Oleh Liora Maheswari
Ada perbedaan antara merasa terganggu oleh sebuah judul dan memahami apa yang sebenarnya sedang dikatakan sebuah buku. Perbedaan itu terlihat sederhana, tetapi belakangan terasa semakin penting ketika reaksi publik dapat bergerak jauh lebih cepat daripada kesempatan untuk membaca, mendengar, atau bertanya.
Beberapa hari lalu, diskusi buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani yang seharusnya berlangsung dalam Pekan Sastra Bogor dibatalkan. Berdasarkan keterangan panitia dan Feby yang dimuat sejumlah media, keberatan muncul terhadap judul buku dan subjudul sesi “Bagaimana Cerita Mengganggu Cara Kita Memahami Agama?”, lalu berkembang menjadi ancaman pengerahan massa. Panitia sempat mencoba menjelaskan konteks acara dan isi buku, tetapi diskusi tetap dibatalkan dengan pertimbangan keselamatan.
Saya tidak ingin terburu-buru mengatakan semua pihak yang memprotes belum membaca bukunya. Kita tidak mempunyai dasar untuk membuat kesimpulan seluas itu. Menurut ANTARA News Jawa Timur, polisi sendiri kemudian menyatakan masih mendalami informasi mengenai dugaan penistaan agama yang beredar di ruang digital, sehingga persoalannya pun belum selesai hanya dengan perdebatan di media sosial.
Akan tetapi ada sesuatu yang tetap mengganggu pikiran saya. Ruang yang seharusnya memungkinkan orang bertanya, mengkritik, dan meminta penjelasan justru tidak pernah sempat berlangsung. Yang tersisa kemudian adalah judul, potongan informasi, prasangka, keberatan, dan asumsi yang masing-masing bergerak tanpa pernah benar-benar berhadapan satu sama lain.
Baca Juga: Kalau Kita Ingin Lebih Peduli, Mungkin Kita Harus Belajar Memperhatikan Ini
Kita Semakin Cepat Bereaksi, tetapi Belum Tentu Semakin Cepat Memahami
Kita memang hidup pada zaman yang membuat penilaian datang begitu murah. Sebuah judul dapat difoto, screenshot dapat dibagikan, potongan video dapat dilepaskan dari percakapan yang lebih panjang, lalu ribuan orang merasa telah memperoleh cukup bahan untuk mempunyai pendapat.
Masalahnya, konteks jarang bergerak secepat kemarahan. Sebuah buku membutuhkan berjam-jam untuk dibaca. Film membutuhkan waktu untuk ditonton sampai selesai. Gagasan membutuhkan penjelasan. Tetapi kesimpulan dapat lahir hanya dari satu kalimat yang dibaca sambil menggulir layar.
Kecenderungan seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia dan tidak hanya menyangkut agama. American Library Association mencatat 4.235 judul unik mengalami upaya pelarangan atau pembatasan di Amerika Serikat sepanjang 2025. Yang menarik, 94 persen judul tersebut masuk melalui keberatan terhadap banyak buku sekaligus, dan ALA menyebut pengajuan semacam itu kerap berisi judul yang belum dibaca oleh pihak yang menantangnya.
Bayangkan apa yang terjadi ketika seseorang membawa daftar puluhan atau ratusan buku sekaligus dan meminta agar akses terhadap buku-buku itu dibatasi. Sangat mungkin sebagian keberatan memang lahir dari kegelisahan yang sungguh-sungguh, misalnya mengenai usia pembaca, isi seksual, kekerasan, atau tema sensitif. Tetapi ketika daftar menjadi begitu panjang, pertanyaannya berubah: apakah yang sedang dinilai benar-benar isi sebuah karya, atau hanya kategori, reputasi, judul, identitas penulis, dan ringkasan yang sudah lebih dahulu dibentuk orang lain?
Hal serupa pernah terjadi di Indonesia dalam bentuk yang berbeda. Amnesty International mencatat bahwa pada Juni 2025 IAIN Manado membatalkan diskusi sebuah buku tentang komunitas Ahmadiyah setelah menerima surat keberatan dari MUI setempat. Acara yang seharusnya menjadi ruang diskusi akademik berhenti sebelum percakapan itu dimulai.
Saya tidak sedang mengatakan semua buku harus diterima, semua gagasan harus disetujui, atau setiap keberatan harus dianggap sebagai bentuk anti-intelektualisme. Justru sebaliknya. Kritik diperlukan karena karya yang masuk ke ruang publik juga harus siap berhadapan dengan pertanyaan, pembacaan berbeda, bahkan penolakan keras.
Namun, kritik membutuhkan objek yang benar-benar kita kenali. Kalau kita marah kepada sebuah karya, bukankah seharusnya kita tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya dikatakan karya itu? Kalau merasa sebuah gagasan berbahaya, bukankah kita justru membutuhkan ruang untuk membedahnya, menunjukkan kekeliruannya, lalu menjelaskan kepada orang lain mengapa kita menolaknya?
Di situlah saya merasa kemampuan mengatakan “saya belum tahu cukup banyak” menjadi semakin berharga. Kalimat itu memang kurang memuaskan dibanding “ini salah” atau “ini berbahaya”. Ia tidak memberikan kepastian instan. Tetapi mungkin justru karena itu ia lebih jujur.
Baca Juga: “Garong” dan Alasan Musik Tak Pernah Benar-Benar Bisa Diam
Memahami Tidak Sama dengan Menyetujui
Ada kekhawatiran bahwa memberi ruang kepada sebuah gagasan berarti memberi legitimasi kepadanya. Saya rasa kekhawatiran itu bisa dimengerti, terutama ketika yang dibicarakan menyangkut identitas, keyakinan, trauma, atau sesuatu yang dianggap suci.
Tetapi memahami bukan berarti menyetujui. Kita dapat membaca buku sampai selesai lalu tetap membencinya. Kita dapat menonton film dan memutuskan bahwa film itu buruk. Kita dapat mendengarkan argumen seseorang lalu menyimpulkan bahwa pendapatnya keliru. Bahkan kritik yang paling kuat seringkali justru datang dari orang yang memahami objek kritiknya dengan sangat baik.
Perbedaannya ada pada kualitas penolakan. Penolakan setelah memahami memiliki alasan. Penolakan sebelum memahami sering hanya memiliki kecurigaan.
Masyarakat yang sehat menurut saya bukan masyarakat yang tidak pernah tersinggung. Selalu akan ada karya yang membuat seseorang marah, tidak nyaman, bingung, atau merasa batas tertentu telah dilanggar. Kebudayaan tidak pernah tumbuh hanya dari hal-hal yang aman dan mudah diterima semua orang.
Yang menentukan kedewasaan kita bukan apakah rasa tersinggung itu ada, melainkan apa yang kita lakukan sesudahnya.
Kita bisa membantah, bisa menulis tanggapan, bisa bertanya kepada penulis. Kita bisa mengatakan bahwa sebuah karya buruk, sembrono, atau tidak bertanggung jawab, selama argumentasinya dapat diperiksa.
Yang jadi persoalan adalah ketika ketidaksukaan kepada sebuah karya berubah menjadi keinginan agar orang lain tidak memperoleh kesempatan untuk mengenalnya sendiri.
Di sinilah kebebasan membaca mempunyai ujian yang sebenarnya. Mudah mendukung kebebasan membaca terhadap buku yang kita sukai. Jauh lebih sulit menerima bahwa orang lain juga mempunyai hak membaca sesuatu yang membuat kita tidak nyaman.
Kasus Memburu Muhammad menarik justru karena forum yang hendak dibatalkan adalah diskusi. Bukan perayaan tanpa kritik. Bukan kewajiban membaca. Diskusi seharusnya menjadi tempat seseorang dapat datang dengan keberatan dan meminta penjelasan langsung.
Kalau judul dianggap bermasalah, tanyakan mengapa judul itu dipilih. Kalau cara karya memperlakukan agama dianggap keliru, tunjukkan bagian yang dianggap keliru. Kalau penulis dinilai melewati batas, biarkan batas itu diperdebatkan secara terbuka.
Percakapan tidak menjamin semua orang akan pulang dengan sepakat. Barangkali justru sebaliknya. Ada orang yang tetap marah, ada yang berubah pikiran, dan ada yang semakin yakin bahwa buku tersebut tidak layak diapresiasi.
Namun setidaknya kemarahan itu kini mempunyai sesuatu yang lebih baik daripada dugaan. Ia mempunyai pengetahuan.
Kita hidup pada masa ketika begitu banyak orang bersaing untuk memberi tahu kita apa yang harus dicintai, dibenci, diboikot, dibela, atau ditakuti. Algoritma pun cenderung memberi penghargaan kepada reaksi yang cepat dan emosional dibanding keraguan yang membutuhkan waktu.
Karena itu, menunda penilaian mungkin menjadi tindakan yang semakin tidak populer. Tetapi saya tidak yakin kita kehilangan kemampuan tersebut. Mungkin kita hanya jarang melatihnya.
Kita bisa mulai dari kebiasaan sederhana: membaca lebih dari judul, mencari sumber sebelum membagikan kemarahan, melihat karya secara utuh sebelum menganggap satu potongan mewakili semuanya, dan membedakan antara sesuatu yang benar-benar kita ketahui dengan sesuatu yang kita dengar dari orang lain.
Bukan supaya kita menjadi manusia tanpa pendirian. Justru supaya pendirian kita mempunyai dasar.
Saya tidak tahu apakah setiap orang yang menolak Memburu Muhammad akan berubah pikiran setelah membacanya. Mungkin tidak. Mereka mungkin justru menemukan lebih banyak hal yang ingin mereka kritik. Itu sah dalam sebuah masyarakat yang memberi ruang kepada perbedaan.
Tapi setidaknya, kritik itu kini berbicara kepada karya yang benar-benar ada, bukan kepada bayangan tentang karya tersebut.
Barangkali masalah kita bukan karena terlalu banyak orang mempunyai pendapat. Pendapat adalah bagian dari kehidupan bersama. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita semakin nyaman mempunyai kepastian tentang sesuatu yang belum benar-benar kita pahami.
Kita tidak harus menyukai semua yang kita baca. Tidak harus menyetujui semua yang kita dengar. Tidak pula harus menerima setiap karya hanya atas nama kebebasan berekspresi.
Tetapi sebelum memutuskan bahwa sesuatu layak dibenci, ditolak, atau bahkan dihilangkan dari ruang percakapan, mungkin kita berutang kepada diri sendiri satu hal yang sangat sederhana: kesempatan untuk benar-benar mengetahui apa yang sedang kita hakimi. []
Bandung, 25 September 2026