Pesan bisa dikirim seketika, makanan datang ke rumah, pekerjaan dibantu aplikasi. Waktu berhasil dihemat. Anehnya, kita tetap merasa kekurangan waktu.

Dulu membayar tagihan membutuhkan perjalanan ke tempat tertentu. Makanan yang ingin disantap harus dimasak atau dibeli dengan mendatangi penjualnya, sementara mengirim dokumen membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Sekarang banyak pekerjaan tersebut dapat selesai melalui beberapa sentuhan di layar.

Secara logika, kita seharusnya mempunyai lebih banyak waktu luang. Namun pengalaman sehari-hari sering mengatakan sebaliknya. Hari terasa penuh, pekerjaan seperti tidak pernah benar-benar selesai, dan bahkan waktu istirahat kadang disertai perasaan bahwa ada sesuatu yang seharusnya sedang dikerjakan.

Fenomena tersebut berkaitan dengan apa yang dalam penelitian psikologi sering disebut time scarcity, yakni persepsi bahwa waktu yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi berbagai tuntutan. Menariknya, perasaan kekurangan waktu tidak hanya ditentukan jumlah jam yang benar-benar tersedia. Cara waktu tersebut digunakan, seberapa besar kendali yang kita rasakan, serta banyaknya tuntutan yang harus ditangani ikut membentuk pengalaman kita terhadap waktu.

Baca Juga: Rumah Sudah Penuh Barang, Kenapa Rasanya Selalu Ada yang Perlu Dibeli?

Waktu yang Dihemat Tidak Selalu Berubah Menjadi Waktu Luang

Profesor Sendhil Mullainathan dari University of Chicago dan Profesor Eldar Shafir dari Princeton University banyak meneliti bagaimana kondisi kekurangan dapat menyita kapasitas mental manusia. Dalam kerangka scarcity, kekurangan waktu dapat membuat perhatian semakin terpusat pada tuntutan yang mendesak sehingga hal lain lebih mudah terabaikan. Dengan kata lain, kesibukan bukan hanya memenuhi kalender, tetapi juga dapat memenuhi pikiran.

Teknologi memang mampu mempersingkat banyak pekerjaan. Persoalannya, ketika sebuah pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat, standar tentang berapa banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dalam sehari juga dapat berubah. Email memungkinkan surat tiba dalam hitungan detik, tetapi kemudahan itu sekaligus membuat kita menerima dan mengirim jauh lebih banyak pesan daripada ketika korespondensi membutuhkan waktu berhari-hari.

Hal serupa terjadi pada pekerjaan rumah tangga. Mesin cuci mengurangi tenaga yang diperlukan untuk mencuci pakaian, aplikasi navigasi membantu menemukan rute, sementara layanan antar menghilangkan perjalanan untuk membeli berbagai kebutuhan. Namun menit yang berhasil diselamatkan tidak otomatis menjadi waktu kosong yang kita duduki sambil tidak melakukan apa-apa.

Seringkali ruang tersebut segera mendapatkan penghuni baru. Kita menerima pekerjaan tambahan, membuka pesan lain, memeriksa media sosial, menyelesaikan urusan kecil yang sebelumnya ditunda, atau sekadar berpindah ke aktivitas berikutnya. Efisiensi akhirnya meningkatkan kapasitas melakukan sesuatu tanpa selalu meningkatkan pengalaman mempunyai waktu.

Peneliti Ashley Whillans dari Harvard Business School menggunakan istilah time poverty untuk menggambarkan perasaan terus-menerus memiliki terlalu banyak hal yang harus dilakukan dan tidak cukup waktu untuk mengerjakannya. Penelitiannya banyak menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan waktu berpengaruh terhadap kesejahteraan, termasuk bagaimana keputusan sehari-hari dapat membuat seseorang memperoleh atau kehilangan waktu yang bernilai baginya.

Menariknya, mempunyai waktu kosong sebanyak mungkin juga bukan jawabannya. Penelitian Marissa Sharif dari The Wharton School bersama Cassie Mogilner dan Hal Hershfield menemukan bahwa terlalu sedikit waktu luang berhubungan dengan kesejahteraan yang lebih rendah, tetapi waktu luang yang sangat banyak juga tidak selalu membuat seseorang lebih sejahtera. Cara waktu tersebut digunakan ternyata ikut menentukan.

Baca Juga: Punya Banyak Foto Perjalanan, Tapi Masihkah Kita Ingat Rasanya Berada di Sana?

Mungkin yang Kurang Bukan Jamnya, tetapi Ruang di Dalamnya

Ada perbedaan antara mempunyai waktu dan merasa mempunyai waktu. Dua orang dapat sama-sama mempunyai satu jam sebelum tidur, tetapi pengalaman terhadap satu jam tersebut bisa sangat berbeda. Seseorang menganggapnya sebagai waktu bebas, sedangkan yang lain melihatnya sebagai kesempatan terakhir membalas pesan, membereskan rumah, mengecek pekerjaan, dan menyiapkan kebutuhan esok hari.

Teknologi juga membuat batas antara aktivitas menjadi semakin tipis. Kita dapat menjawab pesan pekerjaan ketika sedang makan, membeli kebutuhan rumah ketika berada di kendaraan, atau memeriksa email beberapa menit sebelum tidur. Aktivitas memang menjadi lebih fleksibel, tetapi fleksibilitas tersebut juga memungkinkan berbagai tuntutan memasuki waktu yang sebelumnya mempunyai batas lebih jelas.

Di sinilah efisiensi mempunyai sisi yang jarang dibicarakan. Ketika sesuatu menjadi lebih cepat, kita dapat menganggap waktu yang tersisa sebagai kapasitas tambahan yang harus digunakan. Lima belas menit yang berhasil dihemat terasa seperti kesempatan menyelesaikan satu pekerjaan lagi, bukan izin untuk mempunyai lima belas menit tanpa agenda.

Bahkan waktu luang dapat berubah menjadi sesuatu yang harus “dimanfaatkan dengan baik”. Akhir pekan perlu produktif, liburan perlu dipenuhi pengalaman, olahraga harus menghasilkan target tertentu, dan hobi pun terkadang dinilai berdasarkan hasil. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya bebas dari ukuran produktivitas kembali dinilai menggunakan ukuran produktivitas.

Karena itu, keluar dari rasa kekurangan waktu tidak selalu berarti menjadi lebih cepat. Menggunakan aplikasi baru, menyusun jadwal semakin rapat, atau melakukan beberapa pekerjaan sekaligus mungkin meningkatkan jumlah aktivitas yang selesai, tetapi belum tentu menciptakan perasaan mempunyai ruang. Kadang yang diperlukan justru menentukan bagian mana dari waktu yang tidak perlu segera diisi kembali.

Ini bukan ajakan mengabaikan pekerjaan atau membuang teknologi yang telah membuat banyak urusan jauh lebih mudah. Efisiensi tetap berharga, terutama ketika benar-benar mengurangi pekerjaan yang melelahkan dan memberikan manusia pilihan lebih besar atas waktunya. Pertanyaannya adalah apa yang kita lakukan dengan waktu setelah berhasil mendapatkannya kembali.

Mungkin persoalan kita selama ini bukan teknologi gagal menghemat waktu. Teknologi justru telah melakukannya dalam banyak bagian kehidupan. Hanya saja, kemampuan menyelesaikan sesuatu dengan lebih cepat juga membuat kita mampu memasukkan lebih banyak hal ke dalam hari yang panjangnya tetap sama.

Kita tetap mempunyai 24 jam. Yang terus bertambah adalah apa yang merasa berhak masuk ke dalamnya. Karena itu, memiliki lebih banyak waktu mungkin bukan selalu soal menghemat menit berikutnya, melainkan sesekali membiarkan menit yang berhasil diselamatkan tetap kosong. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.