Lengket, kenyal, dan manisnya bertahan lama di lidah. Dodol China bukan sekadar kudapan, tetapi simbol yang ikut merayakan harapan.

Setiap perayaan Imlek, ada satu sajian yang hampir selalu hadir di meja keluarga Tionghoa: dodol China. Bentuknya bisa kotak atau bulat, warnanya cokelat keemasan, dan teksturnya padat mengilap. Sekilas ia mengingatkan pada dodol yang akrab di berbagai daerah Indonesia. Namun, di balik kemiripan itu, tersimpan perbedaan rasa dan makna.

Dodol China dikenal juga sebagai kue keranjang atau nian gao. Terbuat dari tepung ketan dan gula, adonannya dimasak perlahan hingga mengental dan padat. Proses memasaknya memerlukan kesabaran, karena api harus dijaga stabil agar adonan tidak gosong dan teksturnya tetap halus.

Baca Juga: Tips Memasak Udang dan Lobster agar Empuk dan Lezat

Mengapa Selalu Hadir Saat Imlek?

Dalam tradisi Tionghoa, nian gao memiliki makna filosofis yang kuat. Kata 'gao' terdengar seperti kata yang berarti 'tinggi' atau 'naik'. Karena itu, menyantap dodol China saat Imlek melambangkan harapan akan peningkatan rezeki, karier, dan kehidupan di tahun yang baru.

Teksturnya yang lengket juga memiliki simbol tersendiri. Ia melambangkan eratnya hubungan keluarga. Harapannya, kebersamaan tetap melekat dan tidak mudah terpisah oleh waktu atau jarak.

Tak heran jika dodol China sering disusun rapi di altar sembahyang atau dijadikan buah tangan saat berkunjung ke rumah kerabat. Ia bukan sekadar makanan, tetapi doa yang bisa disantap.

Baca Juga: Pempek Palembang dan Pempek Lampung, Apa Bedanya?

Apa yang Membuatnya Istimewa?

Keistimewaan dodol China terletak pada kesederhanaannya. Bahan yang digunakan tidak banyak, tetapi prosesnya panjang. Dari adonan cair hingga padat kenyal, perubahan tekstur itu menjadi inti dari karakter rasanya.

Rasa manisnya cenderung bersih dan langsung, berbeda dengan beberapa dodol Nusantara yang memadukan santan dan gula merah sehingga menghasilkan rasa lebih kompleks dan aroma lebih kaya.

Dodol China juga biasanya dikukus kembali sebelum disajikan, atau dipotong lalu digoreng tipis hingga bagian luarnya sedikit renyah. Cara penyajian ini memberi sensasi berbeda dibanding dodol lokal yang umumnya disantap langsung.

Baca Juga: Gulai Taboh, Jejak Rasa Lampung yang Menjadi Warisan

Bedanya dengan Dodol Lokal Indonesia

Dodol Indonesia, seperti dodol Garut atau dodol Betawi, umumnya menggunakan campuran santan, gula merah, dan kadang tambahan perisa buah. Teksturnya lebih elastis dan aromanya lebih harum karena pengaruh santan.

Sementara dodol China lebih fokus kepada rasa manis dari gula dan kekenyalan tepung ketan. Tidak ada aroma santan yang dominan. Karakternya lebih padat dan bersih, dengan warna yang biasanya lebih gelap dan mengilap.

Jika dodol lokal sering hadir sebagai camilan sepanjang tahun, dodol China memiliki momen khusus yang kuat, yakni perayaan tahun baru Imlek. Nilai simboliknya membuatnya tidak sekadar kudapan, melainkan bagian dari ritual budaya.

Di tengah keberagaman kuliner Indonesia, dodol China menjadi contoh bagaimana rasa bisa melintasi batas budaya dan tetap bertahan dengan identitasnya sendiri. Dalam satu potong kecil yang lengket itu, tersimpan harapan agar hidup terus bergerak naik, setinggi doa yang dipanjatkan saat tahun baru tiba. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]