Beberapa waktu lalu, percakapan publik sempat ramai membahas dua sosok dokter dengan gaya komunikasi yang sangat berbeda: dr. Gia yang dikenal lebih tenang dan lembut, serta dr. Tirta yang sering tampil lugas dan langsung. Menariknya, perdebatan yang muncul bukan hanya soal isi, tapi soal cara penyampaiannya.
Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang sering terjadi di ruang digital. Ketika dua orang menyampaikan pandangan yang sama-sama kuat, publik tidak selalu fokus pada argumen. Yang lebih cepat ditangkap justru nada, ritme, dan cara bicara.
Di titik ini, perbedaan antara soft spoken dan outspoken menjadi lebih dari sekadar gaya. Ia berubah menjadi dasar penilaian, bahkan sebelum isi benar-benar dipahami.
Perbedaan ini bukan sekadar persepsi sesaat. Ia terus berulang di banyak konten, komentar, dan diskusi publik. Dari situ, terbentuk pola bahwa cara bicara tertentu terasa lebih ‘aman’, sementara yang lain terasa lebih ‘menantang’.
Baca Juga: Kalimatnya Benar, Tapi Kenapa Tak Enak Didengar?
Ketika Gaya Bicara Mengalahkan Isi
Dalam banyak video yang beredar, dr. Gia sering dilihat sebagai representasi dari gaya soft spoken. Nada bicaranya stabil, ritmenya pelan, dan ekspresinya cenderung tenang. Cara seperti ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih terkendali dan mudah diterima.
Sebaliknya, dr. Tirta tampil dengan gaya yang lebih outspoken. Ia berbicara cepat, langsung ke inti, dan tidak selalu memberi jeda panjang. Dalam beberapa konteks, gaya seperti ini terasa lebih tegas, bahkan bagi sebagian orang terdengar lebih keras.
Padahal, jika dilihat lebih dalam, keduanya sama-sama menyampaikan argumen yang memiliki dasar. Namun karena perbedaan cara menyampaikan, respons publik bisa sangat berbeda.
Deborah Tannen, dalam bukunya You Just Don’t Understand, menjelaskan bahwa gaya komunikasi bukan hanya alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk bagaimana orang lain memahami dan menilai pesan tersebut. Artinya, cara bicara bisa mengubah makna yang diterima, meskipun isi tidak berubah.
Hal ini membuat diskusi publik sering bergeser arah. Alih-alih membahas isi, perhatian justru terjebak pada cara penyampaian. Dari situ, label mulai muncul, seperti 'bijak' untuk yang tenang, dan 'emosional' untuk yang lebih langsung.
Baca Juga: ‘Lagi Nggak Kenapa-Kenapa’, Kalimat yang Paling Sering Berdusta?
Kita Mendengar Nada, Lalu Menyimpulkan Makna
Kecenderungan ini tidak lepas dari cara manusia memproses komunikasi. Dalam banyak situasi, kita lebih cepat merespons hal yang terasa, dibandingkan yang perlu dipikirkan. Nada suara, ekspresi, dan tempo bicara menjadi sinyal pertama yang ditangkap.
Albert Mehrabian pernah menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, unsur nonverbal seperti nada suara memiliki peran besar dalam membentuk persepsi. Meskipun teorinya sering disederhanakan, satu hal tetap relevan: cara penyampaian memengaruhi cara pesan diterima.
Di media sosial, kondisi ini semakin diperkuat. Audiens tidak selalu punya waktu untuk mencerna isi secara mendalam. Video diputar cepat, komentar dibaca sekilas, dan kesimpulan sering dibuat dalam waktu singkat.
Dari sini, muncul kecenderungan untuk lebih percaya kepada apa yang terdengar nyaman. Nada yang pelan dan stabil terasa lebih menenangkan, sehingga lebih mudah diterima. Sebaliknya, nada yang tegas atau cepat bisa terasa mengganggu, meskipun isi yang disampaikan tetap rasional.
Hal ini menjelaskan kenapa dua gaya komunikasi bisa menghasilkan respons yang sangat berbeda. Bukan karena isi yang disampaikan berubah, tetapi karena cara kita mendengarnya sudah lebih dulu membentuk penilaian.
Di tengah kondisi ini, mungkin yang perlu disadari bukan hanya bagaimana orang lain berbicara. Tapi bagaimana kita mendengar. Karena bisa jadi, kita tidak sedang menilai isi pembicaraan, melainkan cara suara itu terasa di telinga kita. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.