Hari yang buruk kadang terasa sedikit membaik setelah kopi atau makanan favorit. Apakah makanan memang bisa mengubah mood, atau lidah kita hanya sedang senang?

Kita mungkin pernah pulang dalam keadaan lelah lalu merasa keadaan membaik setelah menyantap makanan kesukaan. Bagi sebagian orang, penyelamatnya secangkir kopi atau cokelat. Bagi yang lain, bisa saja bakso, mi instan, makanan pedas, atau masakan rumah yang rasanya sudah dikenal bertahun-tahun.

Pengalaman itu nyata, tetapi penjelasannya tidak sesederhana satu makanan masuk lalu hormon kebahagiaan keluar. Ilmu tentang food reward bahkan membedakan antara liking atau kenikmatan yang dirasakan ketika mengonsumsi makanan dengan wanting, yaitu dorongan untuk memperoleh makanan tersebut. Keduanya melibatkan mekanisme yang berkaitan tetapi tidak sepenuhnya sama.

Karena itu, ketika makanan terasa mampu 'memperbaiki mood', sebenarnya ada banyak hal yang mungkin sedang terjadi bersamaan. Tubuh memperoleh energi, indra mendapatkan pengalaman menyenangkan, otak memproses penghargaan, dan ingatan bisa menghadirkan kembali pengalaman tertentu. Sepiring makanan ternyata membawa lebih banyak hal daripada rasa.

Baca Juga: Kenapa Makanan yang Sama Bisa Terasa Lebih Enak ketika Kita Sangat Lapar?

Rasa Enak Memang Bisa Membuat Kita Merasa Lebih Baik

Makanan yang dianggap lezat berhubungan dengan sistem reward otak. Penelitian mengenai food reward menunjukkan proses tersebut melibatkan jaringan yang kompleks, termasuk sistem dopaminergik yang berperan dalam motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap bernilai. Karena itu, mengatakan 'makanan enak melepaskan dopamin lalu membuat bahagia' sebenarnya terlalu menyederhanakan proses yang jauh lebih rumit.

Ada pula makanan atau minuman yang mengandung senyawa dengan efek fisiologis yang cukup langsung. Kopi adalah contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari karena kafein dapat meningkatkan kewaspadaan. Meta-analisis 2025 terhadap 31 uji terkontrol dengan total 1.455 peserta menemukan kafein secara akut meningkatkan kecepatan reaksi dan akurasi dalam tugas perhatian pada orang dewasa sehat yang cukup beristirahat.

Efek tersebut tidak sama dengan kebahagiaan. Seseorang yang sebelumnya mengantuk lalu menjadi lebih waspada setelah minum kopi dapat merasa lebih siap menghadapi pekerjaan, dan perubahan keadaan itu bisa diterjemahkan sebagai perasaan yang lebih baik. Pada teh, kombinasi kafein dan L-theanine juga telah diteliti dan menunjukkan sejumlah efek kecil hingga sedang terhadap perhatian dan beberapa ukuran mood, meskipun hasil antarpenelitian masih memiliki ketidakpastian.

Namun pengalaman makan tidak berlangsung di laboratorium yang steril. Aroma nasi yang baru matang, suara minyak ketika menggoreng, sambal yang biasa tersedia di meja keluarga, atau rasa sup yang mengingatkan kita pada rumah ikut membentuk pengalaman tersebut. Makanan bisa menjadi pengalaman sensorik sekaligus sosial dan personal.

Itulah sebabnya makanan yang dianggap menenangkan tidak harus mahal atau secara nutrisi mempunyai sesuatu yang luar biasa. Bagi seseorang mungkin bubur ayam, bagi orang lain roti bakar atau semangkuk soto. Yang dicari terkadang bukan hanya rasanya, tetapi rasa akrab yang datang bersamanya.

Baca Juga: Resepnya Sama, Bahannya Sama, Mengapa Beda Tangan Pemasak, Bisa Beda Rasanya?

Merasa Lebih Enak Sesaat Berbeda dengan Memperbaiki Kesehatan Mental

Di sinilah istilah 'makanan pembangkit mood' perlu digunakan dengan hati-hati. Perasaan nyaman setelah makan makanan favorit tidak otomatis berarti makanan tersebut dapat mengobati stres, kecemasan, atau depresi. Kenikmatan sesaat dan kesehatan mental jangka panjang merupakan dua persoalan yang berbeda.

Hubungan antara makanan dan mood juga tidak hanya dipelajari melalui satu jenis makanan. Salah satu penelitian yang cukup dikenal adalah SMILES trial, uji terkontrol acak terhadap orang dewasa dengan depresi sedang hingga berat. Setelah 12 minggu, kelompok yang memperoleh intervensi perbaikan pola makan dari ahli gizi menunjukkan perbaikan gejala depresi yang lebih besar dibanding kelompok kontrol berupa dukungan sosial.

Namun penelitian tersebut bukan bukti bahwa ada satu makanan ajaib untuk memperbaiki suasana hati. Intervensinya merupakan perubahan pola makan secara keseluruhan dan diberikan sebagai terapi tambahan; sebagian besar peserta juga menggunakan psikoterapi, farmakoterapi, atau keduanya. Para penelitinya sendiri kemudian menyebut hasil tersebut sebagai langkah awal yang penting, sekaligus mengakui persoalan seperti kemungkinan bias ekspektasi dalam penelitian intervensi gaya hidup.

Perbedaan itu penting ketika kita melihat berbagai klaim tentang cokelat, pisang, kopi, kacang-kacangan, atau makanan tertentu sebagai 'penambah kebahagiaan'. Kandungan nutrisi memang dapat berhubungan dengan fungsi tubuh dan otak, tetapi suasana hati manusia tidak dikendalikan oleh satu makanan atau satu neurotransmiter. Tidur, aktivitas fisik, kesehatan, stres, hubungan sosial, pengalaman hidup, dan keseluruhan pola makan ikut berada dalam gambar yang jauh lebih besar.

Ada pula alasan mengapa kita sebaiknya tidak merasa bersalah ketika sesekali mencari makanan untuk mendapatkan sedikit kenyamanan. Makan memang mempunyai dimensi kenikmatan, bukan sekadar pekerjaan memasukkan zat gizi ke tubuh. Masalah baru muncul jika makanan menjadi satu-satunya cara yang terus-menerus digunakan untuk menghadapi emosi, sementara penyebab tekanan yang sebenarnya tidak pernah disentuh.

Mungkin karena itu pertanyaan 'makanan apa yang bisa memperbaiki mood?' tidak mempunyai jawaban tunggal. Secangkir kopi dapat membuat seseorang lebih waspada, makanan lezat dapat memberikan pengalaman menyenangkan, dan pola makan yang lebih baik dapat berhubungan dengan kesehatan mental dalam konteks yang lebih luas. Tetapi ketiganya bekerja dalam skala waktu dan mekanisme yang berbeda.

Ada hari ketika semangkuk mi hangat memang membuat dunia terasa sedikit lebih bersahabat. Bukan berarti mi tersebut memiliki tombol rahasia untuk menyalakan kebahagiaan. Bisa jadi tubuh sedang mendapatkan energi, lidah sedang menikmati sesuatu, dan pikiran sedang bertemu kembali dengan rasa yang sudah lama dikenalnya.

Makanan mungkin tidak selalu mampu memperbaiki masalah yang membuat mood kita buruk. Namun rasa, aroma, kenangan, kebiasaan, dan orang-orang yang pernah berbagi meja bersama kita dapat membuat makanan terasa lebih besar daripada apa yang tertulis dalam informasi nilai gizinya. Kadang yang membuat hati sedikit lebih ringan memang bukan hanya apa yang kita makan, tetapi seluruh pengalaman yang ikut datang bersama suapan itu. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.