Oleh Vikalena Lasmoskwa

Barangkali kekuasaan tidak selalu mengubah seseorang menjadi lebih buruk. Kadang yang berubah justru orang-orang di sekelilingnya: mereka menjadi lebih hati-hati, lebih banyak mengangguk, dan semakin jarang berkata tidak.

Lebih dari satu abad lalu, Lord Acton menulis kalimat yang kemudian begitu sering dikutip: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kalimat itu muncul dalam suratnya kepada Mandell Creighton pada 1887, dalam perdebatan mengenai bagaimana orang-orang besar dalam sejarah seharusnya dinilai. Bagi Acton, kedudukan tidak seharusnya membuat seseorang memperoleh standar moral yang lebih longgar dibanding manusia lainnya.

Kita kemudian begitu terbiasa menghubungkan kalimat tersebut dengan presiden, raja, diktator, pejabat, atau orang-orang yang mempunyai kekuasaan sangat besar. Padahal mungkin ada cara lain untuk membacanya. Sebelum bertanya apa yang dilakukan kekuasaan kepada seorang penguasa, bagaimana kalau kita bertanya apa yang dilakukan kekuasaan terhadap orang-orang yang berada di sekelilingnya?

Saya memikirkan seorang atasan yang baru mendapatkan jabatan lebih tinggi. Dahulu teman-temannya leluasa mengatakan idenya buruk, menggodanya ketika keliru, atau memotong pembicaraannya ketika mulai melantur. Beberapa tahun kemudian, orang yang sama masuk ke ruangan dan semua orang menunggu apa yang akan dikatakannya.

Ia mungkin merasa dirinya masih orang yang sama. Tetapi ruangan itu sudah berbeda.

Orang-orang memilih kata sebelum berbicara. Kritik disampaikan setelah dibungkus pujian. Ketidaksetujuan berubah menjadi “mungkin bisa dipertimbangkan lagi”. Beberapa orang bahkan memutuskan bahwa diam jauh lebih aman daripada mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar atasannya.

Dari dalam dirinya, hampir tidak ada yang terasa berubah. Dari luar, perlahan-lahan cermin mulai menghilang.

Baca Juga: Bukan Karena Membaca Pesan, Kita Kelelahan karena Merasa Harus Terus Merespons Percakapan

Ketika Kata Tidak Menjadi Semakin Mahal

Psikolog Dacher Keltner, Deborah Gruenfeld, dan Cameron Anderson pernah mengembangkan teori mengenai hubungan antara kekuasaan, perilaku mendekat, dan penghambatan sosial. Mereka menemukan bahwa kekuasaan berkaitan dengan perhatian yang lebih besar terhadap penghargaan, pemrosesan informasi yang lebih otomatis, dan perilaku yang lebih tidak terhambat. Sebaliknya, mereka yang memiliki kekuasaan lebih rendah cenderung lebih memperhatikan ancaman, hukuman, kepentingan orang lain, serta batas-batas sosial di sekelilingnya.

Temuan lain dari Adam Galinsky dan rekan-rekannya membuat persoalan ini semakin menarik. Dalam serangkaian eksperimen, mereka menemukan bahwa partisipan yang ditempatkan dalam kondisi kekuasaan tinggi menunjukkan kecenderungan lebih rendah untuk mengambil perspektif orang lain. Mereka juga kurang akurat membaca ekspresi emosi dibanding kelompok pembanding.

Ini tentu tidak berarti setiap bos kehilangan empati setelah mendapatkan ruang kerja sendiri, atau setiap orang tua otomatis menjadi tiran begitu anaknya lahir.

Namun kekuasaan memang mengubah struktur sebuah hubungan. Seorang bawahan mempunyai sesuatu yang dipertaruhkan ketika mengoreksi atasannya. Murid mempunyai sesuatu yang dipertaruhkan ketika membantah gurunya. Anak mempunyai sesuatu yang dipertaruhkan ketika mengatakan kepada orang tuanya bahwa ucapan mereka menyakitkan. Junior mempunyai sesuatu yang dipertaruhkan ketika mengatakan seniornya keliru.

Orang yang mempunyai kuasa mungkin hanya mendengar sebuah pendapat. Tetapi orang yang menyampaikannya sedang menghitung risiko.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa seseorang bisa benar-benar merasa dirinya tidak berubah meskipun orang-orang di sekelilingnya mengatakan sebaliknya. Ia menilai dirinya berdasarkan informasi yang sampai kepadanya. Masalahnya, semakin besar kuasa yang dimilikinya, semakin banyak informasi yang mungkin berhenti sebelum sampai.

Bukan karena semua orang di sekelilingnya penjilat. Kadang mereka hanya belajar dari pengalaman.

Mungkin seseorang pernah menyampaikan kritik, lalu wajah atasannya berubah. Tidak ada bentakan. Tidak ada ancaman. Tetapi beberapa minggu kemudian ia tidak lagi diajak ke rapat penting. Bisa juga seorang anak pernah mengatakan ayahnya keliru, lalu selama berhari-hari rumah menjadi dingin.

Tidak perlu ada larangan resmi untuk membuat manusia berhenti berbicara. Cukup buat kejujuran terasa mahal. Lama-kelamaan, orang akan belajar memilih mana yang lebih aman.

Dan di sinilah kekuasaan mungkin mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih halus daripada membuat seseorang menjadi jahat: ia dapat membuat seseorang kehilangan informasi tentang dirinya sendiri.

Baca Juga: Masih Bisakah Kita Tetap Kritis kepada Tangan yang Menghidupi Kita? 

Kita Membutuhkan Orang yang Masih Berani Membuat Kita Tidak Nyaman

Kita sering membayangkan penyalahgunaan kekuasaan sebagai sesuatu yang besar. Uang yang diambil, aturan yang dilanggar, kewenangan yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Padahal kerusakannya mungkin dimulai jauh sebelum semua itu terjadi.

Ia bisa dimulai ketika kita merasa tidak lagi perlu menjelaskan keputusan.

Ketika pertanyaan terdengar seperti ketidakpercayaan. Ketika kritik terasa seperti ketidaksetiaan. Ketika orang yang berbeda pendapat dianggap tidak memahami situasi. Ketika fasilitas yang dahulu terasa sebagai privilese perlahan dianggap sesuatu yang memang sudah sepantasnya diterima.

Tidak ada alarm yang berbunyi ketika perubahan-perubahan kecil itu terjadi. Justru karena itulah ia berbahaya.

Saya juga tidak yakin solusinya sesederhana mengingatkan orang berkuasa untuk tetap rendah hati. Hampir semua orang merasa dirinya cukup rendah hati. Saya belum pernah bertemu seseorang yang bangun pagi kemudian berkata, “Mulai hari ini saya ingin menjadi arogan.”

Mungkin kita membutuhkan sesuatu yang lebih konkret. Kita membutuhkan orang yang masih boleh mengatakan tidak.

Seorang pemimpin membutuhkan bawahan yang tidak takut mengatakan rencananya buruk. Orang tua membutuhkan anak yang tahu bahwa mengatakan dirinya terluka tidak akan membuat kasih sayang dicabut. Guru membutuhkan murid yang boleh bertanya apakah gurunya mungkin keliru. Orang yang paling dihormati dalam sebuah keluarga membutuhkan seseorang yang tetap berani mengatakan bahwa kali ini ia keterlaluan.

Kekuasaan ternyata bukan hanya tentang kemampuan membuat orang melakukan sesuatu. Ia juga tentang kemampuan membuat orang tidak mengatakan sesuatu. Dan bagian kedua itulah yang sering tidak terlihat.

Kita bisa saja tidak pernah membentak bawahan. Tidak pernah mengancam anak. Tidak pernah mengatakan kepada siapapun bahwa kritik dilarang. Namun pertanyaannya bukan hanya apakah kita mengizinkan orang lain berbicara.

Pertanyaannya adalah apakah cara kita bereaksi membuat mereka ingin berbicara lagi setelahnya. Barangkali ada ukuran sederhana untuk mengetahui apakah kekuasaan mulai menciptakan jarak antara diri kita dan kenyataan.

Lihat siapa yang masih berani berbeda pendapat dengan kita. Lihat apakah orang terdekat masih bisa mengatakan bahwa lelucon kita tidak lucu, keputusan kita keliru, ucapan kita menyakitkan, atau gagasan kita memang tidak sebagus yang kita bayangkan.

Kalau semua orang selalu setuju, mungkin kita memang luar biasa. Tetapi mungkin juga mereka sudah belajar bahwa ketidaksetujuan mempunyai harga.

Saya semakin merasa bahwa ancaman terbesar kekuasaan bukan ketika seseorang sadar dirinya telah berubah. Justru yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika ia sama sekali tidak menyadarinya, karena orang-orang yang dulu berfungsi sebagai cermin sudah satu per satu memilih menunduk.

Kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak pujian ketika berada di posisi yang semakin tinggi. Mungkin yang jauh lebih kita butuhkan adalah seseorang yang masih cukup aman untuk mengecewakan kita.

Jadi, kalau suatu hari kita mempunyai lebih banyak kuasa daripada sebelumnya—sebagai atasan, orang tua, guru, senior, pemimpin, atau sekadar seseorang yang hidupnya mulai bergantung pada keputusan kita—mungkin ada satu pertanyaan yang layak sesekali diajukan kepada diri sendiri.

Kapan terakhir kali seseorang mengatakan “tidak” kepada kita? Dan yang lebih penting: apa yang kita lakukan setelah mendengarnya? []

Bandung, 24 September 2026