AI sering disebut mampu belajar. Namun semakin sering kita menggunakannya, semakin terlihat bahwa cara AI belajar berbeda dari cara manusia memahami dunia.

Istilah machine learning membuat banyak orang membayangkan bahwa AI belajar seperti manusia. Ia menerima informasi, memahami kesalahan, lalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Gambaran itu tak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Pengalaman menggunakan AI sehari-hari menunjukkan hal yang menarik. Ada kalanya sebuah kesalahan sudah dikoreksi berkali-kali, tetapi kesalahan serupa tetap muncul di kesempatan lain. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: jika AI memang belajar, mengapa proses belajarnya terasa sangat berbeda dengan manusia?

Baca Juga: Ketika AI Bisa Merangkum Segalanya, Apakah Kita Masih Mau Membaca Sampai Selesai?

Manusia Belajar dari Pengalaman, AI Belajar dari Pola

Sejak kecil, manusia belajar melalui pengalaman. Kita belajar berjalan setelah beberapa kali terjatuh. Kita belajar berbicara setelah berulang kali mencoba mengucapkan kata yang belum sempurna. Kita belajar berhati-hati karena pernah melakukan kesalahan dan merasakan akibatnya.

Dalam proses itu, informasi bukan satu-satunya hal yang tersimpan. Ada pengalaman, emosi, konsekuensi, dan pemahaman yang ikut membentuk cara kita berpikir. Ketika seseorang menyentuh benda panas, misalnya, ia tidak hanya mengetahui bahwa benda tersebut berbahaya. Ia juga mengalami rasa sakit yang membuat pengetahuan itu melekat lebih dalam.

AI bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak mengalami dunia secara langsung. Ia tidak merasakan sakit, kecewa, malu, atau menyesal. Yang dilakukan AI adalah mengenali pola dari sejumlah besar data yang pernah dipelajarinya. Dari pola-pola itulah ia memperkirakan jawaban yang paling mungkin diberikan terhadap suatu pertanyaan atau perintah.

Karena itu, ketika manusia melakukan kesalahan, pengalaman tersebut dapat mengubah cara pandangnya terhadap situasi serupa di masa depan. Sementara pada AI, yang terjadi lebih dekat kepada penyesuaian pola daripada pembentukan pengalaman. Inilah sebabnya mengapa kemampuan AI yang terlihat sangat canggih tetap memiliki keterbatasan yang kadang terasa aneh bagi manusia.

Baca Juga: AI Sudah Punya Kecerdasan, Tapi Akankah Ia Memiliki Kesadaran?

Pengetahuan Belum Tentu Menjadi Pemahaman

Perbedaan ini mengingatkan pada satu pertanyaan yang semakin sering muncul dalam diskusi kecerdasan buatan: apakah mengetahui sesuatu sama dengan memahaminya?

AI saat ini mampu menjelaskan berbagai hal dengan sangat baik. Ia dapat menerangkan apa itu kesedihan, kehilangan, cinta, atau ketakutan. Ia dapat menulis puisi tentang hujan dan membuat cerita tentang kerinduan. Namun semua itu dilakukan tanpa pernah mengalami hujan, kehilangan, atau kerinduan itu sendiri.

Di sinilah muncul gagasan yang pernah dibahas Wendra Wilendra, M.MT. dalam The Missing Layer in AI. Menurutnya, perkembangan AI yang sangat pesat masih menyisakan satu lapisan yang belum benar-benar terjawab. Lapisan itu bukan soal data, kecepatan komputasi, atau kemampuan menghasilkan jawaban. Yang belum hadir adalah pengalaman subjektif yang selama ini menjadi bagian dari kesadaran manusia.

Manusia tidak hanya mengetahui dunia. Manusia mengalaminya. Dari pengalaman itulah lahir pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai hal. Pengetahuan yang diperoleh bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan sesuatu yang terhubung dengan ingatan, emosi, dan pengalaman hidup.

AI mungkin mampu menyimpan dan mengolah informasi dalam jumlah yang jauh melampaui kemampuan manusia. Namun selama ia tidak mengalami dunia seperti manusia mengalaminya, akan selalu ada jarak antara mengetahui dan memahami.

Karena itu, pertanyaan tentang masa depan AI mungkin bukan lagi sekadar seberapa pintar mesin dapat dibuat. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah kecerdasan tanpa pengalaman akan pernah menghasilkan pemahaman yang sama seperti yang dimiliki manusia. Sampai hari ini, jawabannya masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam perkembangan kecerdasan buatan. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.