Angka pesan yang belum terbaca terus bertambah. Kita bahkan belum membuka percakapannya. Aneh, lelahnya kadang sudah datang lebih dulu.
Ada grup keluarga, pekerjaan, sekolah anak, komunitas, organisasi, alumni, proyek, sampai grup sementara yang ternyata tidak pernah benar-benar sementara. Sebagian aktif setiap hari, sebagian muncul sesekali, tetapi hampir semuanya tinggal di tempat yang sama. Ketika membuka WhatsApp, kita tidak hanya menemukan percakapan, tetapi juga sederet hal yang terasa menunggu perhatian.
Belakangan muncul istilah WAG fatigue untuk menggambarkan pengalaman semacam ini, meski dalam literatur ilmiah istilah yang lebih banyak digunakan adalah instant messaging fatigue, message fatigue, atau communication overload. Penelitian Juhyung Sun dan Sun Kyong Lee menemukan communication overload dan social overload berhubungan positif dengan kelelahan menggunakan aplikasi pesan instan dan technostress.
Menariknya, kita tidak harus membaca seluruh pesan terlebih dahulu untuk merasakan bebannya. Melihat angka 87, 153, atau 286 pesan yang belum terbaca saja dapat membuat sebuah grup terasa seperti pekerjaan yang tertunda. Padahal kita belum tahu apakah isinya keputusan penting, percakapan santai, atau sekadar rentetan stiker.
Baca Juga: Diam dalam Percakapan Tidak Selalu Berarti Kita Kehabisan Kata. Jadi Apa?
Bukan Hanya Banyak Pesan, Ada Banyak Keputusan di Dalamnya
Seratus pesan tidak selalu berarti seratus informasi penting. Namun untuk mengetahui mana yang penting, kita tetap harus menyaringnya. Kita perlu melihat siapa yang berbicara, apa konteksnya, apakah ada pertanyaan untuk kita, apakah sesuatu perlu dikerjakan, dan apakah kita perlu memberikan respons.
Di sinilah jumlah pesan berbeda dengan jumlah informasi yang benar-benar dibutuhkan. Satu grup dapat menghasilkan puluhan pesan hanya untuk membahas satu keputusan. Sebaliknya, satu pesan pendek dari atasan, keluarga, atau seseorang yang sedang membutuhkan bantuan bisa menuntut perhatian jauh lebih besar.
Ada pula lapisan sosial yang membuat WAG berbeda dari tumpukan surat elektronik biasa. Kita bukan hanya menerima informasi, tetapi berada di dalam percakapan bersama orang lain. Diam, membaca, terlambat menjawab, atau tidak memberikan reaksi kadang terasa memiliki arti sosial tertentu, meskipun sebenarnya tidak pernah ada aturan tertulis yang mewajibkan kita merespons.
Penelitian Sun dan Lee menyebut dua tekanan tersebut sebagai communication overload dan social overload. Dalam studi terhadap 311 responden, keduanya berkaitan dengan instant messaging fatigue dan technostress. Kelelahan yang lebih tinggi juga berkaitan dengan keinginan lebih besar untuk berhenti menggunakan layanan pesan tersebut, meski penelitian ini bersifat potong lintang dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat untuk semua pengguna.
Penelitian terbaru mengenai WhatsApp memberi gambaran yang senada, sekaligus menunjukkan bahwa hubungannya tidak sesederhana “semakin banyak grup, semakin buruk”. Studi 2026 terhadap hampir 3.000 partisipan menemukan mereka yang memiliki lebih dari sepuluh group chat melaporkan tingkat stres sedikit lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki kurang dari lima. Namun jumlah grup juga berkaitan dengan aspek positif seperti kebermaknaan komunikasi, sehingga WhatsApp dapat menjadi sumber koneksi sekaligus beban.
Mungkin karena itulah kita bisa menyukai orang-orang di dalam sebuah grup tetapi tetap merasa malas membukanya. Yang melelahkan belum tentu hubungan dengan mereka. Bebannya bisa muncul karena terlalu banyak percakapan meminta tempat di ruang perhatian yang sama.
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Menjelaskan Lebih Panjang Justru ketika Merasa Tidak Dipercaya?
Bisa Dihubungi Tidak Berarti Harus Selalu Tersedia
Solusi paling mudah biasanya adalah mematikan notifikasi. Cara itu memang dapat mengurangi interupsi, terutama ketika bunyi dan tampilan pesan terus memecah konsentrasi. Namun mute hanya menghentikan panggilan masuk ke perhatian kita; ia tidak otomatis menghapus tumpukan percakapan yang terasa menunggu ketika aplikasi kembali dibuka.
Mungkin yang lebih penting adalah mengubah cara kita memahami pesan yang belum dibaca. Tidak setiap pesan merupakan tugas, tidak setiap percakapan membutuhkan keterlibatan kita, dan tidak semua grup harus diikuti secara kronologis dari pesan terakhir yang pernah dibaca. Angka unread adalah jumlah pesan yang belum dibuka, bukan jumlah utang komunikasi yang harus dilunasi.
Kita juga dapat membedakan fungsi setiap grup. Grup operasional yang memuat pekerjaan hari itu tentu membutuhkan perhatian berbeda dari grup alumni, keluarga besar, atau komunitas yang sebagian besar berisi percakapan sosial. Dengan memberi prioritas yang berbeda, semua grup tidak lagi berdiri di kepala kita dengan tingkat urgensi yang sama.
Jika sudah tertinggal ratusan pesan, kita pun tidak selalu harus mengejarnya dari awal. Melihat percakapan terbaru, mencari apakah nama kita disebut, atau menemukan informasi yang memang relevan sering kali sudah cukup. Melewatkan sebagian percakapan bukan berarti kita tidak peduli kepada orang-orang di dalamnya.
Batas yang sama pentingnya berlaku pada kecepatan membalas. Teknologi membuat pesan dapat sampai dalam hitungan detik, tetapi kemampuan teknologi mengantarkan pesan tidak otomatis menentukan seberapa cepat manusia harus meresponsnya. Pesan sudah diterima dan seseorang sedang tersedia untuk menjawab adalah dua keadaan yang berbeda.
Dalam grup pekerjaan, batas tersebut bahkan sebaiknya tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Sebuah tim dapat mempunyai kesepakatan mengenai informasi yang benar-benar mendesak, pesan yang membutuhkan respons, waktu respons yang wajar, dan persoalan yang sebaiknya tidak dibahas melalui percakapan grup. Tanpa aturan semacam itu, kemudahan berkomunikasi dapat berubah menjadi ekspektasi bahwa semua orang harus terus mengikuti komunikasi.
WAG tentu bukan musuh yang perlu kita tinggalkan. Grup WhatsApp memungkinkan keluarga tetap terhubung, pekerjaan bergerak cepat, komunitas bertukar informasi, dan orang-orang yang berjauhan tetap hadir dalam kehidupan satu sama lain. Penelitian tentang WhatsApp juga menunjukkan pengalaman pengguna mencakup sekaligus stres, kebermaknaan, kedalaman komunikasi, dan perasaan membuang waktu.
Mungkin itu sebabnya WAG fatigue terasa begitu aneh. Kita bisa menyukai percakapannya, membutuhkan informasinya, bahkan menyayangi orang-orang di dalamnya, sambil tetap merasa lelah ketika melihat angka pesan yang belum dibaca.
Yang perlu dikurangi mungkin bukan selalu jumlah orang yang dapat menghubungi kita. Yang perlu dikembalikan adalah batas antara menerima pesan dan memberikan perhatian. Sebab bisa dihubungi kapan saja tidak seharusnya berarti kita harus tersedia setiap saat. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.