Komentar 'mahal banget' sering muncul hampir di mana saja. Di kolom komentar media sosial, di percakapan santai, bahkan dalam obrolan ringan saat melihat sebuah produk atau pengalaman. Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sering kali membawa makna yang lebih dari sekadar angka.

Dalam banyak situasi, 'mahal banget' tidak selalu berarti harga yang benar-benar tidak terjangkau. Ia bisa menjadi reaksi spontan, bentuk perbandingan, atau bahkan cara halus untuk menyampaikan penilaian. Dari sini, bahasa yang digunakan mulai bergerak dari yang terlihat, ke yang tersirat.

Yang menarik, orang yang mengatakan 'mahal banget' belum tentu sedang membahas harga semata. Ada konteks lain yang ikut bermain, seperti pengalaman sebelumnya, ekspektasi, hingga posisi diri terhadap sesuatu yang dilihat. Dari sini, satu kalimat bisa membawa banyak lapisan makna.

Dalam komunikasi sehari-hari, hal seperti ini sering terjadi. Apa yang diucapkan tidak selalu sama dengan apa yang dimaksud. Dan justru di ruang inilah, makna sebenarnya sering muncul.

Baca Juga: Soft Spoken Terlihat Bijak, Outspoken Terlihat Keras, Memangnya Selalu Begitu?

Antara Harga, Nilai, dan Perbandingan

Ketika seseorang mengatakan 'mahal banget', sering ada proses perbandingan yang terjadi di belakangnya. Produk atau pengalaman tersebut tidak dinilai secara berdiri sendiri, tetapi dibandingkan dengan sesuatu yang sudah dikenal sebelumnya. Perbandingan ini membentuk standar yang terasa pribadi, tetapi sebenarnya dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman yang berulang.

Perbandingan ini bisa datang dari pengalaman pribadi, standar yang terbentuk di lingkungan, atau bahkan dari apa yang sering dilihat di media sosial. Dari sini, harga menjadi relatif. Apa yang mahal bagi satu orang, belum tentu sama bagi orang lain.

Dalam ilmu komunikasi, hal ini bisa dijelaskan lewat konsep implicature dari Paul Grice. “Orang tidak selalu mengatakan apa yang mereka maksud, tapi mengharapkan orang lain menangkap maksudnya dari konteks,” sebutnya. Ketika seseorang berkata 'mahal banget', yang disampaikan bisa jadi bukan hanya angka, tetapi penilaian tentang nilai, kelayakan, atau bahkan prioritas.

Dalam konteks ini, 'mahal banget' bisa menjadi cara untuk mengatakan bahwa sesuatu terasa tidak sepadan dengan nilai yang dirasakan. Bukan hanya soal angka, tetapi soal hubungan antara harga dan apa yang didapatkan. Di titik ini, komunikasi mulai bergeser dari informasi menjadi interpretasi.

Ketika perbandingan ini terjadi secara otomatis, kita sering tidak menyadarinya. Padahal, di situlah dasar dari penilaian kita terbentuk, dan dari sana pula cara kita merespons sesuatu ikut terbentuk.

Baca Juga: Kalimatnya Benar, Tapi Kenapa Tak Enak Didengar?

Ketika Bahasa Menjadi Cara Menjaga Posisi

Selain sebagai penilaian, 'mahal banget' juga bisa berfungsi sebagai cara menjaga posisi diri. Dalam beberapa situasi, kalimat ini digunakan untuk menciptakan jarak, baik terhadap produk, pengalaman, maupun orang lain.

Mengatakan sesuatu terlalu mahal bisa menjadi cara untuk menunjukkan bahwa kita tidak perlu memilikinya, atau bahwa kita memilih untuk tidak terlibat. Dari sini, bahasa tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk identitas.

Di sisi lain, kalimat ini juga bisa menjadi bentuk perlindungan. Ketika sesuatu terasa di luar jangkauan, menyebutnya 'mahal banget' bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Dari sini, bahasa menjadi alat untuk menyeimbangkan perasaan.

Dalam komunikasi, hal-hal seperti ini jarang diucapkan secara langsung. Namun tetap terasa dalam cara kita berbicara dan merespons.

Di titik ini, mungkin yang perlu dilihat bukan hanya apa yang dikatakan. Tapi mengapa itu dikatakan, dan dalam konteks apa ia muncul.

Karena bisa jadi, ketika kita mengatakan 'mahal banget', kita tidak hanya sedang membicarakan harga. Kita sedang membicarakan posisi, pengalaman, dan cara kita melihat dunia. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.