Oleh Rudi Tenggarawan
Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membicarakan akun TikTok @nia.hajar_s. Banyak orang menyebutnya sebagai ‘Ustazah AI’.
Melalui video-video pendek, akun tersebut menjawab berbagai pertanyaan seputar agama dengan gaya bertutur yang tenang, bahasa yang sederhana, dan tampilan yang begitu meyakinkan. Sebagian orang merasa terbantu. Sebagian lagi justru merasa gelisah. Bukan semata-mata karena jawaban yang diberikan, melainkan karena satu pertanyaan yang lebih besar mulai muncul: mungkinkah suatu hari nanti manusia lebih sering meminta nasihat kepada mesin daripada kepada sesama manusia?
Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun jika diperhatikan lebih dekat, fenomena tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, kita sudah terbiasa meminta arah kepada aplikasi navigasi, bertanya kepada mesin pencari, dan berkonsultasi dengan berbagai aplikasi digital sebelum mengambil keputusan. Kini, kecerdasan buatan mulai memasuki ruang yang selama ini terasa sangat manusiawi: ruang tempat orang mencari nasihat, ketenangan, dan jawaban atas kegelisahan hidupnya.
Yang sedang berubah bukan hanya teknologinya. Cara manusia mencari jawaban pun ikut berubah. Kita ada di level mana?
Baca Juga: Ketika Mesin Mulai Membuat Musik, Apa yang Sebenarnya Sedang Dipertahankan Seniman?
Dari Bertanya kepada Guru Menjadi Bertanya kepada Mesin
Tidak lama berselang, jika seseorang memiliki pertanyaan tentang agama, ia biasanya akan mendatangi ustaz, kiai, pendeta, atau tokoh agama yang dipercaya. Pertemuan itu bukan sekadar proses mencari jawaban. Ada percakapan, ada penjelasan, ada ruang untuk bertanya kembali, bahkan ada hubungan yang perlahan terbangun antara orang yang bertanya dan orang yang memberikan nasihat.
Hari ini, sebagian proses itu mulai bergeser. Ponsel yang selalu berada di genggaman membuat jawaban terasa hanya sejauh beberapa sentuhan. Orang tidak perlu menunggu jadwal pengajian, tidak perlu membuat janji, dan tidak perlu merasa sungkan karena pertanyaannya dianggap terlalu sederhana atau terlalu pribadi.
Di sinilah kecerdasan buatan menawarkan sesuatu yang sangat menarik bagi manusia modern. AI selalu tersedia. Ia tidak mengenal jam praktik. Ia tidak terlihat lelah. Ia juga tidak memperlihatkan ekspresi yang membuat seseorang merasa sedang dihakimi.
Bagi banyak orang, terutama generasi yang tumbuh bersama internet, semua itu terasa sangat nyaman. Namun, kenyamanan seringkali bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan.
Baca Juga: Semua Orang Sedang Mencari Uang Tambahan, Anda Juga?
Manusia Tidak Selalu Mencari Jawaban
Saya justru merasa bahwa sebagian besar orang tidak datang kepada seorang guru hanya untuk memperoleh jawaban. Mereka datang karena ingin dipahami. Ada perbedaan yang cukup besar antara dua hal tersebut. Jawaban adalah informasi. Memahami adalah relasi.
Seorang ustaz yang mengenal jamaahnya mungkin tahu bahwa pertanyaan yang diajukan hari ini sebenarnya berkaitan dengan masalah yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Seorang pendeta bisa memahami mengapa satu ayat tertentu lebih tepat disampaikan daripada ayat yang lain. Seorang guru mungkin memilih diam beberapa saat sebelum menjawab karena melihat muridnya sedang lebih membutuhkan ketenangan daripada penjelasan.
Semua itu lahir dari pengalaman manusia berhadapan dengan manusia lain. AI memang dapat menyusun jawaban yang sangat rapi. Ia dapat mengutip referensi, merangkum pendapat ulama, bahkan menjelaskan sebuah konsep dengan bahasa yang mudah dipahami. Namun hingga hari ini, AI tetap bekerja berdasarkan pola, data, dan probabilitas. Ia belum mengalami kehilangan, penyesalan, kegembiraan, atau pergulatan batin seperti yang dialami manusia.
Karena itu, ketika seseorang datang membawa pertanyaan yang sesungguhnya lahir dari rasa takut, rasa bersalah, atau luka yang sangat pribadi, jawaban yang benar belum tentu menjadi jawaban yang paling menenangkan.
Baca Juga: Dulu Kita Mencari Informasi, Sekarang Informasi yang Mencari Kita
Yang Berubah Adalah Cara Kita Mempercayai Otoritas
Fenomena seperti akun Nia Hajar juga memperlihatkan perubahan lain yang menarik. Dulu, otoritas sering lahir dari hubungan yang panjang. Orang percaya kepada seorang guru karena pernah belajar langsung darinya. Orang menghormati seorang ulama karena mengenal perjalanan ilmunya. Kepercayaan tumbuh melalui waktu.
Di ruang digital, proses itu menjadi jauh lebih singkat. Seseorang bisa dianggap layak didengar karena videonya muncul berulang kali di beranda, bahasanya mudah dipahami, atau tampilannya terasa meyakinkan. Algoritma mempercepat pertemuan antara pemberi informasi dan penerima informasi. Namun algoritma tidak selalu mampu membedakan mana yang sekadar menarik perhatian dan mana yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan.
Itulah sebabnya fenomena AI dalam ruang keagamaan perlu dilihat dengan kepala dingin. Persoalannya bukan apakah AI boleh digunakan atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana manusia menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan memeriksa kembali sumber pengetahuannya.
Dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, proses belajar tidak hanya dikenal melalui bacaan, tetapi juga melalui sanad, yaitu mata rantai keilmuan yang menghubungkan seorang murid dengan gurunya. Tradisi itu lahir dari kesadaran bahwa ilmu tidak hanya dipindahkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui keteladanan, konteks, dan tanggung jawab moral.
Teknologi tentu dapat membantu memperluas akses terhadap ilmu. Tidak ada alasan untuk menolak manfaat tersebut. Banyak orang yang sebelumnya sulit memperoleh bahan belajar kini dapat mengakses penjelasan dari berbagai sumber hanya melalui telepon genggamnya. AI juga dapat menjadi pintu pertama bagi seseorang yang ingin memahami sebuah konsep sebelum mempelajarinya lebih dalam.
Yang mesti kita ingat bersama, pintu pertama tetap bukan tujuan akhir. Kita mungkin akan semakin sering melihat AI menjawab pertanyaan tentang agama, kesehatan, pendidikan, bahkan kehidupan pribadi. Semua itu adalah konsekuensi dari perkembangan teknologi yang hampir tidak mungkin dihentikan. Yang menjadi tantangan bukan lagi bagaimana mencegah AI hadir dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana memastikan bahwa kehadirannya tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk membedakan antara informasi dan kebijaksanaan.
Barangkali di situlah letak pelajaran paling penting dari fenomena Ustazah AI. Teknologi mampu membantu manusia menemukan jawaban dengan lebih cepat. Namun nasihat yang benar-benar mengubah hidup seringkali lahir bukan hanya dari kalimat yang kita dengar, melainkan dari hubungan, keteladanan, dan kepercayaan yang dibangun oleh sesama manusia.
Masa depan mungkin memang akan dipenuhi oleh mesin yang semakin pintar. Kita akan semakin sering bertanya kepada AI tentang banyak hal, termasuk hal-hal yang dulu hanya kita bicarakan dengan orang yang kita percaya. Namun di tengah semua perubahan itu, ada satu pertanyaan yang tetap layak kita simpan.
Ketika jawaban menjadi semakin mudah diperoleh, apakah kita masih ingat bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir dari siapa yang paling cepat menjawab, melainkan dari siapa yang paling memahami manusia yang sedang bertanya. []
Bandung, 30 Juni 2026