Kasus grup chat mahasiswa Fakultas Hukum UI yang membicarakan tubuh perempuan secara vulgar memicu kemarahan publik yang luas. Banyak orang merasa ini bukan sekadar percakapan, tapi bentuk kekerasan yang selama ini sering tersembunyi di ruang-ruang tertutup. Reaksi keras yang muncul terasa wajar, karena yang dipertaruhkan bukan hanya etika, tapi juga rasa aman.

Kasus ini pertama kali mencuat setelah isi percakapan grup tersebut tersebar ke publik. Di dalamnya, mahasiswa laki-laki membahas tubuh mahasiswi dan dosen perempuan dengan bahasa yang menormalisasi pelecehan. Korban tidak hadir di ruang itu, tidak tahu apa yang dibicarakan, tapi harus tetap berhadapan dengan pelaku dalam keseharian mereka.

Banyak pihak langsung bereaksi. Media, aktivis, dan publik umum menyuarakan kemarahan yang sama. Dalam banyak hal, ini adalah bentuk solidaritas yang dibutuhkan oleh korban, sekaligus tekanan terhadap institusi untuk bertindak.

Namun di tengah gelombang itu, muncul satu pertanyaan dari Agan Harahap di Threads. Ia membandingkan kasus tersebut dengan komentar bernada seksual yang sempat muncul di unggahan selfie Nicholas Saputra. Pertanyaan itu tidak disambut dengan diskusi, melainkan serangan.

Baca Juga: Kita Mengira Itu Realita, Padahal Sudah Rapi Ditata

Pelecehan Tetap Pelecehan, Tapi Konteks Tidak Bisa Diabaikan

Komentar di unggahan Nicholas Saputra memang sempat ramai beberapa waktu lalu. Setiap kali ia mengunggah foto dirinya, kolom komentar dipenuhi kalimat bernada seksual dari sebagian netizen perempuan. Tubuhnya dibicarakan, hasrat dilontarkan, dan semuanya terjadi di ruang publik yang bisa dilihat siapa saja.

Dalam konteks ini, penting untuk mengatakan bahwa pelecehan tetaplah pelecehan. Tidak ada bentuk yang menjadi lebih benar hanya karena dilakukan secara terbuka atau oleh kelompok yang berbeda. Prinsip ini penting untuk dijaga agar tidak ada standar ganda.

Namun seperti yang juga disinggung oleh Wicaksono melalui tulisannya di media sosial, ada perbedaan mendasar yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kasus FH UI terjadi dalam ruang tertutup, ketika korban tidak tahu dan tidak punya ruang untuk membela diri, serta berada dalam konteks relasi kuasa yang lebih kompleks.

Komentar terhadap Nicholas Saputra, meskipun salah secara moral, terjadi di ruang terbuka dan tidak berada dalam sistem kuasa yang sama. Menyamakan keduanya secara langsung bisa mengaburkan masalah yang lebih besar.

Baca Juga: Cara Influencer Membentuk Cara Kita Melihat Sebuah Produk

Ketika Pertanyaan Tidak Lagi Punya Ruang

Yang menjadi menarik bukan hanya perbandingan itu sendiri, tapi bagaimana publik meresponsnya. Alih-alih dijawab dengan argumen, pertanyaan Agan Harahap justru dibalas dengan kemarahan yang diarahkan kepadanya secara personal.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam banyak kasus di media sosial, pertanyaan yang muncul di tengah isu sensitif sering dianggap sebagai bentuk pembelokan atau bahkan pengkhianatan. Ingat kasus Buni Yani yang jadi viral saat pada Oktober 2106? Akibatnya, ruang untuk bertanya menjadi semakin sempit.

Padahal seperti yang ditulis Wicaksono, ada perbedaan antara menjawab pertanyaan dengan analisis, dan menghabisi orang yang bertanya dengan kerumunan. Yang pertama membangun pemahaman, sementara yang kedua justru menciptakan ketakutan.

Ketika pola ini terus berulang, pesan yang muncul menjadi lebih luas dari sekadar satu kasus. Orang-orang yang melihat akan berpikir dua kali sebelum bertanya, bahkan ketika pertanyaan itu sebenarnya tulus.

Dampaknya tidak selalu terlihat langsung. Tapi dalam jangka panjang, budaya seperti ini bisa membuat diskusi menjadi dangkal. Orang memilih diam, bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak ingin menjadi target berikutnya.

Yang perlu kita jaga mungkin bukan hanya kemarahan itu sendiri, tapi arah dari kemarahan tersebut. Apakah ia membantu korban mendapatkan keadilan, atau justru habis untuk saling menyerang di ruang digital.

Kasus FH UI tetap membutuhkan perhatian serius. Korban tetap membutuhkan dukungan nyata, dan institusi tetap harus diminta bertanggung jawab. Tapi di saat yang sama, ruang untuk berpikir dan bertanya juga tidak seharusnya hilang begitu saja. [][Eva Evilia/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]