Awalnya hanya lewat satu video singkat. Lalu tiba-tiba produk itu terasa seperti sesuatu yang harus dimiliki. Tanpa sadar, persepsi mulai terbentuk sebelum kita benar-benar memahami produknya.

Suatu malam, seseorang membuka media sosial tanpa tujuan jelas. Scroll perlahan, berhenti di satu video. Seorang influencer sedang menunjukkan sebuah produk skincare, dengan pencahayaan yang lembut dan ekspresi yang meyakinkan.

“Ini beneran bikin kulit aku berubah dalam dua minggu,” katanya sambil memperlihatkan hasil sebelum dan sesudah.

Video itu hanya berdurasi kurang dari satu menit. Tapi cukup untuk menanamkan satu hal: produk itu terasa efektif, bahkan sebelum benar-benar dipahami. Menariknya, kita jarang bertanya—dua minggu itu dihitung dari kapan, dan berubah seperti apa sebenarnya. Nah lho!

Baca Juga: Internet Tanpa Media Sosial, Masih Mungkin Terjadi?

Ketika Rekomendasi Terasa Lebih Personal

Salah satu kekuatan influencer ada pada cara mereka membangun kedekatan. Mereka tidak tampil seperti iklan, tetapi seperti teman yang sedang berbagi pengalaman. Bahasa yang digunakan santai, visualnya terasa natural, dan ceritanya mudah diikuti.

Dalam kondisi ini, pesan yang disampaikan tidak terasa seperti promosi. Ia terasa seperti rekomendasi. Dan rekomendasi selalu lebih mudah dipercaya dibandingkan iklan langsung.

Menurut Jonah Berger, penulis Contagious: Why Things Catch On, orang lebih cenderung mempercayai informasi yang datang dari orang lain dibandingkan brand. Ia menulis, “People don’t think in terms of information. They think in terms of narratives.”

Ketika influencer bercerita, yang diterima bukan hanya informasi produk, tetapi juga pengalaman yang dibungkus dalam cerita. Kadang, ceritanya bahkan lebih menarik daripada produknya.

Baca Juga: Memperbaiki Algoritma Media Sosial, Bisakah Kita Mengubah Apa yang Kita Lihat?

Antara Pengalaman dan Persepsi yang Dibentuk

Masalahnya, tidak semua yang terlihat adalah pengalaman yang utuh. Banyak konten yang disusun dengan sangat rapi, mulai dari lighting, angle, hingga storytelling yang dirancang untuk membangun kesan tertentu.

Dalam banyak kasus, produk belum tentu sebaik yang ditampilkan. Namun, karena cerita yang disampaikan terasa meyakinkan, persepsi yang terbentuk menjadi lebih kuat dari realitasnya. Apalagi jika disampaikan dengan kalimat seperti ‘jujur, ini aku nggak dibayar’, yang entah kenapa justru sering muncul di konten berbayar.

Di sinilah peran influencer menjadi signifikan. Mereka tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga membentuk cara audiens melihat produk tersebut.

Menurut Wendra Wilendra, M.MT. dalam diskusi tentang digital behavior, “Di era sekarang, yang dijual itu bukan produknya dulu, tapi persepsinya. Orang membeli apa yang mereka bayangkan, bukan apa yang sebenarnya mereka pahami.”

Pernyataan ini menjelaskan mengapa satu konten singkat bisa berdampak besar. Yang bekerja bukan hanya informasi, tetapi cara informasi itu disampaikan.

Bagi pengguna, penting untuk menyadari bahwa apa yang terlihat di layar adalah hasil dari proses kurasi. Ada pilihan, ada penyederhanaan, dan ada sudut pandang yang dipilih.

Bukan berarti semua rekomendasi harus diragukan. Namun, memahami bagaimana persepsi dibentuk bisa membantu melihat produk dengan lebih jernih. Kadang, yang kita percaya bukan karena sudah yakin, tapi karena ceritanya terlalu enak untuk diragukan.

Dalam banyak kasus, keputusan yang diambil bukan karena produk itu benar-benar dibutuhkan, tetapi karena cerita di baliknya terasa cukup meyakinkan. [][Eva Evilia/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]