Perdebatan yang muncul menjelang pembukaan ArtJog 2026 kembali mengangkat pertanyaan lama yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab. Seberapa dekat seni seharusnya berdiri dengan kekuasaan?

Beberapa hari sebelum ArtJog 2026 dibuka untuk publik, ruang diskusi seni di Indonesia diramaikan oleh keberatan sejumlah seniman terhadap keterlibatan Didit Hediprasetyo dalam acara tersebut. Perdebatan yang muncul kemudian mendorong penyelenggara melakukan penyesuaian, termasuk membatalkan rencana pidato pembukaan yang semula dijadwalkan melibatkan putra Presiden Prabowo Subianto itu.

Peristiwa tersebut bukan sekadar soal satu nama atau satu pameran. Di baliknya tersimpan pertanyaan yang jauh lebih tua dan lebih besar. Haruskah seni selalu menjaga jarak dari kekuasaan, atau justru hubungan antara keduanya memang tidak pernah bisa dipisahkan sepenuhnya?

Baca Juga: Musik Lama Ramai Diputar Lagi, Nostalgia atau Orang Sudah Jenuh?

Seni Tidak Pernah Sepenuhnya Jauh dari Kekuasaan

Jika melihat sejarah, hubungan antara seni dan kekuasaan sebenarnya sudah berlangsung selama berabad-abad. Banyak karya yang hari ini dianggap sebagai warisan besar peradaban lahir berkat dukungan para penguasa, kerajaan, institusi keagamaan, atau kelompok elite yang memiliki sumber daya.

Pada masa Renaisans di Italia, misalnya, keluarga Medici dikenal sebagai salah satu patron terbesar bagi para seniman. Dukungan mereka memungkinkan lahirnya berbagai karya yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah seni dunia. Di berbagai belahan dunia lainnya, istana dan kerajaan juga sering menjadi ruang tempat seni berkembang, baik dalam bentuk lukisan, sastra, musik, maupun pertunjukan.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa seni tidak selalu tumbuh di luar lingkar kekuasaan. Dalam banyak kasus, kekuasaan justru menyediakan ruang, sumber daya, dan perlindungan yang memungkinkan karya-karya besar tercipta. Karena itu, hubungan antara seni dan kekuasaan tidak bisa dipahami hanya sebagai hubungan antara pihak yang selalu berlawanan.

Namun, sejarah juga memperlihatkan sisi lain. Dukungan dari kekuasaan seringkali disertai dengan harapan tertentu. Ada karya yang dibuat untuk mengabadikan kejayaan penguasa, memperkuat legitimasi politik, atau membangun citra yang diinginkan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Di titik inilah pertanyaan tentang kebebasan artistik mulai muncul.

Baca Juga: Orang Datang ke Pameran untuk Melihat Karya, atau Membuktikan Pernah Datang?

Mengapa Jarak Tetap Menjadi Perdebatan?

Di era modern, banyak seniman memandang independensi sebagai salah satu nilai penting dalam berkarya. Seni tidak hanya dipahami sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertanyakan, mengkritik, dan menghadirkan sudut pandang yang berbeda terhadap berbagai persoalan sosial.

Karena itu, setiap kali seni dianggap terlalu dekat dengan kekuasaan, perdebatan hampir selalu muncul. Kekhawatiran yang sering mengemuka bukan semata-mata soal siapa yang hadir dalam sebuah acara atau siapa yang memberikan dukungan. Yang dipersoalkan adalah kemungkinan berkurangnya kebebasan seni untuk tetap bersikap kritis.

Perdebatan serupa juga terjadi di berbagai negara. Seniman Tiongkok, Ai Weiwei, misalnya, dikenal luas karena karya-karyanya yang sering berbenturan dengan narasi resmi negara. Melalui karya seni dan aktivitasnya, ia menjadi salah satu simbol diskusi global mengenai hubungan antara kebebasan berekspresi dan kekuasaan politik. Di tempat lain, termasuk di Rusia dan beberapa negara Barat, perdebatan mengenai pendanaan seni, kebebasan berkarya, dan pengaruh politik juga terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda-beda.

Semua itu menunjukkan bahwa persoalan ini bukan milik Indonesia semata. Seni dan kekuasaan selalu berada dalam hubungan yang rumit. Kadang keduanya saling mendukung. Kadang saling membutuhkan. Kadang pula saling mencurigai.

Mungkin karena itu, pertanyaan tentang jarak antara seni dan kekuasaan tidak pernah memiliki jawaban yang benar-benar pasti. Sejarah menunjukkan bahwa seni tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kekuasaan. Namun, sejarah juga memperlihatkan bahwa seni sering memperoleh makna yang paling kuat ketika tetap memiliki ruang untuk bersikap bebas.

Perdebatan yang muncul di sekitar ArtJog 2026 mengingatkan kita bahwa hubungan antara seni dan kekuasaan akan selalu jadi wilayah yang sensitif. Bukan karena keduanya harus selalu bermusuhan, melainkan karena masyarakat terus berharap agar seni tetap memiliki kemampuan untuk berbicara dengan suaranya sendiri, bahkan ketika kekuasaan berada sangat dekat di sekitarnya. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.