetik, inovasi tidak cukup dibangun dari popularitas bahan aktif atau tren klaim, tetapi perlu mempertemukan sains, keamanan, metodologi, dan tanggung jawab. Produk yang terdengar modern tetap membutuhkan dasar pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, istilah baru tidak semestinya langsung dianggap sekadar strategi pemasaran. Pengetahuan mengenai kulit memang berkembang, demikian pula teknologi formulasi dan metode untuk mengevaluasi hasilnya. Yang perlu diperhatikan adalah apakah perubahan bahasa tersebut diikuti perubahan cara produk dikembangkan dan manfaatnya dibuktikan.
Di sisi lain, konsumen juga patut menyadari bahwa kosakata yang lebih ramah tidak otomatis menghilangkan aspirasi lama. Sebotol produk tidak perlu lagi menuliskan “terlihat sepuluh tahun lebih muda” untuk tetap menawarkan berkurangnya garis halus, meningkatnya elastisitas, atau kulit yang tampak lebih segar. Keinginan terhadap penampilan muda dapat tetap hidup di balik bahasa yang kini lebih menerima proses menua.
Barangkali itulah sebabnya anti-aging tidak pernah benar-benar menghilang. Ia berubah mengikuti pengetahuan ilmiah, teknologi kosmetik, nilai sosial, dan cara setiap generasi ingin berbicara tentang usia. Dari “melawan kerutan” menuju “menua dengan baik”, ada perubahan penting, tetapi juga ada keinginan manusia yang terasa sangat familiar.
Persoalannya bukan memilih istilah mana yang paling benar. Pertanyaan yang lebih berguna adalah apa yang sebenarnya dijanjikan di balik istilah tersebut dan seberapa kuat bukti yang menopangnya. Sebab nama boleh berubah berkali-kali, tetapi kulit tetap menua, dan sains tetap diperlukan untuk membedakan perubahan nyata dari sekadar perubahan bahasa. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.