Oleh Rommy Rimbarawa

Ada bahan makanan yang begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, tetapi hampir tidak pernah tumbuh di ladang-ladang negeri ini.

Namanya gandum. Ia hadir dalam bentuk terigu, lalu menjelma menjadi mi instan, roti, gorengan, biskuit, martabak, donat, kue, hingga berbagai makanan yang dikonsumsi dari pagi hingga malam. Begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, sampai banyak orang tidak lagi bertanya dari mana sebenarnya bahan itu berasal.

Indonesia sering membicarakan ketahanan pangan. Namun percakapan tersebut hampir selalu berhenti pada beras. Padahal ada satu kenyataan lain yang jarang disadari. Sebagian besar masyarakat modern Indonesia juga hidup sangat bergantung pada gandum, sementara negeri ini bukanlah penghasil gandum dalam skala yang berarti.

Ketergantungan itu tumbuh begitu pelan hingga hampir tidak terasa. Tak ada perubahan besar yang terjadi dalam semalam. Tidak ada pengumuman resmi yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia akan semakin akrab dengan terigu. Semua terjadi sedikit demi sedikit, melalui kebiasaan makan yang berubah dari generasi ke generasi.

Hari ini, banyak anak berangkat sekolah dengan roti di tangan. Banyak pekerja menyelesaikan hari dengan mi instan. Banyak keluarga menikmati gorengan sebagai teman minum teh sore hari. Semua terasa biasa. Semua terasa Indonesia. Padahal bahan dasarnya datang dari ribuan kilometer jauhnya.

Yang menarik, semakin akrab suatu bahan pangan dengan kehidupan sehari-hari, semakin jarang orang mempertanyakan asal-usulnya.

Baca Juga: Apakah Semua Orang Indonesia Harus Makan Nasi? 

Dapur yang Pelan-Pelan Bergantung pada Gandum

Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia [Food and Agriculture Organization atau FAO] menunjukkan Indonesia termasuk salah satu importir gandum terbesar di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan gandum nasional mencapai belasan juta ton setiap tahun dan hampir seluruhnya dipenuhi melalui impor.

Ketika mendengar angka seperti itu, banyak orang mungkin langsung membayangkan roti atau kue. Padahal penggunaan terigu di Indonesia jauh lebih luas dari sekadar itu. Mi instan, misalnya, telah menjadi bagian dari budaya makan nasional yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Data World Instant Noodles Association menunjukkan Indonesia mengonsumsi lebih dari 14 miliar porsi mi instan setiap tahun. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu konsumen mi instan terbesar di dunia. Di balik setiap bungkus mi itu, ada gandum yang sebagian besar berasal dari negara lain.

Gorengan juga menyimpan cerita yang sama. Tempe mendoan, bakwan, tahu isi, pisang goreng, cireng modern dengan lapisan tepung, hingga berbagai jajanan kaki lima menggunakan terigu sebagai bahan penting. Terigu telah menjadi bagian dari identitas kuliner sehari-hari, meskipun bahan dasarnya tidak tumbuh secara alami di sebagian besar wilayah Indonesia.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan keberhasilan industri pangan dalam membentuk kebiasaan konsumsi. Terigu mudah diolah, relatif murah, praktis digunakan, dan mampu menghasilkan beragam produk yang disukai masyarakat. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu bahan impor tetap menyimpan pertanyaan yang layak dipikirkan.

Apa yang terjadi jika pasokan global terganggu? Apa yang terjadi jika harga gandum melonjak akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, atau gangguan distribusi internasional? Apa yang terjadi ketika bahan pangan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari ternyata tidak berada dalam kendali kita sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak terasa mendesak ketika rak supermarket masih penuh. Namun ketahanan pangan sering kali baru terasa penting ketika rantai pasokan mulai bermasalah.

Baca Juga: Air yang Terlihat Bersih Belum Tentu Aman 

Ketahanan Pangan Tidak Cukup Berhenti di Beras

Selama bertahun-tahun, pembahasan ketahanan pangan di Indonesia sering dipusatkan pada beras. Itu dapat dimengerti karena beras memang menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat. Namun kebiasaan makan masyarakat Indonesia hari ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa dekade lalu.

Banyak orang mungkin masih berkata belum makan kalau belum bertemu nasi. Namun di saat yang sama, mereka mengonsumsi mi instan, roti, biskuit, dan berbagai produk berbasis terigu hampir setiap hari. Dalam praktiknya, kehidupan pangan Indonesia sudah menjadi perpaduan antara beras dan gandum.

Di sinilah muncul ironi yang menarik. Negara sering mendorong diversifikasi pangan agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada beras. Namun diversifikasi yang terjadi justru banyak bergerak ke arah bahan pangan impor. Kita mengurangi ketergantungan pada satu komoditas, tetapi pada saat yang sama membangun ketergantungan baru terhadap komoditas yang tidak kita hasilkan sendiri.

Padahal Indonesia memiliki kekayaan sumber karbohidrat yang sangat beragam. Singkong, ubi, talas, sagu, sorgum, jagung, dan berbagai pangan lokal lainnya telah lama menjadi bagian dari sejarah kuliner Nusantara. Banyak di antaranya tumbuh lebih dekat dengan kondisi alam Indonesia dibanding gandum.

Masalahnya, persoalan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menanam. Ia juga ditentukan oleh kebiasaan, kenyamanan, harga, distribusi, dan citra yang melekat pada makanan tertentu. Terigu berhasil menjadi bagian dari kehidupan modern bukan semata-mata karena rasanya, tetapi karena sistem industri, distribusi, dan konsumsi yang mendukungnya selama puluhan tahun.

Karena itu, pembicaraan tentang gandum seharusnya tidak berubah menjadi ajakan untuk memusuhi terigu. Itu pendekatan yang terlalu sederhana untuk persoalan yang jauh lebih kompleks. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa ketahanan pangan tidak bisa hanya dihitung dari stok beras di gudang.

Ketahanan pangan juga perlu dibaca dari bahan-bahan yang diam-diam telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari mi instan yang menemani anak kos bertahan di akhir bulan. Dari gorengan yang dijual di sudut jalan setiap sore. Dari roti yang dibeli sebelum berangkat kerja. Dari makanan-makanan sederhana yang begitu biasa hingga sering luput dari perhatian.

Mungkin karena itulah gandum menjadi menarik untuk dibicarakan. Bukan karena ia asing, melainkan karena ia sudah terlalu akrab. Kita mengonsumsinya hampir setiap hari. Kita membangun kebiasaan hidup di atasnya. Namun sangat sedikit dari kita yang pernah benar-benar memikirkan dari mana ia datang, dan seberapa besar kehidupan pangan Indonesia bergantung padanya.

Dan kadang-kadang, ketergantungan terbesar memang bukan yang paling terlihat. Ia justru hadir dalam bentuk makanan yang terasa begitu biasa di meja makan kita. []

Bandung, 03 Juni 2026