Pernahkah Anda menulis sebuah pesan, lalu membacanya kembali sebelum mengirim? Setelah itu mengubah satu kata, menghapus satu kalimat, lalu membacanya lagi dari awal. Ketika semuanya terasa sudah tepat, Anda masih sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol kirim.

Kebiasaan ini mungkin terdengar sepele, tetapi ternyata cukup umum. Di tengah berbagai aplikasi yang membuat komunikasi berlangsung semakin cepat, banyak orang justru menghabiskan waktu lebih lama untuk memastikan pesan yang mereka kirim tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Menariknya, tidak semua orang melakukannya. Ada juga yang mengetik cepat, mengirim tanpa membaca ulang, dan baru menyadari kesalahan setelah pesannya sampai ke tujuan. Sebagian bahkan tidak terlalu peduli jika terdapat typo atau susunan kalimat yang kurang rapi. Mereka beranggapan bahwa lawan bicara pasti dapat memahami maksud yang ingin disampaikan.

Perbedaan ini membuat komunikasi digital menjadi menarik. Sebab ternyata yang dikirim bukan hanya kata-kata, tetapi juga cara seseorang memandang komunikasi itu sendiri.

Baca Juga: Kata-Katanya Mirip, Tapi Mengapa Rasanya Berbeda?

Sebagian Orang Tidak Sedang Memeriksa Kata, Melainkan Kemungkinan Salah Paham

Ketika berbicara secara langsung, manusia memiliki banyak alat bantu untuk menyampaikan maksudnya. Ada intonasi suara, ekspresi wajah, gerakan tubuh, bahkan situasi yang sedang terjadi saat percakapan berlangsung. Semua itu membantu lawan bicara memahami makna yang ingin disampaikan.

Dalam pesan tertulis, sebagian besar petunjuk tersebut menghilang. Akibatnya, satu kalimat yang sebenarnya biasa saja bisa dibaca dengan nada yang berbeda oleh orang yang berbeda. Kalimat yang dimaksudkan sebagai candaan dapat terdengar serius. Kritik yang disampaikan dengan hati-hati dapat terasa lebih tajam daripada yang dimaksudkan. Bahkan jawaban singkat seperti "oke" atau "baik" bisa ditafsirkan dengan berbagai cara tergantung siapa yang membacanya.

Karena itulah sebagian orang terbiasa membaca ulang pesan mereka. Mereka tidak selalu sedang mengejar kesempurnaan bahasa. Yang mereka periksa sering kali adalah kemungkinan munculnya makna yang tidak mereka inginkan.

Apakah kalimat ini terdengar terlalu keras? Apakah pilihan katanya cukup jelas? Apakah ada bagian yang bisa ditafsirkan berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul karena mereka memahami bahwa dalam komunikasi, niat yang baik tidak selalu menjamin pesan akan diterima dengan baik pula.

Baca Juga: Banyak Orang Bertanya, Bukan untuk Dapat Jawaban, Lalu Buat Apa?

Ketika Isi Pesan Dianggap Sudah Cukup untuk Menjelaskan Segalanya

Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak terlalu memusingkan hal-hal seperti itu. Selama inti pesannya tersampaikan, mereka merasa tugas komunikasi sudah selesai. Typo dianggap bukan masalah besar. Tanda baca yang hilang tidak terlalu diperhatikan. Kalimat yang kurang lengkap pun tetap dikirim tanpa banyak pertimbangan.

Fenomena ini cukup sering ditemukan pada generasi yang tumbuh dalam budaya komunikasi tatap muka yang kuat. Tentu tidak semua demikian, tetapi banyak orang yang terbiasa berbicara langsung cenderung menganggap konteks akan membantu menjelaskan maksud mereka. Mereka lebih fokus pada apa yang ingin disampaikan daripada bagaimana pesan itu dituliskan.

Masalahnya, komunikasi digital tidak selalu memberikan kemewahan yang sama. Pembaca hanya menerima teks. Ketika sebuah kalimat ditulis terlalu terburu-buru atau penuh kesalahan, lawan bicara harus bekerja lebih keras untuk menebak maksud sebenarnya.

Sebagian besar waktu mungkin tidak terjadi masalah. Namun, sesekali muncul situasi ketika dua orang merasa sedang membicarakan hal yang sama, padahal masing-masing memahami pesan dengan cara yang berbeda.

Karena itu, membaca ulang pesan sebelum mengirim sebenarnya bukan sekadar kebiasaan teknis. Ia merupakan bagian dari upaya untuk memastikan bahwa apa yang ada di kepala kita memiliki peluang lebih besar untuk sampai ke kepala orang lain tanpa kehilangan terlalu banyak makna di tengah jalan.

Dan mungkin di situlah tantangan terbesar komunikasi modern. Bukan pada kecepatan mengirim pesan, melainkan pada kemampuan membuat orang lain memahami apa yang benar-benar ingin kita sampaikan. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.