Ada rasa yang tidak pernah benar-benar pergi. Terutama ketika berasal dari dapur Sumatra Utara.

Kuliner Sumatra Utara selalu memiliki daya tarik yang susah dijelaskan. Bumbunya kuat, aromanya pekat, dan karakter rasanya begitu berani hingga membuat siapa pun yang pernah menikmati akan terus mengingatnya. Setiap hidangan seolah membawa pulang suasana rumah, petualangan perjalanan, dan kehangatan pertemuan keluarga.

Makanan-makanan halal dari Medan sampai Tapanuli bukan hanya menu sehari-hari, melainkan bagian dari identitas. Setiap daerah punya kebanggaan tersendiri, baik pada cara memasak, jenis bumbu, hingga cara penyajiannya. Tidak heran jika banyak orang mendapati diri mereka rindu pada satu hidangan tertentu, bahkan setelah bertahun-tahun pergi dari kampung halaman.

Bayangkan aroma pedas segar sambal andaliman yang langsung membangunkan indera, lembutnya ikan dari Danau Toba, atau hangatnya kuah rempah yang membelai lidah. Kuliner Sumatra Utara memang seperti itu: hadir dengan karakter kuat sekaligus mengundang kerinduan.

Baca Juga: Akar Wangi, Si Penahan Erosi dan Mengurangi Risiko Longsor

Aroma Pedas, Gurih, dan Segar yang Sulit Dilupakan

Sulit rasanya memulai tanpa menyebut arsik ikan mas. Hidangan ini memiliki kuah kuning kaya rempah yang dimasak perlahan hingga meresap ke dalam daging ikan. Perpaduan andaliman, lengkuas, bawang, dan rias menghadirkan aroma tajam dan rasa gurih pedas yang khas. Setiap suapan seperti membawa ingatan pada rumah di tanah Batak.

Berikutnya ada dali ni horbo, olahan susu kerbau yang dimasak hingga padat menyerupai keju tradisional. Teksturnya lembut, rasanya sedikit asin, dan biasanya dinikmati bersama sambal tomat atau daun ubi tumbuk. Kelezatan sederhana ini sering menjadi alasan banyak orang sengaja pulang hanya untuk mencicipinya kembali.

Tentu saja, sambal andaliman adalah bintang yang tak bisa dilewatkan. Pedasnya unik, memberikan sensasi bergetar halus di lidah. Sambal ini kerap hadir bersama ayam, ikan, hingga mie gomak. Tak berlebihan bila disebut sebagai “rasa yang membuat seseorang kembali pada Sumatra Utara”.

Baca Juga: Overshared di Media Sosial: Batas Tipis antara Berbagi dan Terlalu Membuka Diri

Hangat, Mengenyangkan, dan Penuh Cita Rasa Rumahan

Di sisi yang lebih lembut, ada sayur daun ubi tumbuk. Daun singkong yang ditumbuk halus lalu dimasak dengan santan, serai, dan andaliman menghadirkan rasa hangat rumahan yang menenangkan. Banyak orang merasa hidangan inilah yang membuat mereka merasa ‘dipeluk’ kampung halaman.

Kemudian hadir lemang, beras ketan dan santan yang dimasak dalam bambu. Aromanya berasal dari daun pisang yang melapisi bagian dalam bambu, menghasilkan cita rasa legit dan gurih yang begitu memanjakan. Lemang semakin nikmat bila dinikmati bersama serundeng atau kari daging.

Untuk kudapan manis, lapet dan ombus-ombus menjadi pasangan yang sulit ditolak. Keduanya terbuat dari ketan dan gula merah, dibungkus daun pisang yang memberikan aroma harum begitu dibuka. Hangat, manis, dan mengenyangkan—sempurna untuk pagi mendung atau sore santai.

Dan tentu saja, tidak lengkap tanpa mie gomak. Disebut ‘spaghetti Batak’, mie tebal ini disajikan dengan kuah bumbu andaliman atau bumbu kacang. Aromanya saja sudah cukup membuat perut berbunyi. Setiap suapan memberikan rasa pedas dan gurih yang memanjakan sekaligus menggugah rindu.

Kuliner Sumatra Utara selalu menggandeng perasaan. Ia kuat, ia hangat, dan ia selalu punya cara untuk mengajak seseorang kembali—meski hanya lewat satu lauk yang membangkitkan kenangan. [][Eva Evilia/KK]

[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]