Ketika dua pria yang baru berkenalan bertemu, salah satu pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah, "Sekarang kerja di mana?" Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun di baliknya, tersimpan sebuah cara pandang yang sudah lama hidup di masyarakat: pekerjaan sering menjadi ukuran pertama untuk mengenali, bahkan menilai, seorang pria.

Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh dengan pesan bahwa mereka harus menjadi sosok yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu menafkahi. Tidak sedikit yang kemudian memaknai keberhasilan hidup melalui pekerjaan yang dimiliki, jabatan yang diraih, atau besarnya penghasilan yang dibawa pulang. Cara pandang ini bukan sepenuhnya keliru. Bekerja memang menjadi bagian penting dari kehidupan seorang pria. Namun persoalannya muncul ketika pekerjaan menjadi satu-satunya ukuran nilai diri.

Akibatnya, keberhasilan di tempat kerja sering terasa seperti keberhasilan sebagai manusia. Sebaliknya, ketika pekerjaan terganggu, rasa percaya diri pun ikut goyah. Padahal, keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Baca Juga: Pria dan Kebiasaan Menyimpan Beban Sendiri

Ketika Identitas Melekat pada Profesi

Psikolog sekaligus peneliti maskulinitas Ronald F. Levant menjelaskan bahwa banyak laki-laki dibesarkan dalam budaya yang menempatkan pencapaian dan kesuksesan sebagai bagian penting dari identitas mereka. Tidak mengherankan jika pekerjaan kemudian menjadi simbol keberhasilan yang paling mudah terlihat.

Kita dapat menemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada pria yang tetap merasa bersalah ketika pulang lebih awal demi keluarga karena menganggap dirinya belum bekerja cukup keras. Ada pula yang merasa kehilangan arah setelah pensiun, meski kondisi ekonomi keluarganya sebenarnya sudah terjamin. Bahkan tidak sedikit yang mengalami tekanan psikologis ketika kehilangan pekerjaan, bukan semata karena hilangnya penghasilan, tetapi karena merasa kehilangan jati diri.

Situasi ini menunjukkan bahwa pekerjaan sering kali tidak lagi dipandang sebagai aktivitas mencari nafkah. Ia berubah menjadi cermin tempat seorang pria menilai dirinya sendiri.

Padahal, profesi adalah sesuatu yang dapat berubah. Jabatan dapat berganti, perusahaan dapat tutup, dan masa pensiun pada akhirnya akan datang kepada siapa pun. Jika seluruh harga diri hanya diletakkan pada pekerjaan, setiap perubahan itu berpotensi mengguncang kehidupan seseorang.

Baca Juga: Semakin Banyak Pria Mulai Membicarakan Ayahnya, Mengapa?

Nilai Seorang Pria Tidak Berhenti di Kartu Nama

Bekerja tetap penting. Melalui pekerjaan, seorang pria menjalankan tanggung jawab, membangun masa depan, dan memberi rasa aman bagi orang-orang yang dicintainya. Namun pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan identitasnya.

Seorang ayah yang hadir mendengarkan cerita anaknya, seorang suami yang mampu menjadi tempat berbagi, atau seorang sahabat yang dapat dipercaya juga sedang menjalankan peran yang sama berharganya. Sayangnya, peran-peran tersebut sering tidak memperoleh pengakuan sebesar pencapaian profesional.

Psikolog William Pollack, penulis Real Boys, mengingatkan bahwa banyak laki-laki terbiasa menyembunyikan sisi emosionalnya demi memenuhi tuntutan untuk selalu tampak kuat dan berhasil. Dalam jangka panjang, tekanan seperti ini dapat membuat pria lebih sulit menerima kegagalan, meminta bantuan, atau mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Mungkin karena itu, sudah saatnya kita memandang pekerjaan secara lebih proporsional. Pekerjaan adalah bagian penting dari hidup, tetapi bukan satu-satunya sumber harga diri. Nilai seorang pria tidak hanya ditentukan oleh profesi yang tercantum di kartu namanya, melainkan juga oleh integritas yang ia pegang, tanggung jawab yang ia jalankan, serta kehadiran yang ia berikan bagi orang-orang di sekitarnya. Sebab ketika suatu hari pekerjaan berubah atau bahkan hilang, semua hal itulah yang akan tetap tinggal dan terus memberi makna pada dirinya sebagai seorang manusia. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.