Sekilas terlihat sama. Bentuknya mirip, kuahnya pun serupa. Namun, bagi yang terbiasa mencicipi, perbedaannya terasa sejak gigitan pertama.
Pempek selama ini identik dengan Palembang. Kota di tepi Sungai Musi itu memang dikenal sebagai rumah besar hidangan berbahan dasar ikan dan sagu tersebut. Tapi di Lampung, pempek juga tumbuh dan berkembang dengan karakter yang sedikit berbeda.
Perbedaan ini bukan soal siapa yang paling otentik. Ia lebih merupakan hasil adaptasi rasa, bahan baku, dan kebiasaan masyarakat setempat.
Komposisi Ikan dan Tekstur Adonan
Pempek Palembang umumnya menggunakan ikan tenggiri sebagai bahan utama. Ikan ini memberi rasa gurih yang kuat dan aroma khas laut yang lebih tegas. Teksturnya cenderung kenyal, padat, dan terasa lebih ‘berisi’.
Sementara itu, pempek Lampung lebih fleksibel dalam penggunaan ikan. Selain tenggiri, beberapa perajin menggunakan campuran ikan lain yang lebih mudah didapat di wilayah tersebut. Hasilnya, tekstur pempek Lampung sering terasa sedikit lebih lembut dan ringan.
Perbandingan antara ikan dan tepung juga memengaruhi karakter akhir. Pempek Palembang biasanya mempertahankan kadar ikan yang dominan untuk menjaga cita rasa kuat. Di Lampung, takaran bisa sedikit berbeda menyesuaikan selera lokal dan harga bahan baku.
Baca Juga: Gulai Taboh, Jejak Rasa Lampung yang Menjadi Warisan
Cuko dan Karakter Rasa
Perbedaan paling terasa sering kali terletak pada kuah cuko. Cuko Palembang dikenal lebih pekat, dengan rasa asam, manis, dan pedas yang tajam. Gula aren dan cuka memberi sensasi kontras yang kuat.
Cuko Lampung cenderung sedikit lebih ringan. Tingkat keasaman dan kepedasannya tidak selalu setajam versi Palembang. Beberapa penjual juga menyesuaikan rasa agar lebih ramah bagi lidah yang tidak terbiasa dengan rasa ekstrem.
Selain itu, variasi pelengkap seperti mie kuning, timun, dan ebi juga bisa berbeda dalam takaran dan penyajian.
Baca Juga: Makanan Hangat yang Membantu Tubuh dan Pikiran Lebih Tenang
Adaptasi dan Identitas Lokal
Lampung memiliki kedekatan geografis dengan Sumatra Selatan, sehingga wajar jika tradisi pempek ikut terbawa melalui jalur migrasi dan perdagangan. Seiring waktu, pempek di Lampung tak lagi sekadar meniru, tetapi beradaptasi dengan bahan dan selera masyarakatnya.
Inilah yang membuat pempek Lampung memiliki identitas tersendiri. Ia tetap berada dalam keluarga besar pempek, tetapi dengan penyesuaian rasa yang membuatnya terasa akrab bagi warga setempat.
Perbedaan antara pempek Palembang dan pempek Lampung bukan soal mana yang lebih baik. Ia lebih seperti dua dialek dalam bahasa yang sama. Bahan dasarnya serupa, tetapi intonasi dan tekanannya berbeda.
Bagi penikmat kuliner, mencicipi keduanya justru memberi pengalaman yang lebih kaya. Dalam setiap gigitan, ada cerita tentang perjalanan rasa dari satu daerah ke daerah lain. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]