Kita pernah ada di momen itu. Scroll sebentar, lalu tiba-tiba muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak ada yang benar-benar berubah, tapi entah kenapa hidup sendiri terasa sedikit berbeda setelah melihat beberapa postingan.
Awalnya hanya melihat. Lalu tanpa sadar mulai membandingkan. Apa yang kita jalani terasa biasa, sementara apa yang dilihat di layar terlihat lebih rapi, lebih menarik, dan seolah lebih lengkap.
Di titik itu, perbandingan tidak terasa seperti sesuatu yang disengaja. Ia terjadi pelan-pelan, hampir tanpa izin. Kita tidak berniat menilai, tapi pikiran tetap bergerak ke arah sana.
Baca Juga: Kita Mengira Itu Realita, Padahal Sudah Rapi Ditata
Yang Terlihat Tidak Pernah Sepenuhnya Utuh
Apa yang muncul di media sosial hampir selalu merupakan pilihan. Momen yang dibagikan adalah bagian yang sudah dipilih, disusun, dan sering kali dipoles sebelum akhirnya diunggah. Dari situ, yang terlihat bukan keseluruhan, tapi versi yang memang ingin ditampilkan.
Masalahnya, kita melihat potongan itu seolah-olah itu adalah gambaran utuh. Kita lupa bahwa di balik satu foto atau satu video, ada banyak bagian lain yang tidak ikut terlihat. Dari sini, persepsi mulai bergeser tanpa kita sadari.
Ketika seseorang terlihat bahagia, kita menganggap hidupnya selalu seperti itu. Ketika seseorang terlihat produktif, kita merasa ia selalu berada di ritme yang sama. Padahal, apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan cerita.
Di sisi lain, kita melihat diri sendiri secara penuh. Kita tahu bagian yang tidak rapi, bagian yang tidak berjalan sesuai rencana, dan hal-hal yang tidak pernah kita bagikan. Dari situ, perbandingan menjadi tidak seimbang sejak awal.
Baca Juga: Kita Sering Merasa Bebas di Media Sosial, Tapi Benarkah Tanpa Batas?
Kita Bukan Hanya Melihat, Tapi Juga Ikut Membentuk
Hal yang jarang disadari adalah kita juga melakukan hal yang sama. Kita memilih apa yang ingin ditampilkan, menyusun momen yang terlihat baik, dan membagikan bagian yang terasa layak untuk dilihat. Dari situ, kita menjadi bagian dari siklus yang sama.
Kita melihat, lalu membandingkan. Setelah itu, kita juga ikut menampilkan versi terbaik dari diri kita. Orang lain melihatnya, lalu merasakan hal yang serupa. Siklus ini berjalan tanpa banyak disadari oleh siapa pun yang terlibat di dalamnya.
Yang membuatnya semakin kompleks adalah kita sebenarnya tahu semua ini. Kita tahu bahwa tidak semua yang terlihat adalah realita sepenuhnya. Tapi pengetahuan itu tidak selalu cukup untuk menghentikan perasaan yang muncul.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan apa yang kita lihat, tapi cara kita memaknainya. Bahwa apa yang muncul di layar bukan standar yang harus diikuti, tapi hanya potongan dari kehidupan orang lain.
Dengan cara itu, kita bisa mulai mengambil jarak. Bukan untuk menjauh sepenuhnya, tapi untuk melihat dengan lebih jernih. Dari situ, perbandingan tidak lagi terasa seberat sebelumnya.
Dan ketika kita mulai memahami pola ini, layar tidak lagi menjadi tempat untuk mengukur diri. Ia kembali menjadi apa adanya, yaitu ruang untuk melihat, bukan untuk menentukan nilai diri. [][Eva Evilia/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]