Oleh Rudi Tenggarawan

Gerakan “Say No to Suno” menarik bukan hanya karena ia menolak sebuah platform musik berbasis kecerdasan buatan. Yang lebih menarik adalah alasan di balik penolakan itu. Para seniman yang bersuara tampaknya tidak sedang mengatakan bahwa teknologi harus dihentikan, melainkan bahwa cara teknologi dibangun perlu dipertanyakan dengan lebih serius.

Dalam beberapa tahun terakhir, AI generatif berkembang sangat cepat. Teks bisa dibuat dalam hitungan detik, gambar bisa dihasilkan dari beberapa kalimat, dan musik kini dapat disusun oleh mesin melalui perintah sederhana. Bagi sebagian orang, semua ini terasa seperti perluasan kreativitas manusia. Bagi sebagian yang lain, perkembangan ini justru menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman.

Pertanyaannya bukan sekadar apakah mesin bisa membuat lagu. Pertanyaan yang lebih sulit adalah dari mana kemampuan mesin itu dibangun. Jika sebuah sistem dilatih dari karya manusia, lalu mampu menghasilkan musik baru yang bersaing di ruang dengar yang sama, apakah para pencipta awal berhak dilibatkan, diberi izin, atau memperoleh pengakuan?

Di situlah isu ini jadi lebih besar daripada Suno. Suno hanya menjadi salah satu wajah dari perubahan yang sedang terjadi. Persoalan utamanya adalah bagaimana dunia digital memperlakukan karya manusia ketika karya itu berubah menjadi bahan baku bagi mesin.

Baca Juga: Semua Orang Sedang Mencari Uang Tambahan, Anda Juga?

Teknologi Baru Selalu Membawa Janji Baru

Setiap teknologi besar biasanya datang dengan janji yang terdengar menarik. Kamera pernah membuat gambar menjadi lebih mudah diabadikan. Internet membuat distribusi pengetahuan menjadi lebih luas. Platform digital membuat musisi independen bisa menjangkau pendengar tanpa selalu bergantung pada label besar.

AI musik juga datang dengan janji yang mirip. Ia membuat siapa pun bisa mencoba membuat lagu, meski tidak bisa memainkan alat musik atau memahami teori komposisi. Seseorang yang hanya memiliki ide, lirik, atau suasana tertentu dapat mengubahnya jadi lagu dalam waktu singkat.

Dari sudut pandang akses, hal ini memang terlihat demokratis. Orang yang dulu tidak punya studio, musisi pendukung, atau biaya produksi kini dapat mencoba membuat karya audio sendiri. Teknologi membuka pintu yang sebelumnya tertutup bagi banyak orang.

Namun sejarah teknologi juga mengajarkan bahwa akses yang lebih luas tidak selalu berarti keadilan yang lebih besar. Sebuah teknologi bisa membuat produksi menjadi lebih mudah, tetapi tetap menyisakan pertanyaan tentang siapa yang bahan kerjanya digunakan, siapa yang menikmati hasil ekonominya, dan siapa yang kehilangan ruang ketika pasar dipenuhi produk baru dalam jumlah sangat besar.

Dalam kasus musik AI, pertanyaan itu menjadi semakin tajam. Jika jutaan lagu dapat dibuat setiap hari, ruang dengar manusia akan semakin padat. Musik manusia dan musik mesin akan bertemu di platform yang sama, bersaing untuk perhatian yang sama, dan dalam beberapa kasus masuk ke sistem royalti yang sama.

Bagi pendengar biasa, perbedaan itu mungkin tidak selalu terasa penting. Selama lagu enak didengar, sebagian orang mungkin tidak terlalu peduli bagaimana lagu itu dibuat. Namun bagi seniman, proses penciptaan bukan hanya soal hasil akhir yang sampai ke telinga pendengar.

Baca Juga: Benarkah Kita Mengenal Tetangga Kita?

Yang Dipertahankan Bukan Sekadar Lagu

Musik tidak lahir hanya dari susunan nada. Ia juga lahir dari pengalaman hidup, kegagalan, latihan panjang, percakapan, patah hati, kemarahan, kegembiraan, dan berbagai hal yang tidak selalu dapat dijelaskan secara teknis. Sebuah lagu sering menyimpan jejak manusia yang membuatnya, bahkan ketika pendengar tidak mengetahui cerita lengkap di balik lagu tersebut.

Karena itu, ketika seniman menolak praktik AI tertentu, yang sedang mereka pertahankan bukan hanya pasar musik. Mereka juga mempertahankan pengakuan terhadap proses kreatif manusia. Mereka ingin memastikan bahwa karya yang mereka bangun selama bertahun-tahun tidak diambil begitu saja untuk melatih sistem yang kemudian dapat menghasilkan sesuatu yang mirip dengan kecepatan jauh lebih tinggi.

Perdebatan ini sering disederhanakan menjadi manusia melawan mesin. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu. Banyak seniman sebenarnya tidak anti-teknologi, karena hampir semua seni modern juga menggunakan teknologi dalam berbagai bentuknya.

Musisi menggunakan perangkat lunak rekaman, synthesizer, efek suara, dan berbagai alat digital lain. Fotografer menggunakan kamera digital dan perangkat penyuntingan. Penulis menggunakan komputer, mesin pencari, dan berbagai alat bantu lain untuk bekerja.

Yang dipersoalkan bukan keberadaan alat, melainkan relasi kuasa di balik alat tersebut. Apakah alat itu membantu manusia berkarya, atau justru memakai karya manusia tanpa persetujuan untuk menggantikan sebagian nilai kerja manusia itu sendiri?

Di sini gerakan seperti “Say No to Suno” jadi penting dibaca sebagai tanda zaman. Ia menunjukkan bahwa masyarakat kreatif mulai meminta batas yang lebih jelas antara inovasi dan eksploitasi. Mereka tidak sekadar bertanya apakah AI bisa membuat musik, tetapi bagaimana AI seharusnya berhubungan dengan para pencipta yang karyanya ikut membentuk kemampuan sistem tersebut.

Pertanyaan seperti ini akan semakin sering muncul. Hari ini ia muncul dalam musik. Besok ia bisa muncul dalam film, desain, ilustrasi, penulisan, gim, pendidikan, atau bentuk kerja kreatif lain yang selama ini dianggap sangat manusiawi.

Dalam situasi seperti itu, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada dua sikap ekstrem. Sikap pertama adalah menolak semua bentuk AI seolah teknologi ini tidak membawa manfaat apa pun. Sikap kedua adalah menerima semua perkembangan AI seolah setiap inovasi otomatis layak digunakan hanya karena ia mungkin dilakukan.

Saya melihat persoalan ini sebagai kebutuhan untuk membangun etika baru dalam dunia kreatif digital. Teknologi akan terus bergerak, dan sulit membayangkan manusia bisa kembali ke masa sebelum AI generatif hadir. Namun kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat pertanyaan tentang izin, hak cipta, royalti, transparansi, dan penghormatan terhadap pencipta menjadi tidak relevan.

Justru semakin kuat teknologi itu, semakin penting pula pertanyaan etisnya. Ketika mesin dapat menghasilkan musik dalam jumlah besar, manusia perlu bertanya bagaimana memastikan bahwa karya manusia tidak hanya menjadi bahan mentah yang tidak dihargai. Ketika kreativitas jadi semakin mudah disimulasikan, kita perlu menjaga agar proses kreatif manusia tidak dianggap sekadar data yang bebas dipakai.

Mungkin yang sedang dipertahankan para seniman bukanlah dunia lama yang tidak mau berubah. Mereka sedang mempertahankan satu prinsip yang sederhana tetapi penting: bahwa karya manusia memiliki asal-usul, dan asal-usul itu tidak boleh dihapus hanya karena mesin mampu menghasilkan sesuatu yang baru dari jejaknya.

AI mungkin akan jadi bagian dari masa depan musik. Sebagian musisi akan menggunakannya, sebagian akan menolaknya, dan sebagian lain mungkin akan mencari bentuk kerja sama baru dengan teknologi tersebut. Namun masa depan yang sehat tidak bisa dibangun hanya dengan bertanya apa yang bisa dibuat oleh mesin.

Masa depan kreatif yang sehat juga perlu bertanya apa yang masih harus dihormati dari manusia yang mencipta. []

Bandung, 25 Juni 2026