Kita pernah ada di momen itu. Scroll satu video, lalu lanjut ke video berikutnya, lalu tanpa sadar sudah lewat setengah jam. Isinya ringan, kadang absurd, bahkan tidak benar-benar memberi apa-apa. Tapi tetap saja kita tonton sampai habis.

Dan yang menarik, kita tahu itu tidak penting. Tapi jari tetap bergerak, mata tetap mengikuti. Dan waktu tetap berjalan tanpa terasa.

Di media sosial, konten seperti ini semakin banyak. Video orang jatuh yang diulang-ulang, eksperimen sederhana yang dilebih-lebihkan, atau reaksi berlebihan terhadap hal kecil. Bahkan konten seperti “coba tahan napas sambil nonton ini” atau “jangan skip kalau kamu berani” sering muncul di beranda.

Kita sadar ini tidak mengubah apa pun. Tidak menambah pengetahuan, tidak memberi dampak berarti. Tapi tetap saja, kita berhenti dan menonton.

Baca Juga: Algoritma dan Persepsi Konsumen

Daya Tarik yang Sederhana, Tapi Kuat

Salah satu alasannya adalah karena konten seperti ini dirancang untuk menarik perhatian secepat mungkin. Tidak butuh konteks, tidak perlu berpikir panjang, dan bisa langsung dipahami dalam hitungan detik.

Contohnya sederhana. Video potong buah dengan suara 'crunch' yang jelas, slime yang diremas pelan, atau seseorang membuka paket misterius. Tidak ada cerita besar, tapi ada rasa penasaran kecil yang terus dipancing.

Hal lain yang sering muncul adalah konten 'looping'. Video yang dibuat agar terlihat tidak punya akhir, sehingga kita menonton ulang tanpa sadar. Dari situ, waktu berjalan tanpa benar-benar kita sadari.

Di titik ini, kita tidak lagi menonton karena penting. Tapi karena mudah.

Baca Juga: Kenapa Kita Cepat Suka, Lalu Cepat Bosan pada Hal yang Sama?

Otak yang Mencari Hal Ringan

Setelah seharian berpikir dan bekerja, otak cenderung mencari sesuatu yang ringan. Konten yang tidak menuntut, tidak memaksa, dan tidak membutuhkan energi untuk dipahami.

Video seperti orang memasak dalam 30 detik, makeover cepat, atau prank ringan terasa seperti 'istirahat'. Kita tidak perlu menganalisis, cukup menikmati.

Namun, karena terlalu mudah diakses, waktu yang seharusnya singkat bisa menjadi panjang. Satu video menjadi sepuluh, lalu menjadi puluhan.

Yang menarik, kita sering tidak merasa bersalah saat menonton. Tapi setelahnya, muncul perasaan seperti waktu terbuang tanpa jelas.

Baca Juga: Kita Sering Merasa Bebas di Media Sosial, Tapi Benarkah Tanpa Batas?

Antara Pilihan dan Kebiasaan

Di titik ini, muncul pertanyaan sederhana. Apakah kita benar-benar memilih untuk menonton, atau hanya mengikuti kebiasaan?

Algoritma memang berperan dalam menyajikan konten yang sesuai dengan minat kita. Tapi keputusan untuk berhenti atau lanjut tetap ada di tangan kita.

Masalahnya, kebiasaan sering lebih kuat dari kesadaran. Kita tahu ini tidak penting, tapi tetap melakukannya karena sudah terbiasa.

Ini bukan soal benar atau salah. Tapi soal bagaimana kita menggunakan waktu dan perhatian kita sendiri. Karena apa yang kita tonton, perlahan membentuk apa yang kita pikirkan.

Mungkin kita tidak perlu berhenti sepenuhnya. Tapi setidaknya, kita bisa mulai lebih sadar. Bahwa tidak semua yang menarik perhatian layak mendapatkan waktu kita.

Dan mungkin, di situlah perubahan kecil bisa dimulai. Bukan dari berhenti total, tapi dari satu keputusan sederhana untuk tidak selalu lanjut ke video berikutnya. [][Rudi Tenggarawan/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]