Oleh Liora Maheswari
Setiap kali sebuah kasus besar muncul, perhatian publik seolah berkumpul di satu titik. Media memberitakannya tanpa henti. Media sosial dipenuhi komentar. Potongan video beredar di mana-mana. Orang-orang membicarakannya di kantor, di rumah, hingga di warung kopi.
Lalu beberapa minggu berlalu. Muncul peristiwa baru yang lebih menyita perhatian. Percakapan pun bergeser. Kasus yang sebelumnya terasa begitu penting perlahan menghilang dari ruang publik. Nama-nama yang semula memenuhi lini masa tak lagi disebut. Orang-orang sibuk membahas isu berikutnya.
Pola seperti itu berulang begitu sering hingga saya mulai bertanya-tanya, apakah bangsa ini memang mudah memaafkan, atau sebenarnya kita hanya mudah melupakan?
Pertanyaan itu bukan untuk menghakimi siapa pun. Saya justru merasa kita semua hidup di dalam arus yang sama. Arus informasi yang bergerak begitu cepat, sehingga hampir tidak memberi kesempatan kepada kita untuk benar-benar mengingat.
Baca Juga: Mengapa Kita Selalu Ingin Jadi Orang Pertama yang Mengabarkan?
Antara Memaafkan dan Melupakan
Memaafkan sering dipahami sebagai sesuatu yang baik. Dalam banyak ajaran moral maupun agama, memaafkan dipandang sebagai jalan untuk melepaskan amarah dan melanjutkan hidup. Namun memaafkan bukanlah tindakan yang terjadi begitu saja. Ia lahir setelah seseorang mengingat apa yang terjadi, memahami akibatnya, lalu secara sadar memilih untuk tidak terus hidup dalam kebencian.
Melupakan adalah sesuatu yang berbeda. Melupakan tidak selalu lahir karena luka telah sembuh. Kadang-kadang kita melupakan sesuatu hanya karena perhatian kita berpindah ke tempat lain.
Perbedaan itu terasa penting ketika kita melihat bagaimana masyarakat memperlakukan berbagai peristiwa besar. Kasus korupsi yang pernah memenuhi halaman depan surat kabar perlahan hilang dari percakapan. Tragedi yang sempat mengguncang perhatian nasional bergeser oleh kabar yang lebih baru. Janji-janji politik yang dulu begitu sering dikutip ikut tenggelam ketika muncul isu berikutnya.
Bukan berarti semua persoalan itu selesai. Sebagian masih berjalan dalam proses hukum. Sebagian lain bahkan belum memperoleh penyelesaian yang benar-benar memuaskan. Namun ruang perhatian kita sudah lebih dahulu bergerak.
Mungkin kita tidak sedang memaafkan. Bisa jadi kita hanya tidak lagi sempat mengingat.
Baca Juga: Mengapa Kita Baru Mengingat Atlet Ketika Mereka Menang?
Dunia Bergerak Lebih Cepat daripada Ingatan Kita
Sulit menyalahkan masyarakat atas keadaan ini.
Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi. Telepon genggam memperlihatkan berita baru hampir setiap menit. Satu kasus belum selesai dipahami, sudah muncul peristiwa lain yang tidak kalah mengundang perhatian. Algoritma media sosial juga bekerja dengan logikanya sendiri. Yang baru akan selalu didorong ke permukaan, sementara yang lama perlahan menghilang dari pandangan.
Dalam situasi seperti itu, ingatan kolektif menjadi semakin pendek. Padahal, banyak persoalan membutuhkan waktu yang panjang untuk benar-benar dipahami. Sebuah penyelidikan bisa berlangsung berbulan-bulan. Persidangan dapat berjalan bertahun-tahun. Perubahan kebijakan bahkan mungkin baru memperlihatkan hasilnya setelah berganti pemerintahan.
Sementara itu, ruang publik seringkali hanya memberi perhatian selama beberapa hari. Akibatnya, kita lebih mengenal awal sebuah perkara daripada akhirnya. Kita ingat ketika sebuah kasus pertama kali viral, tetapi lupa bagaimana proses hukumnya berakhir. Kita hafal potongan video yang pertama kali beredar, tetapi tidak selalu mengikuti klarifikasi atau putusan yang muncul kemudian.
Di sini saya merasa ada sesuatu yang hilang. Kita memiliki begitu banyak informasi, tetapi tidak selalu memiliki cukup ingatan.
Baca Juga: Mengapa Kita Semakin Sulit Benar-Benar Beristirahat?
Masyarakat yang Mudah Lupa Akan Sulit Belajar
Ingatan bukan hanya soal mengenang masa lalu. Ingatan adalah cara sebuah masyarakat belajar dari pengalamannya.
Bangsa yang mampu mengingat biasanya juga mampu mengevaluasi. Mereka tahu kebijakan mana yang berhasil dan mana yang gagal. Mereka dapat membandingkan janji dengan kenyataan. Mereka belajar mengenali pola yang terus berulang sehingga kesalahan yang sama tidak terus-menerus terjadi.
Sebaliknya, ketika ingatan menjadi pendek, setiap peristiwa terasa seperti kejadian yang benar-benar baru. Kita bereaksi dengan kemarahan yang sama, lalu perlahan melupakannya ketika perhatian berpindah ke isu lain. Siklus itu terus berulang tanpa pernah benar-benar menghasilkan pelajaran bersama.
Mungkin karena itulah banyak persoalan terasa seperti tidak pernah selesai. Bukan semata-mata karena tidak ada penyelesaian, tetapi juga karena masyarakat sudah lebih dahulu bergerak ke topik berikutnya.
Saya tidak mengatakan bahwa kita harus terus hidup dalam kemarahan atau tidak boleh memaafkan. Memaafkan tetap merupakan sikap yang mulia ketika lahir dari pemahaman dan kesadaran. Namun memaafkan akan kehilangan maknanya jika ia terjadi karena kita sudah tidak lagi ingat apa yang sebenarnya pernah terjadi.
Mungkin yang lebih kita perlukan bukan kemampuan untuk terus mengingat semua peristiwa, karena itu jelas mustahil. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan untuk tidak berhenti mengikuti sebuah persoalan hanya ketika ia sedang ramai. Sebab sebuah bangsa tidak dibentuk hanya oleh cara ia bereaksi terhadap peristiwa besar, tetapi juga oleh kesediaannya menyimpan pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut.
Karena itu, saya rasa pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri bukanlah apakah kita termasuk bangsa yang mudah memaafkan. Pertanyaan yang lebih jujur mungkin adalah, sudahkah kita benar-benar mengingat sebelum memutuskan untuk memaafkan? Jangan-jangan selama ini kita mengira telah memberi maaf, padahal yang terjadi hanyalah perhatian kita berpindah ke cerita berikutnya, sementara persoalan lama perlahan tenggelam bersama derasnya arus informasi yang tidak pernah berhenti. []
Bandung, 13 Juli 2026