Banyak rencana tertunda bukan karena tidak mampu dilakukan, melainkan karena kita merasa belum cukup siap untuk memulainya.
Ada orang yang ingin memulai usaha, tetapi masih menunggu modal yang dirasa cukup. Ada yang ingin berolahraga, tetapi menunggu waktu yang lebih longgar. Ada pula yang ingin belajar keterampilan baru, pindah pekerjaan, atau memulai proyek yang sudah lama dipikirkan, tetapi terus menundanya dengan alasan yang terdengar masuk akal.
Di balik berbagai alasan tersebut, sering tersembunyi satu kalimat yang sama: "Saya belum siap." Pertanyaannya, kapan seseorang bisa benar-benar merasa siap?
Baca Juga: Kalau Kita Sudah Tahu yang Harus Dilakukan, Mengapa Hidup Tetap Tidak Berubah?
Kita Sering Menganggap Siap sebagai Syarat
Perasaan belum siap sebenarnya sangat manusiawi. Otak manusia dirancang untuk menghindari risiko dan ketidakpastian. Ketika menghadapi sesuatu yang baru, kita cenderung mencari kepastian lebih dulu agar merasa aman.
Itulah sebabnya banyak orang ingin memiliki lebih banyak informasi sebelum mengambil keputusan. Mereka ingin memastikan semua kemungkinan sudah dipertimbangkan, semua risiko sudah dihitung, dan semua kebutuhan sudah terpenuhi. Dengan cara itu, langkah yang akan diambil terasa lebih meyakinkan.
Masalahnya, kehidupan jarang memberikan kepastian yang lengkap. Hampir selalu ada hal yang belum diketahui, belum dipelajari, atau belum dikuasai. Jika rasa siap dijadikan syarat utama untuk memulai sesuatu, seseorang bisa terjebak dalam proses persiapan yang tidak pernah selesai.
Tanpa disadari, perasaan belum siap kadang juga menjadi cara yang lebih nyaman untuk menghadapi ketakutan. Ketakutan gagal, ketakutan membuat kesalahan, atau ketakutan menerima hasil yang tidak sesuai harapan seringkali muncul dalam bentuk yang lebih dapat diterima, yaitu menunda sampai merasa siap.
Padahal yang sedang dihadapi bukan kurangnya kemampuan, melainkan kecemasan menghadapi kemungkinan yang belum pasti.
Baca Juga: Kita Semakin Jarang Benar-Benar Sendirian dengan Pikiran Sendiri
Banyak Hal Baru Terasa Mungkin Setelah Dimulai
Menariknya, banyak pengalaman hidup menunjukkan bahwa rasa siap tidak selalu datang sebelum tindakan dilakukan. Justru sebaliknya, rasa siap sering tumbuh setelah seseorang mulai melangkah.
Orang yang baru belajar berbicara di depan umum biasanya tidak merasa percaya diri pada percobaan pertama. Pengusaha yang sukses pun jarang memulai bisnis dalam kondisi benar-benar yakin. Bahkan banyak orang tua mengaku tidak pernah merasa sepenuhnya siap sebelum memiliki anak.
Kepercayaan diri sering lahir dari pengalaman, bukan dari penantian. Semakin sering seseorang mencoba, semakin banyak bukti yang dimiliki bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan yang muncul. Dari situlah rasa siap perlahan terbentuk.
Hal ini tidak berarti seseorang harus bertindak tanpa pertimbangan. Persiapan tetap penting. Pengetahuan, keterampilan, dan perencanaan yang matang dapat membantu mengurangi risiko. Namun ada titik tertentu ketika tambahan persiapan tidak lagi memberikan perubahan yang berarti. Yang dibutuhkan justru keberanian untuk mengambil langkah pertama.
Sebagian besar perjalanan hidup tidak dimulai dari keyakinan penuh. Banyak di antaranya dimulai dari keraguan yang tetap berjalan. Kita mungkin tidak pernah memiliki semua jawaban sebelum memulai. Kita juga tidak akan pernah bisa memastikan seluruh kemungkinan yang akan terjadi di depan.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita akan benar-benar siap. Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia melangkah meskipun masih ada sedikit rasa tidak siap di dalam diri. Sebab dalam banyak situasi, rasa siap bukanlah titik awal sebuah perjalanan. Ia sering muncul di tengah perjalanan itu sendiri. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.