Kopi wine sering terdengar asing, meski aromanya kerap mencuri perhatian. Namanya mengundang rasa penasaran, rasanya menyimpan cerita panjang.
Belakangan ini, kopi wine semakin mudah ditemukan di kedai kopi maupun etalase penjual biji kopi. Aromanya kerap digambarkan manis, asam buahnya menonjol, dan terasa berbeda dari kopi pada umumnya. Namun, tak sedikit yang mengira kopi ini dicampur anggur atau difermentasi dengan alkohol.
Anggapan tersebut wajar, mengingat kata wine memang lekat dengan minuman beralkohol. Padahal, kopi wine sama sekali tidak mengandung anggur maupun alkohol tambahan. Istilah ini merujuk pada karakter rasa yang muncul dari proses pascapanen tertentu.
Di balik secangkir kopi wine, ada proses panjang yang melibatkan waktu, ketelitian, dan pemahaman terhadap fermentasi alami. Inilah yang membuat kopi ini menarik untuk dibicarakan, bukan hanya sebagai tren, tetapi sebagai hasil dari teknik pengolahan yang spesifik.
Baca Juga: Musim Rambutan T’lah Tiba: Ragam Sajian yang Bisa Dinikmati
Apa Itu Kopi Wine dan Bagaimana Prosesnya
Kopi wine adalah sebutan untuk kopi yang diproses dengan fermentasi lebih lama dari kopi biasa. Umumnya, metode yang digunakan adalah natural process atau fermentasi kering, yaitu buah kopi dikeringkan bersama kulit dan daging buahnya. Selama proses ini, gula alami dalam buah kopi mengalami fermentasi.
Fermentasi tersebut memicu reaksi kimia yang membentuk aroma dan rasa khas. Prosesnya bisa berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu, tergantung kondisi cuaca dan teknik yang digunakan. Inilah yang membuat kopi wine memiliki profil rasa yang lebih kompleks.
Meski disebut wine, kopi ini tidak memabukkan. Alkohol yang mungkin terbentuk selama fermentasi akan menguap saat proses pengeringan dan sangrai. Yang tersisa hanyalah karakter rasa yang unik dan berbeda dari kopi hasil proses basah atau washed.
Baca Juga: Papeda dan Cara Timur Indonesia Memaknai Makanan Pokok
Cita Rasa Kopi Wine yang Membekas di Lidah
Salah satu ciri paling menonjol dari kopi wine adalah aroma buah yang kuat. Banyak orang mencium wangi beri, anggur, atau buah tropis begitu kopi diseduh. Asamnya terasa cerah, tetapi tidak menusuk, sering kali diimbangi dengan sensasi manis alami.
Di lidah, kopi wine cenderung terasa lebih bold dan berlapis. Ada rasa manis menyerupai fermented fruit, kadang disertai sentuhan cokelat atau rempah ringan. Karakter ini membuatnya digemari oleh penikmat kopi yang suka eksplorasi rasa.
Namun, kopi wine bukan untuk semua orang. Bagi sebagian penikmat kopi klasik, rasanya bisa terasa terlalu ekstrem atau tidak lazim. Justru di sinilah daya tariknya, kopi ini membuka pengalaman baru tentang bagaimana satu biji kopi bisa menghadirkan cerita rasa yang berbeda.
Kopi wine mengajarkan bahwa kopi bukan sekadar soal pahit dan kafein. Ia adalah hasil dialog antara alam dan manusia, antara waktu dan kesabaran. Dalam setiap tegukan, ada jejak fermentasi yang dibiarkan berjalan alami, menghasilkan karakter yang tak bisa ditiru secara instan. Bagaimana? Anda tertarik menyesapnya? [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]