Saldo tabungan bisa tetap sama selama bertahun-tahun. Tetapi ketika harga barang meningkat, jumlah uang yang tidak berubah belum tentu memiliki daya beli serupa.
Seorang karyawan memeriksa rekening tabungannya menjelang akhir tahun. Saldo sebesar Rp10 juta yang disisihkan sejak tahun sebelumnya masih tersimpan, belum digunakan untuk membeli apa pun. Ia merasa lega karena berhasil mempertahankan uang tersebut di tengah berbagai kebutuhan sehari-hari.
Ketika mulai menghitung rencana pembelian sebuah barang, ia menyadari harganya sudah meningkat dibandingkan tahun lalu. Uang yang tersimpan memang tidak berkurang, tetapi kemampuan membelinya ternyata berubah. Ia kemudian bertanya-tanya apakah uang yang dibiarkan mengendap di rekening sebenarnya sedang kehilangan nilai.
Situasi ilustratif tersebut berkaitan dengan inflasi, yakni kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode. Inflasi tidak menghapus angka yang tercatat di rekening, tetapi dapat mengurangi jumlah barang dan jasa yang mampu dibeli dengan uang yang sama.
Baca Juga: Harga Kebutuhan Sehari-hari Terus Menekan, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat?
Saldo Tetap Sama, Mengapa Daya Belinya Berkurang?
Dalam ekonomi, terdapat perbedaan antara nilai nominal dan nilai riil uang. Nilai nominal merupakan jumlah rupiah yang dimiliki seseorang, sedangkan nilai riil berkaitan dengan daya belinya setelah mempertimbangkan perubahan harga. Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa mempertahankan saldo belum tentu sama dengan mempertahankan kemampuan membeli.
Badan Pusat Statistik [BPS] mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 3,23 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan September sebesar 3,28 persen. Angka tersebut menunjukkan perubahan Indeks Harga Konsumen [IHK] dibandingkan Oktober tahun sebelumnya, bukan kenaikan seluruh harga barang dengan persentase yang sama.
Sebagai ilustrasi, bayangkan seseorang memiliki uang Rp10 juta dan tingkat harga secara umum meningkat 3,23 persen dalam satu tahun. Agar dapat membeli keranjang barang dan jasa yang sebelumnya bernilai Rp10 juta, ia kini membutuhkan sekitar Rp10.323.000. Jika saldo tabungannya tidak bertambah, daya beli Rp10 juta tersebut setara dengan sekitar Rp9,69 juta dalam nilai uang setahun sebelumnya.
Dengan demikian, penurunan daya beli dalam ilustrasi itu sekitar Rp313 ribu, meskipun tidak ada uang yang diambil dari rekening. Angka tersebut merupakan perhitungan menggunakan tingkat inflasi tertentu, bukan laporan mengenai kerugian aktual setiap penabung.
Perubahan yang dirasakan masing-masing orang juga dapat berbeda. Rumah tangga yang mengalokasikan sebagian besar pengeluarannya untuk makanan mungkin menghadapi perubahan biaya hidup berbeda dari seseorang yang lebih banyak menggunakan uang untuk transportasi atau pendidikan. Karena itu, inflasi nasional merupakan ukuran rata-rata yang tidak selalu menggambarkan pengalaman belanja setiap individu.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa inflasi yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat. Menjaga stabilitas harga menjadi salah satu tujuan kebijakan moneter agar masyarakat dan pelaku usaha memiliki kepastian lebih baik dalam mengambil keputusan ekonomi.
Baca Juga: Kiamat Bursa atau Sekadar Gertak Sambal? Membongkar Mitos dan Realitas Pemecatan Indonesia dari MSCI
Apakah Uang Tabungan Harus Selalu Mengalahkan Inflasi?
Uang yang disimpan di rekening bank dapat memperoleh bunga, bergantung pada jenis tabungan dan ketentuan masing-masing bank. Akan tetapi, pertumbuhan saldo perlu dibandingkan dengan inflasi untuk mengetahui perubahan daya belinya. Bunga yang terlihat positif belum tentu menghasilkan keuntungan riil.
Misalnya, tabungan Rp10 juta memperoleh bunga bersih dua persen dalam setahun sehingga saldonya menjadi Rp10,2 juta. Jika selama periode yang sama tingkat harga meningkat 3,23 persen, daya belinya masih lebih rendah daripada setahun sebelumnya. Nilai riil saldo tersebut setara dengan sekitar Rp9,88 juta berdasarkan harga awal.
Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa bunga tabungan dapat membantu mengurangi dampak inflasi tanpa selalu menghapusnya. Hasil yang sebenarnya bergantung pada tingkat bunga, pajak yang berlaku, biaya administrasi, dan perubahan harga sepanjang periode penyimpanan.
Meski begitu, bukan berarti menyimpan uang di bank merupakan keputusan yang keliru. Rekening tabungan memiliki fungsi penting untuk transaksi sehari-hari, menyediakan dana darurat, dan menjaga uang tetap mudah diakses. Kebutuhan likuiditas dan keamanan juga perlu dipertimbangkan, bukan hanya besarnya imbal hasil.
Bagi seseorang yang sedang menyiapkan dana untuk kebutuhan beberapa bulan mendatang, kemudahan menarik uang mungkin lebih penting daripada mengejar hasil investasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat dapat direncanakan melalui pilihan simpanan atau investasi yang sesuai dengan tujuan, toleransi risiko, serta kondisi keuangan.
Produk investasi juga memiliki risiko, biaya, dan kemungkinan perubahan nilai. Imbal hasil yang lebih tinggi tidak selalu terjamin, sehingga mengejar keuntungan semata-mata untuk melampaui inflasi dapat menimbulkan persoalan baru apabila risiko produknya tidak dipahami.
Langkah yang lebih berguna adalah meninjau kembali tujuan penyimpanan uang, menghitung kebutuhan masa depan, dan membandingkan pertumbuhan dana dengan perubahan harga. Dengan cara tersebut, seseorang dapat mengetahui apakah uangnya sekadar bertambah secara nominal atau benar-benar mempertahankan kemampuan belinya.
Inflasi memperlihatkan bahwa nilai uang tidak hanya ditentukan oleh angka yang tercantum pada rekening. Saldo memang dapat dipertahankan, tetapi harga barang dan jasa terus bergerak mengikuti kondisi ekonomi. Menabung tetap penting, sementara memahami inflasi membantu seseorang memastikan bahwa uang yang dikumpulkannya masih mampu memenuhi tujuan ketika kelak digunakan. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.