Ada percakapan yang berakhir dengan tawa. Ada yang menghasilkan keputusan. Namun tidak sedikit pula yang berakhir dengan keheningan, rasa kecewa, atau perasaan tidak dipahami. Ketika itu terjadi, apakah percakapan tersebut benar-benar gagal?
Hampir setiap orang pernah mengalami situasi ketika pembicaraan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Kita merasa sudah menjelaskan maksud dengan sebaik mungkin, tetapi lawan bicara tetap menangkap sesuatu yang berbeda. Di sisi lain, kita juga pernah berada dalam posisi tidak benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan orang lain, meski percakapan berlangsung cukup lama.
Situasi seperti ini dapat terjadi di mana saja. Di dalam keluarga, perbedaan cara pandang sering muncul karena setiap anggota memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Di tempat kerja, perbedaan latar belakang dan kepentingan membuat komunikasi tidak selalu berjalan mulus. Bahkan di antara sahabat yang sudah saling mengenal bertahun-tahun, kesalahpahaman tetap dapat terjadi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar soal berbicara. Ia juga berkaitan dengan bagaimana setiap orang memahami, menafsirkan, dan memberi makna terhadap pesan yang diterimanya.
Baca Juga: Benarkah Kita Sulit Mengatakan Apa yang Sebenarnya Dirasakan?
Memahami Tidak Selalu Berarti Menyetujui
Dalam kajian komunikasi, pesan yang disampaikan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Pengalaman hidup, nilai yang dianut, emosi, hingga situasi yang sedang dihadapi akan memengaruhi cara seseorang menerima sebuah pesan. Karena itu, dua orang dapat mendengar kalimat yang sama, tetapi memahaminya dengan cara yang berbeda.
Pakar komunikasi interpersonal, Joseph A. DeVito, menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga pada kemampuan mendengarkan, menunjukkan empati, dan memahami sudut pandang orang lain. Artinya, keberhasilan komunikasi tidak selalu diukur dari apakah orang lain akhirnya setuju dengan kita, melainkan apakah kedua belah pihak memiliki kesempatan untuk saling memahami.
Sayangnya, dalam banyak percakapan, kita sering datang dengan tujuan yang berbeda. Kita ingin didengar, ingin dipahami, bahkan kadang ingin diyakini. Akibatnya, perhatian lebih banyak tercurah pada bagaimana menyusun jawaban daripada benar-benar mendengarkan apa yang sedang disampaikan lawan bicara.
Padahal, memahami bukan berarti harus menyetujui. Kita tetap dapat menghargai alasan seseorang berpikir seperti itu, meski akhirnya memilih pendapat yang berbeda. Kesadaran inilah yang sering membuat sebuah percakapan tetap terasa bermakna, meskipun tidak menghasilkan kesepakatan.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Membaca Pesan Berkali-kali Sebelum Menekan Tombol Kirim?
Memberi Ruang bagi Perbedaan
Tidak semua perbedaan harus diselesaikan saat itu juga. Ada kalanya sebuah percakapan memang belum menemukan titik temu karena masing-masing pihak masih membawa pengalaman, emosi, atau cara pandang yang belum siap dipertemukan. Memaksakan kesepakatan dalam kondisi seperti itu justru dapat membuat komunikasi semakin menjauh dari tujuan awalnya.
Yang sering dibutuhkan bukanlah argumen yang lebih kuat, melainkan ruang yang lebih luas untuk saling mendengar. Ketika seseorang merasa didengarkan dengan sungguh-sungguh, ia biasanya menjadi lebih terbuka untuk memahami pandangan orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang merasa dihakimi sejak awal, percakapan cenderung berubah menjadi ajang mempertahankan diri.
Komunikasi yang baik juga membutuhkan kesediaan untuk menerima bahwa kita tidak selalu memiliki semua jawaban. Ada kalanya kita perlu bertanya lebih banyak daripada berbicara. Ada kalanya kita perlu mengakui bahwa pengalaman orang lain memang berbeda dari pengalaman kita. Sikap seperti ini bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari kedewasaan dalam berkomunikasi.
Mungkin karena itu, tidak semua percakapan harus berakhir dengan saling mengerti secara utuh. Ada percakapan yang justru berhasil ketika masing-masing pulang dengan pemahaman bahwa dunia memang tidak selalu dilihat dari sudut yang sama. Dan mungkin, di situlah komunikasi menemukan maknanya. Bukan ketika semua orang berpikir sama, tetapi ketika perbedaan tetap memberi ruang bagi rasa hormat dan keinginan untuk terus memahami satu sama lain. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.