Kesunyian pernah menjadi bagian yang biasa dalam kehidupan manusia. Namun hari ini, momen ketika seseorang benar-benar hanya bersama pikirannya sendiri terasa semakin jarang ditemukan.

Dahulu, menunggu sering berarti menunggu. Duduk di halte, mengantre, berada di ruang tunggu, atau menempuh perjalanan panjang menjadi kesempatan alami bagi pikiran untuk berjalan ke mana-mana. Tidak selalu menghasilkan sesuatu yang penting, tetapi memberi ruang bagi seseorang untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Kini situasinya berbeda.

Ketika ada jeda beberapa menit, tangan hampir otomatis meraih ponsel. Layar menyala. Notifikasi muncul. Video berganti video. Informasi berganti informasi. Bahkan sebelum pikiran sempat mengembara, perhatian sudah lebih dulu diarahkan ke tempat lain.

Perubahan ini terjadi begitu pelan sehingga sering tidak disadari. Padahal mungkin ada sesuatu yang ikut berkurang di tengah semakin padatnya arus informasi yang menemani hari-hari manusia.

Baca Juga: Mengapa Kita Lebih Mudah Mengingat Hal Memalukan daripada Hal Membanggakan?

Kesendirian Tidak Lagi Benar-Benar Sepi

Banyak orang menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang harus dihindari. Padahal dalam psikologi, kesendirian tidak selalu identik dengan kesepian.

Kesepian adalah perasaan tidak memiliki hubungan yang cukup bermakna dengan orang lain. Sementara kesendirian hanyalah keadaan ketika seseorang sedang tidak bersama siapa pun. Seseorang bisa merasa sangat kesepian di tengah keramaian, tetapi juga bisa merasa damai ketika duduk sendirian.

Psikiater Inggris Anthony Storr pernah menulis bahwa kemampuan menikmati kesendirian merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis manusia. Dalam ruang yang tenang, seseorang memiliki kesempatan untuk merenung, memahami dirinya sendiri, dan memberi makna pada berbagai pengalaman yang telah dijalani.

Masalahnya, kesendirian hari ini sering tidak benar-benar sepi.

Tubuh mungkin sedang sendiri, tetapi pikiran terus ditemani sesuatu. Musik mengalun di telinga. Podcast berjalan di latar belakang. Notifikasi berdatangan. Media sosial menyediakan aliran informasi yang nyaris tidak ada habisnya.

Tak ada yang salah dengan semua itu. Teknologi memang membantu manusia tetap terhubung dan memperoleh informasi dengan lebih mudah. Namun tanpa disadari, banyak jeda yang dahulu diisi oleh percakapan dengan diri sendiri kini perlahan digantikan oleh suara-suara dari luar.

Akibatnya, kesempatan untuk sekadar membiarkan pikiran berjalan tanpa tujuan menjadi semakin langka. Setiap kekosongan terasa harus segera diisi. Setiap keheningan terasa perlu ditemani sesuatu.

Padahal tidak semua ruang kosong harus ditakuti.

Baca Juga: Kenapa Banyak Kesalahan yang Sama Terulang Kembali?

Ketika Pikiran Kehilangan Ruang untuk Berbicara dengan Diri Sendiri

Budaya modern sering mengajarkan bahwa waktu harus dimanfaatkan seefisien mungkin. Waktu luang menjadi kesempatan untuk belajar. Waktu menunggu menjadi kesempatan untuk mengejar informasi. Bahkan saat beristirahat, banyak orang tetap merasa perlu melakukan sesuatu. Namun, otak manusia tidak selalu bekerja paling baik ketika terus-menerus menerima rangsangan.

Dalam dunia neurosains dikenal istilah default mode network, yaitu jaringan aktivitas otak yang bekerja ketika seseorang tidak sedang fokus pada tugas tertentu. Pada kondisi inilah pikiran sering melakukan refleksi, mengingat pengalaman masa lalu, membayangkan masa depan, atau mencoba memahami berbagai perasaan yang sedang dialami.

Dengan kata lain, ketika seseorang terlihat sedang melamun, pikirannya belum tentu menganggur. Justru pada saat-saat seperti itulah banyak pekerjaan batin berlangsung secara diam-diam.

Ide yang selama ini buntu tiba-tiba menemukan jalan keluar. Perasaan yang sulit dijelaskan mulai menemukan bentuknya. Pengalaman yang membingungkan perlahan tersusun menjadi pemahaman yang lebih utuh. Semua proses itu membutuhkan sesuatu yang semakin jarang tersedia: keheningan.

Bukan keheningan dalam arti tidak ada suara sama sekali, melainkan keadaan ketika perhatian tidak terus-menerus diperebutkan oleh berbagai hal. Sebuah ruang di mana seseorang dapat mendengar pikirannya sendiri tanpa gangguan yang datang setiap beberapa detik.

Barangkali itulah alasan mengapa sebagian orang merasa lelah meskipun tidak selalu melakukan pekerjaan fisik yang berat. Yang terkuras bukan hanya tenaga, tetapi juga perhatian. Pikiran terus menerima masukan, tetapi jarang memiliki kesempatan untuk mengolahnya.

Karena itu, sesekali duduk tanpa musik, tanpa video, tanpa notifikasi, mungkin bukan sekadar bentuk istirahat. Bisa jadi itu adalah cara sederhana untuk kembali mendengar diri sendiri.

Sebab, ada percakapan yang tidak bisa dilakukan dengan siapapun selain diri sendiri. Dan jika setiap jeda selalu diisi oleh sesuatu dari luar, mungkin yang perlahan hilang bukanlah waktu luang, melainkan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri kita. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.