Banyak aplikasi sekarang meminta akses kepada kamera, mikrofon, lokasi, kontak, bahkan galeri foto sejak pertama kali dibuka. Kadang aplikasi sederhana pun terasa ingin tahu terlalu banyak hal dari penggunanya.

Fenomena itu semakin sering membuat orang bertanya-tanya. Kenapa aplikasi edit foto perlu akses lokasi? Kenapa aplikasi belanja ingin membaca kontak? Dan kenapa hampir semua aplikasi sekarang meminta izin notifikasi terus-menerus?

Sebagian orang langsung menekan tombol ‘Izinkan’ tanpa berpikir panjang karena ingin cepat memakai aplikasinya. Namun sebagian lain mulai merasa tidak nyaman karena ponsel pribadi sekarang terasa semakin terbuka kepada sistem yang tidak benar-benar mereka pahami.

Yang menarik, kondisi ini sebenarnya bukan sekadar soal teknologi. Ada model bisnis digital yang bekerja di balik semua permintaan akses tersebut.

Dalam buku The Age of Surveillance Capitalism [2019], Profesor Harvard Shoshana Zuboff menjelaskan bahwa ekonomi digital modern berkembang dengan mengumpulkan data perilaku manusia sebanyak mungkin. Aktivitas pengguna, lokasi, kebiasaan, hingga pola interaksi digital memiliki nilai besar karena dapat dipakai untuk memprediksi minat dan perilaku seseorang.

Karena itu, semakin banyak data yang dimiliki platform, semakin besar pula kemampuan mereka memahami penggunanya.

Baca Juga: Banyak Orang Mulai Pakai AI buat Balas Chat Kerja, Lawan Bicara Bisa Bedain Nggak?

Banyak Aplikasi Tidak Hanya Ingin Dipakai, Tapi Juga Ingin Mengenal Penggunanya

Di era aplikasi modern, data menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ketika seseorang menggunakan aplikasi navigasi, belanja, media sosial, atau hiburan, sistem sebenarnya terus membaca pola perilaku pengguna secara perlahan.

Data itu kemudian dipakai untuk banyak hal. Mulai dari personalisasi iklan, rekomendasi konten, analisis kebiasaan pengguna, sampai pengembangan fitur yang membuat orang bertahan lebih lama di aplikasi tersebut.

Pakar teknologi Tristan Harris pernah menjelaskan bahwa banyak platform digital modern dirancang untuk memaksimalkan perhatian pengguna. Agar sistem bekerja semakin efektif, aplikasi membutuhkan data yang semakin detail tentang siapa penggunanya dan bagaimana mereka beraktivitas setiap hari. Itu sebabnya banyak aplikasi sekarang meminta akses yang kadang terasa berlebihan.

Sebagian izin memang benar-benar dibutuhkan agar fitur aplikasi berjalan normal. Aplikasi peta tentu memerlukan lokasi, sementara aplikasi kamera membutuhkan akses kamera dan mikrofon. Namun masalah mulai muncul ketika izin yang diminta terasa tidak relevan dengan fungsi utamanya.

Di titik itu, banyak orang mulai sadar bahwa ponsel modern bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga sumber data yang sangat besar.

Baca Juga: Googling, TikTok, atau AI? Cara Orang Mencari Jawaban Sedang Berubah

Kenyamanan Digital Sering Membuat Orang Lupa Seberapa Banyak Data yang Sudah Dibagikan

Salah satu alasan mengapa banyak orang tetap memberi izin akses adalah karena semuanya dibuat terasa sangat praktis. Tinggal tekan ‘Allow’, aplikasi langsung bisa dipakai tanpa proses panjang. Lama-lama, kebiasaan itu membuat pengguna tidak lagi benar-benar membaca apa yang sebenarnya sedang mereka setujui.

Penulis Nicholas Carr dalam The Shallows [2010] menjelaskan bahwa teknologi digital membuat manusia semakin terbiasa mengambil keputusan cepat tanpa refleksi panjang. Sistem digital dirancang agar interaksi terasa mulus dan instan, sehingga pengguna jarang berhenti untuk mempertanyakan proses yang sedang terjadi.

Fenomena itu terlihat jelas dalam penggunaan aplikasi sehari-hari. Banyak orang baru sadar soal privasi setelah iklan terasa terlalu spesifik, lokasi terasa terlalu terlacak, atau media sosial seperti ‘mengetahui’ hal-hal yang baru saja dibicarakan. Padahal sebagian besar proses itu berjalan melalui data kecil yang dikumpulkan terus-menerus dari aktivitas digital sehari-hari.

Mungkin itu sebabnya aplikasi modern sekarang terasa semakin ingin tahu banyak hal tentang penggunanya. Sebab di dunia digital hari ini, perhatian manusia memang penting, tetapi data tentang manusia sering kali jauh lebih berharga. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.