Satu bahan punya manfaat. Bahan lain juga menjanjikan. Lalu muncul pertanyaan yang terdengar masuk akal: mengapa tidak memasukkan semuanya sekaligus?
Kita cukup akrab dengan cara membaca skincare melalui bahan unggulannya. Ada antioksidan, bahan pendukung skin barrier, pencerah, pelembap, prebiotic, hingga berbagai bahan aktif lain yang masing-masing membawa cerita mengenai manfaatnya. Semakin panjang daftar hal baik yang dikenali, semakin mudah muncul kesan bahwa sebuah produk menawarkan lebih banyak untuk kulit.
Logikanya memang terasa sederhana. Jika A baik dan B juga baik, menggabungkan A dan B seharusnya membuat hasilnya semakin baik. Ketika C, D, dan E ikut mempunyai manfaat, kita mungkin bertanya mengapa semuanya tidak sekalian dimasukkan ke dalam satu produk.
Masalahnya, formulasi kosmetik tidak bekerja seperti keranjang belanja. Bahan tidak berdiri sendiri setelah dimasukkan ke dalam sebuah formula. Ia akan bertemu bahan lain, sistem formulasi, pH, pengawet, proses produksi, kemasan, penyimpanan, hingga kondisi biologis kulit ketika produk digunakan.
Bahan yang Baik Tetap Harus Hidup di Dalam Sebuah Formula
Contoh menarik terlihat pada EGCG, senyawa yang banyak dipelajari dari teh hijau. Penelitian Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc. tidak berhenti pada pertanyaan mengenai aktivitas biologis EGCG, tetapi bergerak hingga persoalan stabilitas, ekstraksi, buffer, emulsifier, multiple emulsion, nanoparticle, microemulsion, niosome, sampai pengujian pada manusia. Pertanyaannya bukan lagi hanya apakah EGCG aktif, tetapi bagaimana membuatnya tetap relevan ketika benar-benar menjadi produk yang digunakan pada kulit.
EGCG juga memperlihatkan mengapa 'lebih banyak' tidak otomatis berarti 'lebih baik'. Konsentrasi yang relevan perlu dibaca bersama komposisi ekstrak, kemurnian, target manfaat, sistem formulasi, stabilitas, delivery, keamanan, dan desain penelitian. Angka konsentrasi dari sebuah penelitian karenanya tidak dapat begitu saja diubah menjadi aturan universal untuk seluruh produk skincare.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., sebagai partner penelitian dan hilirisasi Dr. Naniek sekaligus pakar kosmetik dan industri, membawa persoalan tersebut ke realitas formulasi. Sebuah bahan harus berhadapan dengan pH, vehicle, buffer, emulsifier, sistem pengawet, sistem antioksidan, proses produksi, kemasan, dan penyimpanan. Potensi yang ditemukan melalui penelitian masih harus dipertahankan sampai bahan tersebut berada dalam produk jadi.
Di sinilah keinginan memasukkan semua bahan yang terdengar baik perlu dilihat dengan cara berbeda. Persoalannya bukan apakah masing-masing bahan memiliki manfaat, melainkan apa yang terjadi ketika mereka berada bersama dalam sebuah sistem. Formula yang matang bukan sekadar daftar bahan unggulan, tetapi hasil dari banyak keputusan tentang bagaimana bahan-bahan tersebut dapat bekerja dalam kondisi yang memang dirancang untuknya.
Baca Juga: Kerutan di Ujung Mata Muncul Lebih Dulu, Apakah Kulit Kita Menua Lebih Cepat?
Formula yang Baik Tidak Harus Memuat Semua yang Baik
Perspektif Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. mengenai skin microbiome memberi contoh lain. Microbiome-informed skincare tidak harus berarti memasukkan probiotic ke dalam produk. Mendukung skin barrier, mempertahankan hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, menjaga pH yang sesuai, dan menghindari gangguan yang tidak diperlukan juga dapat menjadi bagian dari strategi terhadap ekosistem kulit.
Artinya, sebuah tujuan tidak selalu membutuhkan sebanyak mungkin bahan yang diasosiasikan dengan tujuan tersebut. Strategi formulasi seharusnya mengikuti pertanyaan biologis yang hendak dijawab, bukan sekadar mengikuti tren bahan yang sedang mendapatkan perhatian. Bahkan ketika sebuah bahan mempunyai bukti aktivitas tertentu, bukti tersebut masih menjelaskan bahan, belum otomatis membuktikan kinerja produk akhirnya.
Perbedaan ini mudah terlewat ketika kita berada di depan rak kosmetik. Konsumen melihat nama bahan, persentase, dan klaim, sementara sebagian besar pekerjaan formulasi justru tidak terlihat dari bagian depan kemasan. Stabilitas, kompatibilitas, sistem pengawet, delivery, serta interaksi antar-komponen mungkin terdengar kurang menarik dibandingkan deretan bahan aktif, tetapi semuanya menentukan apakah sebuah gagasan dapat bertahan menjadi produk yang aman dan dapat digunakan.
Perjalanan itu melalui rantai yang jelas: mekanisme, bukti bahan, bukti formulasi, pengujian yang relevan, kemudian klaim yang bertanggung jawab. Sebab ketika bahan masuk ke produk jadi, konsentrasi, interaksi dengan bahan lain, pH, stabilitas, pengawet, delivery, kemasan, dan cara penggunaan dapat mengubah konteksnya. Karena itu, bukti pada bahan tidak otomatis menjadi bukti pada produk jadi.
Maka mungkin pertanyaan ketika melihat sebuah formula tidak perlu selalu “berapa banyak bahan bagus yang ada di dalamnya?”. Kita juga dapat bertanya mengapa bahan itu dipilih, bagaimana ia diformulasikan, dan apakah produk akhirnya mempunyai bukti yang sesuai dengan manfaat yang dijanjikan. Daftar yang lebih panjang belum tentu memberikan jawaban yang lebih meyakinkan.
Produk yang matang bukan produk yang berhasil memasukkan sebanyak mungkin hal baik. Ia justru perlu mengetahui bahan apa yang diperlukan, bagaimana membuatnya bekerja bersama, dan apa yang tidak perlu ditambahkan. Sebab dalam skincare, memilih dengan tepat bisa jauh lebih berarti daripada sekadar memiliki lebih banyak. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.