Belakangan ini, hidup sederhana mulai sering dibicarakan. Banyak orang mencoba mengurangi hal yang tidak perlu, membeli seperlunya, dan menjalani hari dengan ritme yang lebih tenang. Di permukaan, semua terlihat seperti langkah yang masuk akal.
Namun ketika dijalani, prosesnya tidak selalu terasa ringan. Ada jeda-jeda kecil yang terasa aneh, seperti kehilangan sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa. Dari sini, muncul perasaan bahwa hidup sederhana tidak sesederhana yang dibayangkan.
Banyak orang mulai menyadari bahwa keinginan untuk hidup lebih sederhana tidak hanya berhadapan dengan kebiasaan pribadi. Ia juga berhadapan dengan lingkungan yang terus mendorong ke arah sebaliknya. Dari sini, pilihan menjadi lebih kompleks.
Apa yang terlihat seperti keputusan pribadi, sering kali dipengaruhi oleh hal-hal di luar diri. Dari cara orang lain hidup, hingga apa yang terus muncul di layar setiap hari, semuanya ikut membentuk arah yang diambil.
Baca Juga: Kita Belanja Banyak Hal, Tapi Kenapa Tetap Ngerasa Kurang?
Antara Keinginan Mengurangi, dan Dorongan untuk Menambah
Dalam banyak situasi, hidup sederhana dimulai dari kesadaran. Ada keinginan untuk mengurangi hal-hal yang terasa berlebihan, baik dalam bentuk barang, aktivitas, maupun ekspektasi. Namun di saat yang sama, dorongan untuk menambah tidak pernah benar-benar berhenti.
Media sosial, iklan, dan lingkungan sosial terus menghadirkan hal-hal baru yang terlihat menarik. Apa yang sebelumnya tidak terasa penting, perlahan menjadi sesuatu yang ingin dimiliki. Dari sini, proses mengurangi sering terasa seperti melawan arus yang tidak terlihat.
Psikolog Barry Schwartz dalam The Paradox of Choice menjelaskan bahwa banyaknya pilihan justru membuat seseorang merasa kurang puas. Dalam konteks ini, hidup sederhana bukan hanya soal mengurangi, tetapi juga menghadapi banyaknya kemungkinan yang terus muncul.
Di titik ini, keputusan untuk hidup sederhana bukan lagi soal memilih lebih sedikit. Tapi tentang terus-menerus memilih di tengah banyaknya pilihan yang tidak berhenti.
Ketika proses ini berlangsung terus-menerus, kelelahan bisa muncul tanpa disadari. Bukan karena terlalu banyak melakukan sesuatu, tetapi karena terlalu sering harus memutuskan.
Baca Juga: Gaya Hidup dan Konsumsi, Kita Membutuhkan atau Sekadar Mengikuti?
Sederhana yang Tidak Selalu Sepi
Ada anggapan bahwa hidup sederhana berarti hidup dengan lebih sedikit hal. Namun dalam praktiknya, sederhana tidak selalu berarti kosong atau sepi. Ia bisa tetap penuh, hanya dengan bentuk yang berbeda.
Yang sering terjadi, seseorang mencoba mengurangi hal-hal di luar, tapi belum tentu selesai dengan hal-hal di dalam. Keinginan, perbandingan, dan ekspektasi tetap ada, meskipun jumlah barang sudah berkurang. Dari sini, sederhana menjadi proses yang lebih dalam dari sekadar pengurangan.
Sosiolog Zygmunt Bauman dalam konsep liquid modernity menggambarkan bagaimana kehidupan modern membuat segala sesuatu terasa tidak stabil. Dalam kondisi seperti ini, upaya untuk hidup sederhana menjadi tantangan, karena lingkungan terus bergerak dengan cepat.
Di titik ini, sederhana bukan tujuan akhir, tetapi proses yang berjalan perlahan. Ia tidak selalu terasa nyaman, karena sering kali bertabrakan dengan kebiasaan lama dan dorongan baru.
Mungkin yang membuatnya terasa tidak mudah bukan karena hidup sederhana itu sulit. Tapi karena arah yang dipilih tidak selalu sejalan dengan apa yang terus ditawarkan setiap hari. Dari sini, sederhana jadi sesuatu yang perlu dijaga, bukan hanya dipilih sekali. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.