Kita senang membagi perawatan kulit menjadi baik dan buruk. Ada bahan yang dicari, ada yang dihindari. Padahal kulit mungkin tidak bekerja sesederhana itu.
Satu bahan disebut baik untuk jerawat, bahan lain dianggap bagus untuk skin barrier, sementara produk tertentu dipilih karena diklaim mendukung microbiome. Cara berpikir seperti ini memang memudahkan kita memilih. Kita tinggal mengenali masalah, mencari bahan yang dianggap cocok, lalu berharap kulit memberikan jawaban seperti yang dijanjikan.
Masalahnya, kulit bukan lembar kosong tempat satu bahan bekerja sendirian. Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. dalam pembahasannya di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, mengajak melihat kulit sebagai sistem biologis hidup. Di dalamnya, skin barrier, hidrasi, lipid, respons imun, lingkungan, dan komunitas mikroba terus berinteraksi satu sama lain.
Cara pandang itu terdengar seperti persoalan laboratorium. Namun sebenarnya ia dapat mengubah pertanyaan sederhana yang kita ajukan setiap kali membeli skincare. Bukan lagi hanya “bahan apa yang bagus untuk kulit?”, melainkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kulit ketika bahan tersebut digunakan.
Baca Juga: Kerutan di Ujung Mata Muncul Lebih Dulu, Apakah Kulit Kita Menua Lebih Cepat?
Kulit Tidak Mengenal Pembagian Sesederhana Baik dan Buruk
Ambil contoh skin microbiome. Pembicaraan mengenai mikroorganisme pada kulit sering dengan cepat berubah menjadi cerita tentang “bakteri baik” dan “bakteri jahat”. Pembagian tersebut mudah dipahami, tetapi menurut materi Prof. Keri, ekologi mikroba jauh lebih kompleks daripada dua kategori itu.
Mikroorganisme yang sama dapat berperilaku berbeda bergantung pada strain, lokasi di kulit, kondisi barrier, pH, sebum, imunitas tubuh, hingga lingkungan. Karena itu, keberadaan satu jenis mikroorganisme saja belum cukup untuk menentukan apakah kondisi microbiome seseorang sehat atau bermasalah. Yang lebih penting justru bagaimana komunitas tersebut berfungsi di dalam keseluruhan ekosistem kulit.
Bahkan sesuatu yang sekilas terdengar logis seperti “semakin beragam mikroorganisme, semakin sehat kulit” tidak dapat diterapkan begitu saja. Area kulit yang berminyak, lembap, dan kering secara alami memiliki komposisi komunitas mikroba yang berbeda. Keragaman yang lebih rendah juga tidak otomatis berarti terjadi dysbiosis atau ketidakseimbangan. Di sinilah cara kita memahami skincare mulai terasa berbeda. Kita terbiasa menginginkan jawaban yang tegas karena jawaban semacam itu mudah diterjemahkan menjadi pilihan: gunakan ini, hindari itu, tambahkan bahan ini, hentikan bahan tersebut. Sementara tubuh manusia lebih sering memberikan jawaban berupa “tergantung konteksnya”.
Hal serupa terjadi ketika sebuah bahan mempunyai penelitian yang menjanjikan. Bukti mengenai suatu bahan tetap penting, tetapi bahan tersebut tidak pernah bekerja sendirian setelah menjadi produk. Konsentrasi, pH, sistem pengawet, stabilitas, cara penghantaran, kemasan, bahan lain dalam formula, hingga cara produk digunakan dapat memengaruhi apa yang kemudian terjadi pada kulit.
Baca Juga: Kapan Sebaiknya Menggunakan Retinol?
Bahan yang Bagus Belum Tentu Menceritakan Seluruh Produk
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa pembahasan tersebut ke wilayah formulasi dan pengembangan produk. Ketika sebuah gagasan biologis diterjemahkan menjadi kosmetik, formulator masih harus menghadapi pH, pengawet, stabilitas, kompatibilitas, kemasan, masa simpan, hingga kondisi manufaktur. Sebuah bahan dapat terlihat menarik secara biologis, tetapi belum tentu mempertahankan relevansinya ketika masuk ke dalam formula.
Perbedaan ini penting bagi konsumen karena kita sering mengenal produk justru melalui bahan unggulannya. Ada satu nama besar di bagian depan kemasan, lalu seluruh manfaat produk seolah dapat dijelaskan oleh bahan tersebut. Padahal data tentang bahan baku belum otomatis menjadi bukti mengenai produk jadi.
Materi Prof. Keri dan Cahya menekankan rantai pembuktian yang lebih panjang: dari mekanisme, bukti bahan, bukti formulasi, pengujian yang relevan, baru kemudian klaim yang bertanggung jawab. Jika sebuah bahan mempunyai penelitian terkait microbiome, misalnya, itu belum dengan sendirinya membuktikan produk akhirnya memberikan manfaat yang sama. Produk jadi membutuhkan bukti yang memang relevan terhadap klaim produk tersebut.
Hal menarik lainnya, memahami microbiome ternyata juga tidak otomatis berarti kita membutuhkan produk yang mengandung probiotic. Pendekatannya dapat berupa menjaga barrier, mempertahankan hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, menjaga pH yang sesuai, atau menghindari gangguan yang tidak diperlukan. Dengan kata lain, memikirkan ekosistem kulit jauh lebih luas daripada sekadar mencari satu bahan berlabel microbiome.
Mungkin ini pula yang membuat perkembangan ilmu kulit terasa sedikit paradoks. Semakin banyak yang diketahui, semakin sulit kita memberikan jawaban yang sangat sederhana. Namun justru di sanalah pengetahuan menjadi berguna karena ia mencegah kita terlalu cepat mengubah satu temuan menjadi kesimpulan untuk semua orang.
Kulit berbeda menurut usia, lingkungan, gaya hidup, kondisi barrier, bagian tubuh, kondisi kesehatan, dan biologi masing-masing individu. Materi Prof. Keri bahkan mengingatkan bahwa belum ada dasar untuk menganggap terdapat satu komposisi microbiome ideal yang berlaku bagi semua orang. Membaca kulit berarti membaca konteksnya, bukan sekadar mencocokkannya dengan satu ukuran universal. Maka mungkin kita tidak perlu berhenti mencari bahan yang baik. Bahan tetap penting, begitu pula penelitian yang mendukungnya. Yang perlu berubah adalah kebiasaan menganggap satu bahan dapat menceritakan seluruh keadaan kulit.
Sebab kulit tidak hidup dari satu bahan aktif, satu jenis mikroorganisme, atau satu produk yang sedang kita gunakan. Ia hidup melalui hubungan antara barrier, hidrasi, lipid, imunitas, mikroorganisme, lingkungan, formula, dan tubuh yang menaunginya.
Dan ketika kulit mulai dipahami sebagai sebuah ekosistem, mungkin pertanyaan kita pun perlu ikut berubah. Bukan hanya “apa yang harus saya tambahkan?”, tetapi juga “apa yang sedang dibutuhkan kulit, dan apakah saya benar-benar perlu mengubahnya?” [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.