Dulu, ketika menghadapi kebingungan, kita biasanya mencari pendapat kedua dari orang lain. 

Kita bertanya kepada teman, pasangan, rekan kerja, atau anggota keluarga. Kadang kita hanya ingin memastikan keputusan yang akan diambil sudah tepat. Kadang kita hanya membutuhkan sudut pandang yang berbeda. Kini, ada satu ‘lawan bicara’ baru yang mulai sering diajak berdiskusi: kecerdasan buatan atau artificial intelligence [AI].

Fenomena ini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang bertanya kepada AI tentang pilihan karier, meminta saran untuk menulis surat lamaran pekerjaan, berdiskusi mengenai ide bisnis, hingga meminta masukan tentang hubungan dan persoalan pribadi.

Menariknya, yang dicari tidak selalu jawaban yang paling benar. Banyak orang sebenarnya sedang mencari sesuatu yang lebih sederhana: perspektif lain. Lalu, mengapa AI mulai menjadi tempat mencari pendapat kedua?

Baca Juga: Mengapa AI Tidak Belajar seperti Manusia?

AI Selalu Siap Menjawab dan Tidak Pernah Terlihat Menghakimi

Ada satu hal yang membuat AI terasa menarik sebagai teman berdiskusi. Ia selalu tersedia. Kita tidak perlu menunggu seseorang membalas pesan atau merasa sungkan menghubungi teman yang sedang sibuk.

AI juga tidak menunjukkan ekspresi kecewa, tidak memotong pembicaraan, dan tidak memberi kesan sedang menghakimi. Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini membuat proses berpikir terasa lebih nyaman.

Ketika sedang bimbang, manusia sering kali tidak hanya membutuhkan jawaban. Kita juga membutuhkan ruang untuk mengurai pikiran. Dengan bertanya kepada AI, seseorang dapat menuliskan kebingungannya secara lebih runtut dan melihat kembali persoalan yang sedang dihadapi dari sudut yang berbeda.

Dalam beberapa situasi, AI berfungsi seperti cermin. Ia membantu kita melihat ulang pertanyaan yang sebenarnya sedang kita hadapi.

Baca Juga: Benarkah Konten yang Kita Anggap ‘Random’ Ternyata Sudah Dipersonalisasi Mesin?

Yang Dicari Sering Kali Bukan Jawaban, Melainkan Kejernihan Berpikir

Psikolog dan ilmuwan kognitif Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, menjelaskan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan secara sepenuhnya rasional. Kita dipengaruhi oleh emosi, pengalaman masa lalu, serta berbagai bias yang sering tidak kita sadari.

Karena itu, manusia sejak lama terbiasa mencari pendapat kedua. Kita ingin memastikan bahwa cara berpikir kita tidak terlalu sempit atau terlalu dipengaruhi oleh emosi sesaat.

AI menghadirkan kemungkinan baru dalam proses tersebut. Ia mampu merangkum informasi, menawarkan beberapa alternatif, dan membantu seseorang melihat lebih dari satu sisi dalam sebuah persoalan.

Namun, AI tetap memiliki keterbatasan. Ia tidak menjalani hidup kita. Ia tidak memahami seluruh konteks pribadi, hubungan, dan pengalaman yang membentuk keputusan seseorang. Pendapat dari AI sebaiknya dipandang sebagai salah satu pertimbangan, bukan sebagai otoritas yang menggantikan kemampuan manusia untuk menilai dan memutuskan.

Mungkin karena itulah semakin banyak orang mulai menjadikan AI sebagai tempat mencari pendapat kedua. Di tengah kehidupan yang serba cepat, kita membutuhkan ruang untuk berpikir lebih jernih dan mempertimbangkan lebih banyak kemungkinan.

Akan tetapi, perubahan ini juga menghadirkan pertanyaan yang menarik. Jika dahulu kita bertanya kepada AI setelah mendengar pendapat dari orang lain, kini ada orang-orang yang justru membuka aplikasi AI terlebih dahulu ketika sedang bingung.

AI memang sedang menjadi tempat mencari pendapat kedua. Namun, melihat kebiasaan yang mulai terbentuk saat ini, muncul satu pertanyaan yang layak dipikirkan bersama: jangan-jangan, bagi sebagian orang, AI diam-diam sudah mulai menjadi tempat mencari pendapat pertama. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.