Ada kejadian memalukan yang sudah berlalu bertahun-tahun, tetapi detailnya masih terasa jelas. Sementara itu, pencapaian yang pernah membuat kita bangga justru perlahan kabur dari ingatan. Mengapa otak seperti lebih rajin menyimpan momen yang membuat kita ingin bersembunyi?
Pernah tiba-tiba teringat sesuatu yang terjadi sepuluh tahun lalu? Mungkin saat salah menyebut nama seseorang di depan banyak orang. Atau ketika terpeleset di tempat ramai, salah mengirim pesan, salah menjawab pertanyaan, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya ingin sekali ditarik kembali.
Lucunya, kita mungkin sudah lupa apa yang dimakan kemarin. Namun, kejadian memalukan itu masih bisa muncul begitu saja ketika sedang mandi, menyetir, atau hendak tidur. Seolah-olah otak memiliki arsip khusus untuk menyimpan momen yang ingin kita lupakan.
Sementara itu, pengalaman membanggakan justru sering terasa berbeda. Kita pernah mendapatkan penghargaan, menyelesaikan sesuatu yang sulit, atau mendapat pujian dari orang yang penting bagi kita. Saat itu rasanya menyenangkan. Tetapi beberapa tahun kemudian, detailnya mungkin tidak lagi sejelas momen ketika kita melakukan kesalahan.
Bukan berarti otak sengaja ingin membuat kita menderita. Ada mekanisme psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa pengalaman negatif tertentu terasa lebih melekat.
Baca Juga: Ada Orang yang Baru Menyadari Dirinya Stres, Setelah Tubuhnya Mulai Sakit
Otak Cenderung Lebih Waspada terhadap Pengalaman yang Tidak Menyenangkan
Psikolog Dr. Roy F. Baumeister dan koleganya, dalam artikel Bad Is Stronger Than Good [2001] yang diterbitkan di Review of General Psychology, membahas apa yang dikenal sebagai negativity bias. Secara sederhana, kejadian negatif sering memiliki pengaruh psikologis yang lebih kuat daripada kejadian positif dengan intensitas yang sama.
Mengapa? Salah satu alasannya berkaitan dengan fungsi adaptif manusia. Dari sudut pandang evolusi, memperhatikan sesuatu yang berpotensi membahayakan jauh lebih penting bagi kelangsungan hidup dibandingkan mengabaikan ancaman.
Kesalahan yang membuat kita dipermalukan memang bukan ancaman fisik. Namun, otak manusia juga berkembang dalam lingkungan sosial. Reputasi, penerimaan kelompok, dan hubungan dengan orang lain memiliki arti penting bagi kehidupan manusia.
Rasa malu memberi sinyal bahwa ada sesuatu dalam perilaku kita yang dianggap tidak sesuai dengan harapan sosial. Karena itu, pengalaman memalukan dapat membuat kita melakukan evaluasi berulang: Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa saya melakukan itu? Apa yang dipikirkan orang lain? Bagaimana agar saya tidak mengulanginya?
Proses mengulang kejadian dalam pikiran tersebut justru dapat membuat ingatannya semakin mudah dipanggil kembali.
Baca Juga: Permintaan Maaf Bisa Mengakhiri Konflik, Tetapi Belum Tentu Menghapus Luka, Mengapa?
Kita Sering Mengulang Kesalahan, tetapi Tidak Selalu Mengulang Keberhasilan
Ada perbedaan menarik antara rasa malu dan rasa bangga. Ketika merasa malu, kita cenderung bertanya apa yang salah. Kita membongkar kembali percakapan, ekspresi wajah orang lain, bahkan intonasi suara yang mungkin sebenarnya sudah tidak diingat oleh siapa pun selain diri sendiri.
Sebaliknya, ketika mengalami keberhasilan, kita lebih mudah mengatakan, "Ya, waktu itu saya berhasil," lalu melanjutkan hidup.
Psikolog Dr. Matthew D. Lieberman, dalam bukunya Social: Why Our Brains Are Wired to Connect [2013], menjelaskan bahwa otak manusia memiliki sistem yang sangat peka terhadap pengalaman sosial. Penilaian dan penerimaan orang lain dapat menjadi sesuatu yang sangat penting bagi manusia, sehingga pengalaman sosial yang mengancam citra diri dapat terasa sangat kuat.
Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan: ingatan yang terasa sangat jelas belum tentu menggambarkan seberapa penting kejadian itu bagi orang lain. Bisa jadi, orang yang melihat kita melakukan kesalahan sudah melupakannya beberapa menit kemudian. Hanya kita yang terus memutar ulang adegan tersebut karena otak kita menganggapnya penting.
Karena itu, ketika sebuah rasa malu lama tiba-tiba muncul kembali, mungkin kita tidak perlu langsung memarahinya. Kita bisa melihatnya sebagai bagian dari cara otak belajar mengenali situasi sosial dan berusaha melindungi diri dari kesalahan yang sama. Dan mungkin, ada satu kebiasaan yang juga layak dilatih: memberi ruang yang sama kepada pengalaman baik untuk diingat.
Kita boleh mengingat kesalahan sebagai pelajaran, tetapi bukan berarti harus membiarkannya menjadi satu-satunya cerita tentang diri kita. Pencapaian kecil, keberanian mengambil keputusan, pertolongan yang pernah kita berikan, atau masa ketika kita berhasil melewati sesuatu yang berat juga layak disimpan.
Sebab, kalau otak memang cenderung lebih cepat menangkap hal yang buruk, kita mungkin perlu dengan sengaja mengingatkan diri bahwa hidup tidak hanya terdiri dari hal-hal yang ingin kita perbaiki. Ada juga banyak hal yang pernah kita lakukan dengan baik, meski selama ini tidak terlalu sering kita ceritakan kepada diri sendiri. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.