Oleh Vikalena Lasmoskwa
Entah sejak kapan jumlah grup WhatsApp bisa jadi semacam catatan perjalanan hidup seseorang.
Ada grup keluarga inti, keluarga besar dari pihak ayah, keluarga besar dari pihak ibu, teman sekolah, teman kuliah, kantor, divisi kantor, proyek kantor, penghuni kompleks, warga RT, komunitas olahraga, kelompok pengajian, kepanitiaan acara yang sebenarnya sudah selesai dua tahun lalu, sampai grup reuni yang mendadak ramai menjelang acara lalu kembali sunyi sesudahnya. Beberapa kita buka setiap hari, sebagian sudah lama kita bisukan, dan beberapa lainnya mungkin membuat kita bertanya dalam hati, saya sebenarnya masih ada di sini untuk apa?
Anehnya, grup yang sudah kita bisukan pun tidak sepenuhnya berhenti mengambil perhatian. Angka pesan yang belum terbaca terus bertambah di samping namanya: 46, 128, 317, lalu suatu hari angka itu tidak lagi ditampilkan karena sudah terlalu banyak. Kita sebenarnya tahu bahwa sebagian besar percakapan di dalamnya mungkin tidak membutuhkan kita, tetapi tetap saja ada dorongan untuk sesekali membukanya. Siapa tahu ada sesuatu yang penting. Siapa tahu ada yang menyebut nama kita. Siapa tahu ada pertanyaan yang seharusnya kita jawab.
“Siapa tahu” inilah yang melelahkan.
Bukan karena membaca pesan membutuhkan tenaga begitu besar. Jempol kita bahkan sudah sangat terlatih menggulir ratusan pesan dalam beberapa menit. Yang jauh lebih melelahkan adalah beban kecil yang mengikuti setiap percakapan: apakah saya harus menjawab, apakah tidak sopan kalau hanya membaca, apakah saya perlu mengucapkan selamat, apakah saya harus memberikan pendapat, apakah orang akan tersinggung kalau saya diam?
Tanpa pernah membuat kesepakatan apa pun, kita perlahan merasa mempunyai kewajiban sosial untuk terus merespons percakapan yang datang kepada kita.
Baca Juga: Masih Bisakah Kita Tetap Kritis kepada Tangan yang Menghidupi Kita?
Ketika Setiap Grup Membawa Kewajibannya Sendiri
Ada perbedaan besar antara percakapan di dunia fisik dan percakapan di ruang digital. Ketika beberapa orang sedang berbicara di sebuah ruangan dan kita tidak berada di sana, kita tidak merasa bersalah karena tidak mengetahui isi pembicaraan mereka. Kita memang tidak ada di tempat itu. Tidak ada alasan untuk merasa harus mengetahui semuanya.
WhatsApp mengubah batas tersebut. Sebuah percakapan bisa berlangsung ketika kita sedang bekerja, makan bersama keluarga, mengemudi, berlibur, bahkan tidur. Ketika kembali membuka ponsel, percakapan itu masih menunggu. Semua yang terlewat tersimpan dengan rapi, seolah memberikan kesempatan kedua untuk mengejar apa pun yang tidak sempat kita ikuti.
Kemudahan itu tentu sangat membantu. Kita dapat berkoordinasi tanpa harus berada di tempat yang sama. Keluarga yang tinggal berjauhan tetap dapat saling bertukar kabar. Pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat, informasi lingkungan dapat tersebar dalam hitungan detik, dan teman-teman lama tetap mempunyai ruang untuk saling menyapa.
Masalah muncul ketika kemudahan berkomunikasi perlahan berubah menjadi tuntutan untuk selalu dapat dihubungi.
Satu grup mungkin tidak terasa berat. Tetapi setiap grup mempunyai karakter dan kewajiban sosialnya sendiri. Di grup kantor, kita merasa perlu membaca karena khawatir ada pekerjaan. Di grup keluarga, kita takut dianggap tidak peduli. Di grup warga, kita khawatir melewatkan informasi penting. Di grup pertemanan, terlalu lama diam kadang membuat kita merasa seperti sedang menjauh.
Belum lagi ada budaya kecil yang berkembang di dalam percakapan digital. Seseorang mengucapkan selamat ulang tahun, lalu puluhan orang mengikuti. Seseorang mengirim kabar duka, semua merasa perlu menyampaikan belasungkawa. Ada foto yang dibagikan, kita memberikan emoji. Ada pertanyaan, kita merasa perlu membantu menjawab meskipun sebenarnya orang lain sudah memberikan jawaban yang sama.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru respons-respons kecil tersebut menunjukkan bahwa hubungan sosial tetap hidup di ruang digital. Namun ketika jumlah ruang yang kita ikuti terus bertambah, setiap kewajiban kecil ikut bertumpuk.
Satu ucapan tidak melelahkan. Satu pertanyaan juga tidak. Satu notifikasi hampir tidak berarti apa-apa. Namun puluhan ruang sosial yang meminta sedikit perhatian secara bersamaan dapat menghasilkan kelelahan yang sulit kita jelaskan.
Kita merasa tidak melakukan pekerjaan berat, tetapi kepala terasa penuh. Barangkali karena yang memenuhi kepala bukan pesan, melainkan percakapan yang belum selesai.
Baca Juga: Yang Hilang dari Kita Mungkin Bukan Kepedulian, Melainkan Kepekaan. Benarkah?
Tidak Merespons Bukan Berarti Tidak Peduli
Ada satu hal yang menurut saya perlu kita pelajari kembali di tengah kehidupan yang semakin terhubung: tidak semua pesan membutuhkan jawaban, tidak semua percakapan membutuhkan pendapat kita, dan tidak semua informasi yang sampai kepada ponsel harus mendapatkan tempat yang sama besar di kepala.
Kalimat itu terdengar sederhana. Menjalankannya ternyata tidak selalu mudah.
Kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai keramahan dan kebersamaan. Tidak menjawab dapat terasa seperti mengabaikan. Keluar dari grup bahkan bisa terasa seperti pernyataan politik kecil. Orang bisa bertanya mengapa kita keluar, apakah sedang marah, apakah ada masalah, atau apakah kita tidak ingin lagi menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Karena itulah banyak orang memilih bertahan di grup yang sebenarnya sudah tidak relevan. Kita membisukannya selama setahun, tetapi tidak pernah benar-benar keluar. Bukan karena percakapannya masih kita perlukan, melainkan karena keluar terasa jauh lebih tidak nyaman daripada sekadar membiarkannya tetap ada.
Saya rasa di sinilah kita perlu membedakan kepedulian dari ketersediaan.
Peduli kepada keluarga tidak berarti harus membaca seluruh percakapan keluarga setiap saat. Menjadi teman yang baik tidak berarti wajib memberikan respons terhadap setiap pesan. Menjadi anggota komunitas tidak berarti seluruh percakapan komunitas harus kita bawa pulang ke dalam pikiran.
Kita bisa tetap menyayangi seseorang tanpa selalu tersedia untuknya setiap menit.
Bahkan mungkin batas seperti itu diperlukan agar kepedulian kita tidak berubah menjadi kelelahan. Sebab ketika terlalu banyak hal meminta perhatian, kemampuan kita memberikan perhatian yang sungguh-sungguh justru mengecil. Kita menjawab banyak orang, tetapi hanya dengan emoji. Kita membaca banyak cerita, tetapi tidak sempat memahami satu pun dengan baik. Kita mengikuti begitu banyak percakapan sampai percakapan yang benar-benar penting pun mendapatkan sisa tenaga yang sama dengan percakapan yang sebenarnya bisa dilewatkan.
Mungkin kita perlu berdamai dengan kenyataan bahwa ada percakapan yang akan terlewat.
Ada lelucon di grup alumni yang tidak akan kita pahami. Ada foto makan siang yang tidak sempat kita beri emoji. Ada perdebatan panjang yang selesai tanpa kita mengetahui siapa yang menang. Ada 286 pesan yang mungkin tidak pernah kita baca, dan kehidupan tetap berjalan dengan baik.
Tidak mengetahui semuanya, bukanlah kegagalan sosial. Memilih tidak merespons juga tidak selalu berarti tidak peduli. Kadang itu hanya berarti kita sedang menyimpan perhatian untuk sesuatu yang lebih membutuhkan kita: pekerjaan yang harus diselesaikan, anak yang sedang bercerita, pasangan yang duduk di sebelah kita, orang tua yang menelepon, teman yang sungguh membutuhkan telinga, atau bahkan diri sendiri yang sudah terlalu lama menerima suara dari berbagai arah.
Teknologi telah membuat orang lain begitu mudah mencapai kita. Namun kemudahan seseorang mengirim pesan tidak otomatis menciptakan kewajiban bagi kita untuk memberikan perhatian pada saat yang sama. Pesan dapat menunggu. Percakapan dapat dilewatkan. Bahkan beberapa grup mungkin memang sudah waktunya ditinggalkan.
Kita tidak perlu menghilang dari dunia digital untuk mendapatkan kembali ketenangan. Mungkin kita hanya perlu berhenti menganggap setiap notifikasi sebagai panggilan dan setiap percakapan sebagai kewajiban.
Sebab kemampuan kita untuk peduli tidaklah tak terbatas. Perhatian mempunyai kapasitas, pikiran membutuhkan ruang, dan hubungan yang benar-benar berarti membutuhkan energi yang tidak sedikit. Jika semuanya kita bagikan kepada setiap percakapan yang muncul di layar, jangan heran jika ketika seseorang yang benar-benar membutuhkan kita datang, yang tersisa hanya kelelahan.
Jadi, mungkin bukan terlalu banyak grup WhatsApp yang menjadi persoalan. Yang membuat kita penat adalah keyakinan bahwa karena kita berada di dalam sebuah grup, kita harus mengetahui apa yang dibicarakan, mengikuti apa yang terjadi, dan memberikan respons agar keberadaan kita tetap diakui.
Padahal kita boleh diam. Kita boleh terlambat membaca. Kita boleh tidak tahu. Kita bahkan boleh melewatkan percakapan tanpa harus menjelaskan alasannya kepada siapa pun.
Ada kehidupan di luar semua pesan yang menunggu untuk dibaca. Dan sesekali, memilih kehidupan itu bukan berarti kita sedang meninggalkan orang lain. Kita hanya sedang memastikan masih ada cukup perhatian ketika sesuatu yang benar-benar penting membutuhkan kita. []
Bandung, 13 Agustus 2026