Oleh Eva Evilia

Sulit menemukan banyak orang yang menolak gagasan dasar dari Program Makan Bergizi Gratis [MBG]. Memberikan makanan bergizi kepada anak-anak sekolah terdengar seperti salah satu ide yang paling mudah disepakati dalam kehidupan berbangsa. 

Di tengah masih adanya persoalan gizi, stunting, dan ketimpangan akses pangan, gagasan bahwa negara hadir untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan yang lebih baik tentu terdengar mulia.

Mungkin karena itulah publik memberi perhatian yang sangat besar terhadap program ini sejak awal. MBG tidak pernah diperlakukan sebagai program biasa. Ia diperkenalkan sebagai salah satu program unggulan pemerintah yang menyentuh kehidupan jutaan anak Indonesia. Ketika harapan yang dibangun begitu besar, publik pun secara otomatis memiliki ekspektasi yang sama besarnya terhadap pelaksanaannya.

Namun, beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa niat baik dan pelaksanaan yang baik tidak selalu berjalan beriringan. Berbagai persoalan mulai bermunculan ke permukaan. Ada laporan mengenai kualitas makanan yang dipersoalkan. Ada kasus keracunan yang menimbulkan kekhawatiran orangtua. Ada perdebatan mengenai tata kelola dan mekanisme distribusi. Ada pula kontroversi mengenai pengelolaan aset dan keputusan-keputusan operasional yang memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat.

Yang menarik, sebagian besar kritik yang muncul tidak berangkat dari penolakan terhadap tujuan program. Justru sebaliknya. Banyak kritik muncul karena masyarakat menganggap program ini terlalu penting untuk dikelola secara setengah matang.

Baca Juga: Kita Semakin Cepat Menanggapi, Semakin Lambat Memahami 

Program Besar Membawa Kerumitan yang Besar

MBG bukan program berskala kecil. Pemerintah menyiapkan anggaran puluhan triliun rupiah untuk menjalankannya, dengan target penerima manfaat yang mencapai puluhan juta anak dan kelompok sasaran lainnya. Dalam skala sebesar itu, tantangan yang dihadapi tentu jauh melampaui sekadar menyiapkan makanan setiap hari.

Program ini membutuhkan rantai pasok yang panjang. Bahan baku harus tersedia secara konsisten. Dapur harus mampu memenuhi standar keamanan pangan. Distribusi harus berjalan tepat waktu. Pengawasan harus dilakukan secara berkelanjutan. Di saat yang sama, kualitas makanan tetap harus dijaga agar tujuan awal program tidak kehilangan makna.

Dalam teori, semua itu mungkin terdengar sederhana. Dalam praktiknya, mengelola sistem yang melibatkan jutaan penerima manfaat di negara kepulauan seperti Indonesia merupakan pekerjaan yang sangat rumit.

Karena itu, ketika muncul persoalan di lapangan, sebagian masyarakat sebenarnya tidak terlalu terkejut. Yang membuat mereka gelisah adalah frekuensi dan jenis persoalan yang muncul. Program yang sejak awal diposisikan sebagai solusi besar justru terlihat terus-menerus disibukkan oleh persoalan yang seharusnya sudah diantisipasi sejak tahap perencanaan.

Belakangan, publik juga disuguhi kabar mengenai pejabat yang tersandung persoalan hukum, pergantian kepemimpinan yang diikuti upaya-upaya pembenahan, serta berbagai kebijakan baru yang dimaksudkan untuk mempercepat pelaksanaan program. Semua itu menunjukkan bahwa pengelola program menyadari adanya tantangan yang perlu segera diatasi. Namun di sisi lain, rangkaian peristiwa tersebut juga memperkuat kesan bahwa MBG masih berada dalam fase mencari bentuk yang stabil.

Baca Juga: Dunia Terasa Semakin Buruk, Atau Kita Terlalu Sering Membaca Kabar Buruk? 

Ketika Ekosistem Belum Sepenuhnya Siap

Persoalan lain yang menarik perhatian adalah protes dari sebagian pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pelaksanaan program. Ketika muncul penghentian sementara layanan MBG selama masa libur sekolah, sejumlah pengusaha yang telah berinvestasi untuk mendukung program tersebut mengeluhkan dampaknya terhadap keberlangsungan usaha mereka.

Keluhan tersebut menunjukkan bahwa MBG tidak hanya memengaruhi penerima manfaat. Di belakang setiap porsi makanan yang disajikan, terdapat jaringan yang melibatkan pemasok bahan baku, pengelola dapur, tenaga kerja, pelaku logistik, dan berbagai pihak lain yang menggantungkan sebagian aktivitas ekonominya pada keberlanjutan program.

Di saat yang sama, muncul pula diskusi mengenai aset-aset yang telah dibeli untuk mendukung operasional program, termasuk kendaraan dan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Ketika kebijakan berubah atau pelaksanaan mengalami penyesuaian, pertanyaan mengenai pemanfaatan aset tersebut menjadi sulit dihindari.

Situasi seperti ini sebenarnya sering terjadi dalam program pemerintah berskala besar. Ketika target yang ingin dicapai sangat ambisius, proses implementasi seringkali berjalan lebih cepat daripada kesiapan ekosistem yang mendukungnya. Akibatnya, berbagai persoalan yang seharusnya diselesaikan pada tahap perencanaan justru muncul ketika program sudah berjalan.

Bukan berarti program tersebut harus dihentikan. Namun, kondisi itu menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau kuatnya dukungan politik. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan membangun sistem yang mampu bekerja secara konsisten dalam jangka panjang.

Baca Juga: Korupsi: Harapan yang Terus Dicuri Secuil demi Secuil 

Yang Dipertaruhkan Bukan Sekadar Makanan

Ada alasan mengapa setiap persoalan dalam MBG selalu mendapat perhatian yang besar dari masyarakat. Alasannya bukan semata-mata karena nilai anggarannya yang besar. Bukan pula karena program ini identik dengan pemerintahan tertentu.

Yang membuat publik terus mengikuti perkembangan MBG adalah karena program ini menyentuh sesuatu yang sangat mendasar. Ia berkaitan dengan anak-anak. Ia berkaitan dengan kesehatan. Ia berkaitan dengan masa depan.

Karena itulah masyarakat cenderung memberikan toleransi yang lebih kecil terhadap kesalahan. Mereka memahami bahwa program sebesar ini membutuhkan waktu untuk berkembang. Mereka memahami bahwa pelaksanaan di lapangan tidak akan pernah sempurna. Namun mereka juga berharap bahwa setiap masalah yang muncul dijawab dengan transparansi, evaluasi, dan perbaikan yang nyata.

Dalam banyak kasus, kepercayaan publik tidak hilang karena adanya masalah. Kepercayaan justru mulai terkikis ketika masyarakat merasa masalah yang sama terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas.

MBG masih memiliki tujuan yang sangat baik. Tidak banyak orang yang meragukan hal itu. Tantangan sesungguhnya bukan lagi membuktikan bahwa niat program ini mulia. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa niat baik tersebut diterjemahkan menjadi sistem yang mampu bekerja dengan baik, bahkan ketika menghadapi tekanan, kritik, dan berbagai persoalan yang muncul di lapangan.

Sebab yang terjadi adalah, masyarakat tidak akan menilai program hanya dari tujuan yang tertulis di atas kertas. Mereka akan menilainya dari pengalaman yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Dan untuk program yang menyentuh kehidupan jutaan anak Indonesia, ukuran keberhasilan itu tidak pernah kecil. []

Bandung, 20 Juni 2026