Oleh Rommy Rimbarawa

Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja, saya menemukan akun media sosial seorang perempuan asal Venezuela. Namanya Giorgiana Rosas

Giorgiana Carolina Rosas Rodríguez, begitu nama lengkapnya, adalah figur yang bikin penasaran: bukan hanya cantik dan karismatik di panggung, tapi juga cerdas, aktif, dan peduli. Lahir di Maracaibo pada 25 April 1999 dan tumbuh di Anzoátegui, Giorgiana menapaki jalannya sebagai model, beauty queen, sekaligus mahasiswi UC Berkeley dengan jurusan Computer Science dan Pre-Med. 

Prestasinya mencakup gelar Miss Tourism Venezuela 2016, masuk Top 15 Miss Tourism World 2017, hingga meraih posisi Runner-up 1 Miss Venezuela 2023. Dengan tinggi 173 cm, aura elegan, serta lebih dari 3,5 juta pengikut di Instagram, ia memadukan pesona visual dengan kepedulian terhadap satwa, lingkungan, dan pendidikan. Giorgiana adalah representasi generasi baru beauty queen: multitalenta, berambisi besar, dan tak berhenti menyalakan inspirasi di luar panggung. 

Belakangan saya tahu banyak orang memanggilnya Giorgi. Saya lebih suka ikut memanggilnya begitu. Bukan karena saling kenal, melainkan karena rasanya lebih akrab dibanding menyebut nama lengkapnya berulang-ulang seperti sedang membaca daftar peserta sebuah kompetisi.

Kalau melihat biodatanya, sebenarnya tidak ada yang terlalu mengejutkan. Giorgi bukan hanya model, mantan peserta kontes kecantikan, influencer, dan memiliki jutaan pengikut di media sosial. Dunia sudah penuh dengan orang-orang seperti itu. Setiap hari kita bisa menemukan wajah-wajah menarik, foto-foto indah, dan kehidupan yang terlihat sempurna hanya dengan menggulir layar beberapa detik. Namun, yang membuat saya berhenti cukup lama bukanlah semua itu.

Perhatian saya justru tertuju pada video-video yang memperlihatkan Giorgi berada di dekat hewan-hewan liar. Ada video ketika ia berinteraksi dengan satwa yang bagi banyak orang mungkin terasa menakutkan. Ada pula unggahan yang memperlihatkan ketertarikannya terhadap kehidupan alam liar dan lingkungan. Dari situ saya mulai merasa bahwa yang menarik dari Giorgi bukan sekadar bagaimana ia terlihat, tetapi bagaimana ia melihat dunia.

Baca Juga: Dari Mi Instan sampai Gorengan, Semua Kita Hidup dari Gandum Impor

Kita Semakin Dekat dengan Layar, Semakin Jauh dari Alam


Saya sering merasa manusia modern mengalami sesuatu yang agak aneh. Kita hidup di masa ketika informasi tentang alam tersedia di mana-mana, tetapi hubungan kita dengan alam justru semakin tipis. Kita bisa menonton dokumenter tentang satwa dari berbagai belahan dunia dalam kualitas gambar yang luar biasa, tetapi tidak mengenali burung yang sering hinggap di sekitar rumah sendiri.

Banyak dari kita lebih sering berinteraksi dengan layar daripada dengan pohon. Kita lebih hafal suara notifikasi dibanding suara hewan yang hidup di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Tidak ada yang salah dengan teknologi. Saya juga menggunakan teknologi setiap hari. Namun, kadang saya merasa ada bagian tertentu dari pengalaman manusia yang perlahan menjadi semakin jarang kita alami secara langsung.

Mungkin karena itulah saya tertarik melihat unggahan Giorgi. Di tengah media sosial yang penuh dengan foto makanan, kendaraan, produk, dan pencitraan diri, saya melihat seseorang yang tampaknya masih memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia yang tidak selalu bisa dikendalikan. Alam liar adalah salah satu tempat terakhir yang mengingatkan manusia bahwa tidak semua hal ada untuk mengikuti keinginan kita.

Tak sedikit orang menganggap alam liar sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan atau dijaga jaraknya. Sebagian lagi melihatnya sebagai tempat yang hanya cocok untuk dikunjungi sesekali. Ketika melihat seseorang yang justru tampak menikmati kedekatannya dengan satwa dan lingkungan alami, saya merasa sedang melihat sesuatu yang agak berbeda dari kebiasaan kita hari ini.

Baca Juga: Senjata Pemusnah Massal Itu Bernama Microplastic

Yang Memikat Bukan Kecantikannya, Tapi Rasa Ingin Tahunya

Coba jelajahi media sosialnya di @giorgirosas. Sesekali tampak ia sedang bercanda dengan singa. Di kali lain, ia tengah mengelus-elus buaya. Ia juga tak ragu untuk menceburkan diri ke sungai atau danau untuk mengejar iguana. Tak jarang ia harus menangkap ular, yang terlihat begitu berbahaya. 

Saya tak pernah kesulitan menemukan orang yang cantik di internet. Jumlahnya mungkin jutaan. Setiap hari media sosial memperlihatkan wajah-wajah menarik dari berbagai negara dengan standar kecantikan yang juga berbeda-beda. Karena itu, saya tidak pernah merasa kecantikan saja cukup untuk membuat seseorang terus menarik perhatian dalam jangka panjang. Yang membuat seseorang menarik biasanya adalah apa yang ia lakukan dengan hidupnya.

Ketika melihat Giorgi, saya tidak terlalu memikirkan gelar kontes kecantikan yang pernah ia raih. Saya juga tidak terlalu tertarik pada jumlah pengikut media sosialnya. Yang justru membuat saya penasaran adalah rasa ingin tahunya terhadap dunia di luar dirinya sendiri.

Ada banyak orang yang menggunakan media sosial untuk membuat dunia terus memandang mereka. Tak ada yang salah dengan itu. Namun, sesekali kita menemukan orang yang terlihat lebih tertarik memandang dunia daripada dipandang dunia. Bagi saya, perbedaan itu cukup terasa.

Dari berbagai unggahan yang saya lihat, Giorgi tampak menikmati kehadirannya di tempat-tempat yang tidak selalu nyaman. Ia terlihat senang berinteraksi dengan satwa, menjelajahi lingkungan alami, dan menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan yang sering kali berada jauh dari pusat perhatian manusia. Saya tidak tahu apakah semua itu sepenuhnya mencerminkan dirinya yang sebenarnya. Media sosial tetaplah media sosial. Namun setidaknya, kesan itulah yang sampai kepada saya sebagai penonton.

 Boleh jadi karena saya sendiri semakin jarang melihat orang yang benar-benar penasaran terhadap sesuatu di luar dirinya. Kita hidup di masa ketika banyak orang sibuk membangun citra, memperkuat identitas, dan mencari perhatian. Di tengah suasana seperti itu, melihat seseorang yang tampaknya masih menyisakan ruang untuk rasa kagum terhadap alam terasa cukup menyegarkan.

Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa Giorgi adalah sosok yang sempurna. Tidak ada manusia yang seperti itu. Saya bahkan tidak mengenalnya secara pribadi. Yang saya kenal hanyalah sebagian kecil potongan kehidupan yang ia bagikan kepada publik. Namun kadang-kadang, potongan kecil itu sudah cukup untuk membuat seseorang berpikir tentang hal yang lebih besar.

Dalam kasus ini, saya jadi berpikir tentang hubungan manusia dengan dunia yang mereka tempati. Kita sering berbicara tentang kesuksesan, karier, pendidikan, teknologi, dan berbagai pencapaian lainnya. Semua itu penting. Namun ketika melihat seseorang yang tampak nyaman berada di dekat kehidupan liar, saya teringat bahwa manusia sebenarnya juga bagian dari alam yang sama. Kita terlalu sering memposisikan diri sebagai penonton dunia, padahal selama ini kita selalu menjadi bagian dari dunia tersebut.

Mungkin itulah alasan saya berhenti cukup lama ketika melihat unggahan Giorgi. Bukan karena saya sedang melihat seorang model atau mantan ratu kecantikan. Saya merasa sedang melihat seseorang yang masih memiliki rasa ingin tahu terhadap kehidupan di sekitarnya.

Dan semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa itulah yang membuat hidup seseorang terlihat utuh. Bukan karena ia memiliki semua hal yang diinginkan banyak orang, melainkan karena ia masih mampu merasa takjub pada dunia yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. []

Bandung, 14 Juni 2026