Di banyak linimasa, wajah terlihat semakin serupa. Riasan tipis, kulit tampak bersih, warna netral, dan ekspresi yang tenang seolah menjadi bentuk 'natural' yang baru. Dari situ, muncul kesan bahwa kita sedang menjadi diri sendiri, padahal mungkin sedang menuju bentuk yang sama.

Fenomena clean look atau clean girl aesthetic semakin sering muncul di TikTok dan Instagram. Konten dengan pencahayaan lembut, rambut rapi, dan riasan minimal mendapatkan respons tinggi dan mudah ditiru. Apa yang terlihat sederhana, pelan-pelan menjadi standar yang diikuti tanpa banyak dipertanyakan.

Di titik ini, pertanyaan menjadi penting. Apakah ini benar-benar selera personal yang berkembang, atau bentuk baru dari standar yang dibentuk bersama. Karena ketika sesuatu terasa 'alami', kita jarang merasa sedang mengikuti.

Apa yang dianggap natural seringkali bukan tanpa konstruksi. Ia dibentuk oleh contoh yang berulang, diperkuat oleh algoritma, dan dipertegas oleh respons publik. Dari sana, selera terasa lahir dari dalam, padahal tumbuh dari luar.

Baca Juga: Clean Girl vs Real Face: Kita Menilainya dari Budaya yang Mana?

Natural yang Dibentuk, Bukan Ditemukan

Istilah 'natural' dalam konteks kecantikan tidak selalu berarti tanpa usaha. Dalam banyak konten, clean look tetap melibatkan rutinitas skincare, pemilihan produk, hingga teknik riasan tertentu. Ia tampak sederhana, tetapi tetap dirancang agar terlihat tanpa jejak.

Media seperti BBC dan Vogue beberapa kali menyoroti tren clean girl aesthetic sebagai pergeseran dari riasan bold ke tampilan yang lebih minimal. Namun, pergeseran ini tidak menghilangkan standar, melainkan menggantinya dengan bentuk baru yang lebih halus. Standar itu tetap ada, hanya tampil lebih 'tenang'.

Di sinilah letak perubahan yang sering tidak disadari. Kita tidak lagi mengejar tampilan yang mencolok, tetapi mengejar kesan yang terlihat effortless. Padahal, kesan itu tetap dibangun melalui pilihan yang cukup spesifik.

Ketika contoh yang sama terus muncul, persepsi ikut terbentuk. Wajah yang bersih, warna yang netral, dan gestur yang kalem menjadi acuan bersama. Apa yang awalnya pilihan, perlahan terasa seperti keharusan.

Jika dilihat lebih jauh, ini bukan hanya soal kecantikan. Ini adalah cara budaya membentuk apa yang dianggap 'pantas' dan 'layak' ditampilkan. Dari sini, selera tidak sepenuhnya bebas, tetapi bergerak dalam batas yang disepakati bersama.

Baca Juga: ‘Introvert’, ‘Healing’, ‘Toxic’, Kenapa Kita Gemar Memberi Label pada Segalanya?

Terlihat Berbeda, Tapi Mengarah ke Bentuk yang Sama

Menariknya, banyak orang merasa sedang mengekspresikan diri melalui tampilan ini. Pilihan dianggap personal, karena tidak ada aturan tertulis yang memaksa. Namun, hasil akhirnya sering terlihat serupa di berbagai akun.

Fenomena ini pernah dijelaskan oleh sosiolog Pierre Bourdieu melalui konsep distinction. Selera tidak hanya soal preferensi individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan pola yang berulang. Apa yang terlihat 'pilihan pribadi' sering adalah hasil dari pembiasaan sosial.

Dalam konteks media sosial, pembiasaan itu terjadi lebih cepat. Algoritma menampilkan konten yang mirip, pengguna meniru yang berhasil, dan lingkaran ini terus berputar. Dari sini, perbedaan menjadi tipis, meskipun setiap orang merasa unik.

Di titik ini, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan apakah tren ini baik atau tidak. Tapi apakah kita masih punya jarak untuk melihatnya sebagai tren. Karena ketika sesuatu terasa alami, kita jarang menyadari bahwa ia sedang membentuk cara kita melihat diri sendiri.

Mungkin tidak semua yang terlihat natural benar-benar datang dari dalam. Bisa jadi, ia adalah bentuk yang paling rapi dari sesuatu yang sudah lama kita lihat. Dan tanpa terasa, kita ikut merapikannya di wajah kita sendiri. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.