Garis kecil di ujung mata kadang muncul bahkan ketika wajah masih terlihat muda. Apakah itu berarti kulit sedang mengalami penuaan lebih cepat?

Cobalah tersenyum lebar di depan cermin. Beberapa garis mungkin langsung muncul dari sudut luar mata menuju pelipis, kemudian sebagian besar menghilang ketika wajah kembali rileks. Garis yang sering disebut crow’s feet itu ternyata tidak selalu menunggu usia tua untuk hadir.

Penelitian anatomi pada 184 orang sehat berusia 18–24 tahun bahkan menemukan pola kerutan dinamis sudah terlihat di berbagai bagian sekitar mata ketika mereka melakukan gerakan ekspresi. Di bagian lateral, pola yang paling umum berbentuk gelombang radial dari sudut mata menuju ujung lateral alis. Miniatur pola menyerupai crow’s feet juga ditemukan pada kelompok usia muda tersebut.

Maka menemukan garis di ujung mata ketika tersenyum tidak otomatis berarti kulit mengalami penuaan dini. Area tersebut memang berada di persimpangan antara kulit, struktur wajah, dan otot yang terus bekerja setiap kali kita tersenyum atau menyipitkan mata. Pertanyaan yang lebih menarik justru mengapa garis yang awalnya hanya mengikuti ekspresi dapat menjadi semakin jelas seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: Kapan Sebaiknya Menggunakan Retinol?

Wajah Bergerak, Kulit Mengikutinya

Salah satu pemain utamanya adalah otot orbicularis oculi yang mengelilingi mata. Kontraksi serat otot tersebut berperan penting membentuk garis radial di sudut mata, sementara gerakan otot wajah lainnya juga dapat membuat garis semakin terlihat. Pada wajah yang lebih tua, perubahan kulit dan struktur di sekitar alis ikut berkontribusi terhadap tampilannya.

Inilah yang membedakan kerutan dinamis dengan kerutan statis. Kerutan dinamis terutama terlihat ketika wajah bergerak, misalnya saat tertawa atau menyipitkan mata, sedangkan kerutan statis tetap dapat terlihat ketika wajah sedang rileks. Dalam praktik klinis bahkan telah dikembangkan skala berbeda untuk menilai crow’s feet dinamis dan statis.

Jadi tersenyum bukan kebiasaan buruk yang perlu dihentikan demi menjaga wajah bebas garis. Ekspresi merupakan pekerjaan normal otot wajah. Persoalannya adalah bagaimana kulit yang berada di atas struktur tersebut berubah sepanjang waktu.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. bersama koleganya dalam kajian mengenai kosmetik anti-aging menjelaskan bahwa proses penuaan kulit dapat melibatkan hilangnya elastisitas, degenerasi serat elastis, berkurangnya kandungan kolagen dan ketebalan epidermis, meningkatnya kerutan, serta kulit yang semakin kering. Dengan kata lain, garis yang kita lihat merupakan bagian dari perubahan struktur kulit yang lebih kompleks daripada sekadar akibat wajah terlalu sering bergerak.

Kajian terbaru mengenai penuaan di sekitar mata juga menunjukkan proses tersebut bersifat multifaktorial. Genetik, lingkungan, gaya hidup, perubahan kulit, lemak, otot, fascia, dan struktur pendukung wajah dapat ikut membentuk penampilan area mata seiring bertambahnya usia. Polanya pun tidak identik pada setiap orang.

Karena itu, dua orang dengan usia yang sama tidak harus mempunyai crow’s feet dengan kedalaman yang sama. Wajah bukan kalender yang dapat dibaca hanya dari satu garis. Apa yang terlihat di ujung mata merupakan hasil pertemuan banyak faktor yang berkembang sepanjang kehidupan.

Baca Juga: Anti-Aging Tak Pernah Benar-Benar Hilang, Ia Hanya Berganti Nama

Kalau Begitu, Bisakah Kerutan di Ujung Mata Dicegah?

Pertanyaan tersebut mungkin lebih tepat diubah menjadi “seberapa jauh penampilannya dapat dipengaruhi?” Sebab sebagian proses penuaan memang berlangsung secara intrinsik, sementara sebagian lainnya dipengaruhi faktor eksternal. Tujuan realistis perawatan kulit bukan membuat wajah tidak pernah membentuk garis.

Produk kosmetik dapat diarahkan untuk membantu aspek tertentu seperti hidrasi, elastisitas, atau penampilan kerutan. Namun Cahya bersama peneliti Universitas Padjadjaran lainnya mengingatkan melalui kajian mengenai pengujian kosmetik anti-aging bahwa efektivitas produk perlu dibuktikan secara komprehensif. Klaim bahan aktif atau tulisan “anti-aging” pada kemasan saja tidak cukup untuk menunjukkan seberapa besar perubahan yang benar-benar terjadi pada kulit.

Hal tersebut menjadi penting karena area ujung mata sering menjadi sasaran produk dengan janji yang besar. Bahkan penelitian kosmetik kini mengembangkan metode khusus untuk membedakan perubahan garis statis dan dinamis sehingga efek suatu formula dapat dinilai dengan lebih terukur. Sebuah penelitian 2026, misalnya, menggunakan berbagai pengukuran hidrasi, elastisitas, serta penilaian garis statis dan dinamis untuk mengevaluasi formula topikal pada area crow’s feet.

Untuk kerutan dinamis yang lebih nyata, dunia dermatologi juga mempunyai intervensi klinis. American Academy of Dermatology [AAD] menjelaskan bahwa terapi toksin botulinum digunakan dokter kulit antara lain untuk mengurangi crow’s feet dengan merelaksasi otot tertentu untuk sementara. Hasilnya bukan permanen; AAD menyebut perbaikannya umumnya bertahan sekitar tiga hingga empat bulan, terkadang lebih lama.

Akan tetapi tidak setiap garis kecil membutuhkan intervensi. Studi terhadap orang dewasa muda tadi justru menunjukkan bahwa pola kerutan dinamis dapat muncul sejak usia 18–24 tahun pada wajah sehat. Keberadaannya ketika berekspresi karena itu tidak dapat sendirian dijadikan tanda bahwa seseorang ‘menua terlalu cepat’.

Mungkin yang membuat crow’s feet terasa berbeda adalah lokasinya. Kita melihatnya setiap kali bercermin, terutama ketika mulai membandingkan foto sekarang dengan foto beberapa tahun lalu. Garis yang dahulu hanya muncul ketika tertawa perlahan mungkin terlihat lebih lama, lalu suatu hari kita menyadarinya bahkan ketika wajah sedang diam.

Perubahan itu memang dapat menjadi bagian dari penuaan kulit, tetapi umur bukan satu-satunya cerita yang tertulis di sana. Ada struktur wajah, genetika, lingkungan, kondisi kulit, dan ribuan ekspresi yang pernah dilakukan otot di sekitarnya. Garis di ujung mata adalah hasil pertemuan semuanya.

Maka merawat area mata tidak perlu dimulai dari keinginan membuat wajah berhenti menunjukkan usia atau ekspresi. Yang lebih masuk akal adalah menjaga kondisi kulit, bersikap kritis terhadap klaim kosmetik, dan memahami bahwa garis dinamis berbeda dengan perubahan kulit yang menetap. Sebab wajah memang akan bergerak selama kita masih tersenyum, menyipit, tertawa, dan bereaksi terhadap dunia di sekitar kita. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.