Bencana datang tanpa undangan. Namun antisipasi sering datang belakangan. Mau begini selamanya?
Banjir, longsor, cuaca ekstrem — semua ini bukan cerita baru bagi Indonesia. Ketika permukaan air sungai naik, atau lereng bukit runtuh, respons seringkali berupa keheranan, kemudian kerja keras darurat. Namun sitrep di balik layar justru memperlihatkan sebuah pola yang terus berulang: mitigasi bencana kurang mendapat respons cepat, serius, dan melibatkan banyak pihak. Mengapa?
Mitigasi bencana seharusnya berjalan jauh sebelum terdengar sirene darurat. BNPB menegaskan bahwa mitigasi adalah upaya terencana untuk mengurangi risiko, bukan sekadar reaksi setelah kejadian terjadi — dari memahami ancaman sampai mempersiapkan masyarakatnya menghadapi kondisi terburuk.
Namun di banyak daerah, upaya ini masih berjalan setengah hati.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem di Pergantian Tahun, Apa yang Mesti Diwaspadai?
Beban Sistem: Bukan Sekadar Anggaran, tetapi Koordinasi dan Kesadaran
Salah satu kendala utama adalah koordinasi antar-lembaga yang belum optimal. Kritik dari politisi serta pengamat menunjukkan bahwa respons pada fase golden time — saat upaya penyelamatan paling efektif — sering terhambat oleh proses administratif seperti perizinan anggaran dan koordinasi antar-pihak.
Ini berarti mitigasi sering dipandang sebagai opsi tambahan, bukan kebutuhan utama. Ketika masing-masing lembaga bergerak di tempo yang berbeda, masyarakat yang berada di garis depan risiko lah yang menunggu paling lama.
Selain itu, pembentukan UU dan tata kelola mitigasi bencana dianggap belum sepenuhnya adaptif terhadap tantangan saat ini. Misalnya, revisi Undang-Undang Penanggulangan Bencana terus didorong karena aturan yang berlaku dinilai belum memadai untuk menghadapi kompleksitas ancaman yang semakin meningkat.
Keadaan seperti ini memicu pertanyaan besar: apakah mitigasi hanya diperbincangkan ketika korban sudah jatuh?
Mitigasi Butuh Keterlibatan Semua Pihak dan Kepedulian Kolektif
Mitigasi bukan tugas satu lembaga saja. Dalam konteks global, para ahli menekankan pentingnya kerangka kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah, komunitas lokal, sektor swasta, akademisi, media, dan masyarakat umum. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat respons, tetapi juga mendorong kesiapsiagaan dan resiliensi bersama sebelum bencana terjadi.
Sayangnya, banyak diskusi kebencanaan masih terbatas pada momen setelah bencana terjadi. Diskusi panel, rapat koordinasi, dan pernyataan yang disampaikan di media sering terlambat sampai di tangan masyarakat yang paling rentan.
Bagian lain dari tantangan ini adalah bagaimana pesan mitigasi sampai ke semua lapisan masyarakat. Ini bukan soal memberi tahu orang bahwa bencana bisa datang — tetapi bagaimana mereka memahami, mempersiapkan, dan mengambil keputusan yang mengurangi risiko. Program pelatihan, edukasi inklusif, hingga pendekatan komunitas yang terstruktur masih belum merata di banyak daerah.
Baca Juga: Harga Mahal di Balik Tambang dan Sawit yang Menggerus Alam
Bukan Hanya Respons, Tetapi Budaya Siaga
Menanggapi bencana bukan berarti hanya datang dengan alat berat dan bantuan setelah kerusakan terjadi. Mitigasi yang serius melibatkan kesadaran masyarakat untuk waspada sejak dini, dan integrasi mitigasi di perencanaan pembangunan daerah. Selain itu juga ada pelibatan warga dalam latihan dan kesiapsiagaan. Juga ada perbaikan tata ruang yang mempertimbangkan risiko dan informasi peringatan dini yang sampai ke semua orang.
Jika semua itu menjadi bagian dari keseharian — bukan hanya saat berita buruk muncul di timeline — mitigasi bisa menjadi kebiasaan kolektif. Bukan sekadar jawaban instan terhadap tragedi.
Masa Depan Suram? Atau Bisa Berubah?
Realitanya, tanpa perubahan sikap dan struktur, mitigasi akan terus lamban. Namun masa depan tidak harus suram. Ketika mitigasi dilembagakan dalam kebijakan publik, warga diberi ruang dan pengetahuan untuk siap, dan kolaborasi lintas stakeholder menjadi norma — maka risiko bencana bisa ditekan, bukan hanya dikelola.
Bencana tidak bisa selalu dicegah sepenuhnya, tetapi cara kita mempersiapkannya bisa melindungi lebih banyak nyawa dan mengurangi luka yang ditinggalkannya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]