Banyak pria tumbuh dengan kebiasaan untuk terlihat kuat. Mereka diajarkan menyelesaikan masalah, menahan emosi, dan tetap terlihat tenang meski sedang tidak baik-baik saja. Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang sering terlewat: mengenali dirinya sendiri.

Tidak sedikit pria yang menjalani hidup berdasarkan tuntutan keadaan. Fokus bekerja, memenuhi tanggung jawab, dan terus bergerak tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan atau inginkan.

Akibatnya, banyak keputusan diambil hanya karena kebiasaan atau tekanan lingkungan. Seseorang bisa terlihat dewasa secara usia, tapi masih bingung mengenali karakter dirinya sendiri.

Dalam buku Emotional Intelligence [1995], psikolog Daniel Goleman menjelaskan bahwa kemampuan mengenali diri sendiri atau self-awareness menjadi dasar penting dalam memahami emosi, perilaku, dan cara seseorang mengambil keputusan.

Sayangnya, kemampuan ini jarang benar-benar dilatih pada banyak pria. Mereka lebih sering diajarkan untuk mengendalikan emosi dibanding memahami sumber emosinya.

Baca Juga: Perawatan Kulit yang Sering Diabaikan Pria

Karakter Diri Tidak Selalu Terlihat Saat Keadaan Baik-Baik Saja

Banyak orang baru mulai mengenali dirinya ketika menghadapi tekanan. Saat marah, kecewa, gagal, atau kehilangan sesuatu, karakter asli perlahan muncul ke permukaan. Ada pria yang ternyata mudah menyimpan emosi. Ada yang cenderung menghindari konflik. Ada juga yang terlihat tenang di luar, tapi sebenarnya sulit menerima dirinya sendiri.

Penulis dan psikiater Carl Jung pernah menjelaskan dalam bukunya Modern Man in Search of a Soul [1933] bahwa manusia sering memiliki sisi diri yang tidak sepenuhnya ia kenali. Jung menyebutnya sebagai bagian shadow, yaitu sisi yang sering ditekan atau disembunyikan karena dianggap tidak sesuai dengan gambaran ideal tentang diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini terlihat dari kebiasaan sederhana. Misalnya, sulit meminta bantuan, terlalu keras pada diri sendiri, atau merasa harus selalu terlihat kuat di depan orang lain. Padahal, mengenali karakter diri bukan berarti mencari apakah kita termasuk orang baik atau buruk. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana cara kita bereaksi terhadap hidup.

Ketika seseorang mulai memahami pola emosinya sendiri, ia lebih mudah mengenali apa yang sebenarnya memicu kemarahan, rasa takut, atau tekanan dalam dirinya.

Baca Juga: Banyak yang Dibeli, Tapi Sebenarnya Kita Sedang Jaga Gengsi

Mengenali Diri Tidak Harus Lewat Hal Besar

Banyak pria mengira proses mengenali diri harus dilakukan lewat pengalaman besar atau perubahan hidup yang drastis. Padahal, proses itu sering dimulai dari hal kecil yang terjadi setiap hari. Cara seseorang merespons kritik, memperlakukan orang lain, mengelola tekanan, sampai menghadapi kegagalan bisa menjadi cermin karakter dirinya sendiri.

Psikolog Brené Brown dalam bukunya Daring Greatly [2012] menjelaskan bahwa keberanian terbesar manusia sering bukan tentang terlihat kuat, tapi tentang berani jujur terhadap dirinya sendiri. Karena itu, mengenali karakter diri tidak selalu berarti menemukan jawaban besar tentang hidup. Kadang, prosesnya justru dimulai dari keberanian untuk mengakui hal-hal yang selama ini dihindari.

Ada pria yang baru memahami dirinya setelah merasa lelah terus berpura-pura baik-baik saja. Ada juga yang mulai mengenal dirinya ketika belajar menerima bahwa tidak semua hal harus dikendalikan sendiri.

Semakin seseorang memahami dirinya, semakin kecil kemungkinan ia menjalani hidup hanya berdasarkan tuntutan orang lain. Ia mulai tahu apa yang penting, apa yang melelahkan, dan apa yang benar-benar ia butuhkan.

Mengenali diri memang tidak membuat hidup langsung menjadi mudah. Namun setidaknya, seseorang tidak lagi terus berjalan tanpa benar-benar memahami siapa dirinya sendiri. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.