Di banyak momen, hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah benar-benar kita pahami. Kita mengejar sesuatu yang terlihat penting, bekerja lebih keras, mencoba lebih banyak, dan berharap ada titik saat semuanya terasa cukup. Tapi sering, rasa cukup itu tidak pernah benar-benar datang.

Banyak hal yang kita kejar hari ini sebenarnya sudah lebih dulu didefinisikan oleh orang lain. Pekerjaan yang dianggap bergengsi, gaya hidup yang terlihat ideal, atau pencapaian yang sering dipamerkan di media sosial perlahan berubah menjadi standar. Dari situ, kita mulai bergerak, bukan karena tahu arahnya, tapi karena tidak ingin tertinggal.

Masalahnya, tidak semua yang terlihat berharga memang bernilai untuk diri kita sendiri.

Baca Juga: Capek Jadi Orang Lain? Saatnya Kini Mengenal Diri Sendiri

Nilai yang Dibentuk, Bukan Dipilih

Dalam banyak kasus, kita tidak benar-benar memilih apa yang kita anggap penting. Kita hanya terbiasa melihat hal yang sama berulang kali, sampai akhirnya menganggap itu sebagai sesuatu yang harus dicapai.

Gaji besar sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Bekerja di tempat tertentu terasa lebih 'naik kelas'. Bahkan keputusan untuk pindah karier atau memulai bisnis sering dipengaruhi oleh cerita sukses orang lain yang terlihat menjanjikan.

Tanpa disadari, nilai yang kita kejar bukan berasal dari pertanyaan pribadi, tetapi dari paparan yang terus-menerus. Apa yang sering terlihat, perlahan terasa seperti sesuatu yang harus diikuti.

Psikolog sosial Leon Festinger, melalui teori social comparison, menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Dalam proses ini, standar yang digunakan sering bukan milik sendiri, tetapi milik lingkungan.

Dari sini, mengejar sesuatu bisa terasa logis, padahal sebenarnya hanya reaksi terhadap apa yang dilihat.

Baca Juga: Kita Sering Merasa Salah Jalan, Tapi Memangnya Sudah Tahu Mau ke Mana?

Ketika Kita Mengejar Tanpa Memahami

Masalah terbesar bukan pada apa yang kita kejar, tetapi pada seberapa jauh kita memahami alasan di baliknya. Banyak orang bekerja keras, mengejar target, dan terus bergerak maju, tapi tidak pernah benar-benar berhenti untuk bertanya apakah semua itu memang mereka butuhkan.

Contohnya terlihat sederhana. Seseorang mengejar pekerjaan dengan gaji tinggi, tapi kehilangan waktu untuk hal-hal yang sebenarnya penting baginya. Atau seseorang mengikuti gaya hidup tertentu, hanya karena terlihat 'benar', tanpa merasa benar-benar nyaman menjalaninya.

Di titik ini, kelelahan mulai muncul. Bukan karena aktivitasnya terlalu banyak, tapi karena arah yang dijalani tidak sepenuhnya dipahami.

Filsuf Alain de Botton dalam bukunya Status Anxiety menjelaskan bahwa banyak kecemasan manusia modern berasal dari keinginan untuk diakui dalam sistem nilai sosial yang tidak selalu kita pilih sendiri. Kita merasa harus mencapai sesuatu, tanpa selalu tahu apakah itu benar-benar penting bagi kita.

Ketika nilai itu tidak pernah dipertanyakan, kita terus bergerak tanpa pernah benar-benar merasa sampai.

Baca Juga: Kita Sering Percaya Terlalu Cepat, Lalu Menyesal Terlambat

Bertanya yang Sering Terlewat

Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang muncul di tengah semua kesibukan ini. Bukan tentang bagaimana cara mencapai sesuatu, tapi apakah sesuatu itu memang layak dikejar.

Pertanyaan ini tidak selalu nyaman. Karena ketika mulai ditanyakan, banyak hal yang selama ini dianggap penting bisa terlihat berbeda. Apa yang dulu terasa jelas, tiba-tiba menjadi tidak pasti.

Namun di situlah proses sebenarnya dimulai. Bukan saat kita berhasil mencapai sesuatu, tapi saat kita mulai memahami apakah itu memang bernilai untuk diri kita.

Mungkin masalahnya bukan karena kita kurang berusaha. Tapi karena kita terlalu lama mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita tanyakan.

Di tengah banyaknya definisi tentang apa yang berharga, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya kemampuan untuk mengejar. Tapi keberanian untuk berhenti sejenak, dan bertanya: ini penting untuk siapa. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.