Cowok sekarang mulai lebih peduli merawat diri. Namun saat melihat rak produk di minimarket, banyak pilihan masih terasa dibuat untuk perempuan.

Perubahan kebiasaan pria dalam merawat diri sebenarnya sudah terlihat beberapa tahun terakhir. Produk facial wash, pelembap, parfum, sampai sunscreen pria semakin mudah ditemukan. Konten perawatan wajah untuk laki-laki juga makin ramai di media sosial dan tidak lagi dianggap aneh seperti dulu.

Namun, ketika masuk ke minimarket atau toko kosmetik, ada hal yang cukup terasa. Sebagian besar rak perawatan diri masih dipenuhi visual, warna, dan pendekatan pemasaran yang sangat identik dengan perempuan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa perubahan perilaku konsumen ternyata bergerak lebih cepat dibanding cara industri membangun citra produknya sendiri.

Sosiolog dan penulis Jean Kilbourne dalam bukunya Can’t Buy My Love [1999] pernah membahas bagaimana industri kecantikan selama puluhan tahun membangun pasar dengan pendekatan visual yang sangat spesifik terhadap perempuan. Karena itu, citra “produk perawatan identik dengan perempuan” terbentuk sangat kuat dan bertahan lama di banyak negara.

Akibatnya, ketika pria mulai aktif menggunakan skincare, industri tidak langsung berubah secepat perilaku konsumennya.

Baca Juga: Perawatan Kulit yang Sering Diabaikan Pria

Banyak Pria Sudah Merawat Diri, Tapi Masih Canggung Mengakuinya

Perubahan budaya ini sebenarnya cukup menarik. Dulu, banyak pria merasa perawatan wajah adalah sesuatu yang terlalu feminin. Sekarang, semakin banyak laki-laki mulai memahami bahwa menjaga kulit dan kebersihan diri merupakan bagian dari kesehatan dan penampilan profesional.

Namun di saat yang sama, masih ada rasa canggung yang tersisa. Tidak sedikit pria yang membeli produk perawatan dengan cepat, memilih rak yang sepi, atau bahkan merasa tidak nyaman terlalu lama melihat produk skincare di tempat umum.

Dalam The Tough Standard [2017], psikolog klinis Dr. Ronald Levant menjelaskan bahwa banyak pria tumbuh dengan standar maskulinitas yang menuntut mereka terlihat kuat dan tidak terlalu memperhatikan penampilan. Pola pikir itu membuat sebagian laki-laki merasa aktivitas merawat diri bukan sesuatu yang ‘maskulin’.

Padahal, kondisi sosial sudah mulai berubah. Generasi muda sekarang lebih terbuka terhadap perawatan diri dibanding generasi sebelumnya. Banyak pria mulai melihat skincare bukan sebagai simbol gaya hidup tertentu, tetapi sebagai kebutuhan dasar untuk menjaga kesehatan kulit.

Media sosial juga ikut mempercepat perubahan tersebut. Konten grooming, perawatan wajah, dan kebersihan diri pria semakin mudah ditemukan dan mulai dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.

Meski begitu, industri ritel masih bergerak dengan pola lama. Produk pria sering ditempatkan dalam area kecil dengan desain warna gelap dan pilihan terbatas, sementara rak utama tetap lebih didominasi pendekatan yang menyasar perempuan.

Baca Juga: Cara Sederhana Mengenali Karakter Diri untuk Kaum Pria

Rak Produk Tidak Hanya Menjual Barang, Tapi Juga Cara Pandang

Apa yang terlihat di rak minimarket sebenarnya bukan sekadar urusan penataan produk. Ada cara pandang sosial yang ikut bekerja di dalamnya.

Profesor komunikasi dan budaya populer Sut Jhally dalam berbagai kajiannya tentang iklan menjelaskan bahwa industri tidak hanya menjual produk, tetapi juga membentuk persepsi tentang identitas dan kebiasaan sosial manusia.

Karena itu, dominasi produk perempuan di rak perawatan diri bukan hanya soal jumlah pembeli. Industri sejak lama membangun asumsi bahwa perempuan adalah pasar utama untuk urusan penampilan dan kecantikan.

Sementara itu, kebutuhan pria dalam merawat diri sering dianggap pasar tambahan yang baru berkembang belakangan ini.

Padahal kenyataannya, banyak pria sekarang mulai lebih sadar terhadap kesehatan kulit, kebersihan tubuh, dan penampilan sehari-hari. Perubahan itu terlihat dari semakin banyaknya produk khusus pria yang bermunculan, meski porsinya masih belum sebesar pasar perempuan.

Mungkin karena itu pertanyaan tentang rak minimarket terasa cukup menarik sekarang. Bukan hanya soal siapa yang membeli produk lebih banyak, tetapi juga tentang bagaimana budaya lama masih memengaruhi cara industri melihat kebiasaan pria dalam merawat dirinya sendiri. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.