Ada pria yang memilih memutar kendaraan berkali-kali daripada bertanya arah kepada orang lain. Ada yang memaksakan memperbaiki keran bocor meski akhirnya justru semakin rusak. Ada pula yang diam-diam memikul beban pekerjaan, persoalan keuangan, atau tekanan batin tanpa pernah menceritakannya kepada siapa pun. Pemandangan seperti ini cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari. Lalu muncul pertanyaan, benarkah banyak pria memang lebih sulit meminta tolong?
Tentu saja, tidak semua pria seperti itu. Banyak laki-laki yang terbuka, mampu berbagi cerita, dan tidak ragu meminta bantuan ketika membutuhkannya. Namun berbagai penelitian memang menunjukkan bahwa dibandingkan perempuan, laki-laki cenderung lebih jarang mencari pertolongan, terutama ketika menghadapi persoalan emosional atau kesehatan mental.
Pertanyaannya bukan lagi soal mampu atau tidak mampu. Yang lebih menarik adalah, mengapa kebiasaan itu bisa terbentuk?
Baca Juga: Benarkah Nilai Seorang Pria Ditentukan oleh Pekerjaannya?
Ketika ‘Harus Kuat’ Malah Jadi Beban
Sejak kecil, banyak anak laki-laki tumbuh bersama kalimat-kalimat yang terdengar sederhana: "Jangan cengeng", "Laki-laki harus kuat", atau "Selesaikan sendiri." Kalimat-kalimat itu mungkin dimaksudkan untuk membentuk kemandirian. Namun tanpa disadari, sebagian anak juga belajar bahwa meminta bantuan bisa dianggap sebagai tanda kelemahan.
Psikolog Dr. Ronald F. Levant, mantan Presiden American Psychological Association [APA], menjelaskan bahwa norma maskulinitas tradisional dapat membuat sebagian pria lebih sulit mengenali dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Kondisi ini dikenal sebagai normative male alexithymia, yaitu kecenderungan kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi karena pengaruh lingkungan dan pola asuh.
Akibatnya, ketika menghadapi masalah, banyak pria lebih memilih menyelesaikannya sendiri. Mereka merasa harus menjadi orang yang mampu mengatasi semuanya tanpa bantuan. Padahal, tidak semua persoalan bisa diselesaikan seorang diri.
Kebiasaan ini tidak hanya muncul dalam urusan emosi. Dalam pekerjaan, kesehatan, bahkan kehidupan rumah tangga, ada pria yang menunda meminta bantuan karena khawatir dianggap tidak kompeten atau merepotkan orang lain.
Baca Juga: Pria dan Kebiasaan Menyimpan Beban Sendiri
Meminta Tolong Bukan Tanda Kelemahan
Peneliti Dr. Brené Brown dari University of Houston banyak membahas tentang pentingnya keberanian untuk menunjukkan kerentanan [vulnerability]. Menurutnya, keberanian bukan berarti selalu tampak kuat di hadapan orang lain. Justru mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan merupakan salah satu bentuk keberanian yang paling nyata.
Dalam kehidupan sehari-hari, meminta tolong bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada orang lain. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa seseorang mengenali batas kemampuannya dan bersedia bekerja sama untuk menemukan solusi yang lebih baik.
Banyak persoalan menjadi lebih ringan ketika dibicarakan. Berkonsultasi kepada teman, pasangan, keluarga, mentor, atau tenaga profesional bukan berarti gagal menjadi laki-laki yang mandiri. Sebaliknya, itu adalah cara menjaga diri agar tidak memikul beban yang terlalu berat seorang diri.
Barangkali, tantangan terbesar bagi banyak pria bukanlah menjadi kuat, melainkan mengubah cara mereka memaknai kekuatan itu sendiri. Sebab menjadi kuat tidak selalu berarti mampu melakukan semuanya sendirian. Ada kalanya, kekuatan justru terlihat ketika seseorang cukup jujur untuk berkata, "Saya butuh bantuan."
Meminta tolong bukanlah tanda bahwa seorang pria kehilangan harga dirinya. Justru di situlah seringkali terlihat kedewasaan. Ia memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling tangguh, melainkan perjalanan yang kadang mengharuskan kita berjalan bersama orang lain. Dan tidak ada yang salah dengan itu. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.