Beberapa tahun lalu, produk perawatan kulit identik dengan orang dewasa. Anak SMP biasanya hanya mengenal sabun muka, bedak, atau lip balm sederhana. Namun sekarang, situasinya berubah sangat cepat. Tidak sedikit remaja usia belasan tahun sudah mengenal serum, skin barrier, exfoliating toner, sampai produk dengan harga ratusan ribu rupiah.

Fenomena ini semakin terlihat di media sosial. Video rutinitas skincare anak sekolah menjadi hal biasa. Ada yang memperlihatkan meja penuh produk, ada juga yang membahas kandungan aktif layaknya beauty consultant. Menariknya, kondisi ini perlahan terasa normal, bahkan dianggap bagian dari gaya hidup remaja masa kini.

Padahal, tidak semua kulit remaja membutuhkan perawatan serumit itu. Dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Alfrid Asditya Miraz Harahap, M.Ked.Klin, Sp.DV pernah menjelaskan bahwa kulit remaja umumnya masih berada dalam fase perkembangan sehingga penggunaan produk berlebihan justru bisa memicu iritasi atau kerusakan lapisan pelindung kulit.

Namun masalahnya bukan hanya soal produk. Yang lebih besar adalah bagaimana standar baru tentang 'kulit ideal' terus dibentuk setiap hari.

Profesor sosiologi dan penulis Jean Kilbourne dalam bukunya Can’t Buy My Love [1999] menjelaskan bahwa industri kecantikan sejak lama membangun rasa tidak aman agar orang merasa perlu membeli lebih banyak produk. Di era media sosial, proses itu menjadi jauh lebih cepat karena standar visual tersebar setiap saat melalui layar ponsel.

Baca Juga: Kerutan di Area T Sering Muncul Lebih Dulu, Apa Penyebabnya?

Standar Cantik Sekarang Datang dari Layar yang Dilihat Setiap Hari

Banyak remaja sekarang tumbuh dalam lingkungan visual yang sangat intens. Mereka melihat wajah mulus di media sosial hampir setiap hari. Filter kamera, pencahayaan, editing, dan konten kecantikan membuat kulit sempurna terasa seperti standar normal yang harus dicapai.

Masalahnya, usia SMP adalah fase ketika seseorang mulai membangun rasa percaya dirinya sendiri. Ketika standar visual yang dilihat terlalu tinggi, banyak remaja mulai merasa kulit mereka 'kurang bagus' meski sebenarnya normal.

Psikolog klinis anak dan remaja dr. A. Kasandra Putranto menjelaskan bahwa media sosial dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya sendiri, terutama ketika mereka terus membandingkan penampilan dengan orang lain secara berlebihan.

Hal ini diperkuat oleh penelitian psikolog sosial Jonathan Haidt dalam bukunya The Anxious Generation [2024]. Ia menjelaskan bahwa generasi muda sekarang tumbuh dalam tekanan digital yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya, termasuk tekanan terhadap penampilan fisik.

Akibatnya, produk skincare bukan lagi sekadar kebutuhan perawatan kulit. Bagi sebagian remaja, produk tertentu mulai dianggap bagian dari identitas sosial. Ada rasa takut dianggap 'kurang merawat diri' jika tidak mengikuti tren yang sedang ramai.

Kondisi ini juga membuat standar kebutuhan menjadi bergeser. Produk mahal yang dulu terasa berlebihan perlahan dianggap wajar karena terus muncul di lingkungan digital yang sama setiap hari.

Baca Juga: Mandi Susu Sering Dianggap Mewah dan Rumit, Tapi Apa Sebenarnya Manfaatnya untuk Kulit?

Tidak Semua yang Viral Benar-Benar Dibutuhkan Kulit Remaja

Kulit remaja sebenarnya belum tentu membutuhkan terlalu banyak kandungan aktif. Dalam banyak kasus, perawatan dasar seperti menjaga kebersihan wajah, menggunakan pelembap ringan, dan sunscreen sudah cukup membantu menjaga kesehatan kulit.

Namun algoritma media sosial bekerja dengan cara berbeda. Konten yang menarik perhatian akan terus didorong muncul, termasuk tren skincare yang terlihat mewah, kompleks, dan estetik.

Profesor komunikasi Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together [2011] menjelaskan bahwa teknologi digital tidak hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi, tapi juga membentuk persepsi tentang kebutuhan dan identitas diri.

Karena itu, banyak remaja sekarang sulit membedakan mana kebutuhan nyata dan mana dorongan sosial yang terus diulang oleh lingkungan digitalnya sendiri.

Bukan berarti remaja tidak boleh merawat diri. Perawatan kulit tetap penting, terutama untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit. Namun ketika standar kecantikan mulai membuat anak usia SMP merasa harus menggunakan produk mahal agar dianggap 'cukup baik', ada sesuatu yang sebenarnya sedang berubah dalam cara masyarakat memandang penampilan.

Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah skincare itu penting atau tidak. Yang mulai perlu dipikirkan adalah siapa yang sebenarnya menentukan standar kebutuhan itu sejak awal. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.